Pentingnya Festival Tantular 2017 di Sidoarjo

foto
Pembukaan Festival Tantular 2017 oleh Sekda Prov Jatim. Foto: Humas Pemprov Jatim.

Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Jawa Timur Akhmad Sukardi membuka secara resmi Festival Tantular 2017 di Museum Empu Tantular di Sidoarjo, Kamis (19/10) lalu. Festival Tantular 2017 yang berlangsung 19 – 22 Oktober 2017 mengangkat tema “Menelusuri keberadaan sejarah Jawa Timur melalui keanekaragaman Wayang”.

Dalam sambutannya, Sukardi seperti dilaporkan Kominfo Jatim, mengatakan, Festival Tantular 2017 yang melibatkan berbagai elemen masyarakat, seniman, pelajar dan mahasiswa mengangkat kebesaran sejarah Jawa Timur melalui keanegaragaman wilayah.

Seni budaya Indonesia khususnya Jawa Timur merupakan karya anak bangsa sungguh luar biasa indahnya khususnya wayang yang merupakan kebanggaan tersendiri bagi masyarakat.

Wayang selain merupakan sebuah tontonan tekaligus sebagai tuntunan yang baik bagi masyarakat pecinta wayang. Wayang yang telah lama ada di Jawa terus dilestarikan agar anak cucu kita bisa melhat kesenian kesenian wayang dengan utuh.

Sebenarnya barang-barang yang disimpan di Museum ini merupakan barang bersejarah yang sekarang sudah tidak ada lagi tetapi telah diangkat oleh Dinas Pariwisata melalui sebuah kegiatan tahunan Festival Tantular 2017 ini.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwsata Jawa Timur Jarianto mengatakan, dimuseum Empu Tantular ini telah tersimpan sepuluh koleksi dari berbagai corak seni dan kebudayaan khususnya dari Jawa Timur. Seperti keleksi wayang kulit yang populer keberadaannya sampai saat ini.

Selain wayang kulit di Museum ini juga dilestarikan berbagai jenis koleksi wayang yang hampir punah keberadaannya dan jarang sekali masyarakat melihat secara langsung pagelarannya.

Diantaranya wayang Beber dari Pacitan, wayang Tengul, wayang Thimplong, wayang Potehi, wayang Krusil, wayang Wong dan wayang Suluh.

Wayang yang merupakan maha karya bangsa Indonesia yang mempunyai kearifan budaya lokal serta memiliki peran penting dari seni budaya.baik seni peran, seni suara, seni musik, seni tutur dan seni sastra serta seni pahat sebagai simbol. Wayang juga dapat digunakan sebagai media dakwan dan media pendidikan.

Sedangkan museum sendiri sebagai literasi penyimpan benda-benda koleksi yang menempatkan museun sebagai pusat informasi strategis kekayaan kebudayaan sejarah bangsa masa lalu. Dengan informasi tersebut masyarakat bisa mengetahui, mempelajari dan memahami budaya sehingga mencintai warisan busaya tersebut. (ist)

Add Comment