Wayang Potehi Semarakkan Festival Tantular 2017

foto
Wayang Potehi dimainkan pada ajang Festival Tantular. Foto: Kominfo Jatim.

Festival Tantular 2017 yang diselenggarakan UPT Museum Negeri Mpu Tantular Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jatim mementaskan wayang Potehi dari Sanggar Gubuk Wayang Kota Mojokerto. Wayang Potehi bukan hanya sekadar seni pertunjukan, tetapi bagi etnik Tionghoa memiliki fungsi sosial serta ritual.

Dalang Wayang Potehi dari Sanggar Gubuk Wayang Kota Mojokerto, Doni Mariyono disela-sela Pementasannya di Festival Tantular dihalaman Museum Mpu Tantular, Sidoarjo, Kamis (19/10) kepada Kominfo Jatim mengatakan, keberadaan wayang potehi di Jawa Timur cukup berkembang seperti didaerah Surabaya, Tulungagung, Jombang dan Kota Mojokerto sendiri.

Pertunjukan wayang Potehi dulunya hanya dipentaskan acara keagamaan di Klenteng-klenteng saja, tetapi sekarang kesenian ini telah dipopulerkan kemasyarakat bisa dipentaskan dihajatan-hajatan kemanten, sunatan dan festival-Festival seperti Festival Tantular 2017 di Sidoarjo.

Di Festival Tantular ini wayang Potehi selain mengadakan pertunjukan juga memberikan sosialisasi kepada para penontonya khususnya para pelajar mulai dari tingkat SD, SMP, SMK, SMA, mahasiswa dan masyarakat pecinta kesenian wayang.

Wayang Potehi berasal dari kata pou (kain), te (kantong) dan hi (wayang). Wayang Potehi adalah wayang boneka yang terbuat dari kain. Sang dalang akan memasukkan tangan mereka ke dalam kain tersebut dan memainkannya layaknya wayang jenis lain. Kesenian ini sudah berumur sekitar 3.000 tahun dan berasal dari negeri Tiongkok.

Menurut sejarah, diperkirakan jenis kesenian ini sudah ada pada masa Dinasti Jin (265-420 Masehi) dan berkembang pada Dinasti Song (960-1279). Wayang Potehi masuk ke Indonesia (dulu Nusantara) melalui orang-orang Tionghoa yang masuk ke Nusantara pada sekitar abad 16 sampai 19.

Data yang berupa catatan awal tentang wayang Potehi di Indonesia, berasal dari seorang Inggris bernama Edmund Scott. Dia pergi ke Banten 2 kali, antara 1602 dan 1625. Ia menyebutkan, pertunjukan sejenis opera, yang diselenggarakan bila jung-jung akan berangkat ke atau bila kembali ke Tiongkok.

Dulunya Wayang Potehi hanya memainkan lakon-lakon yang berasal dari kisah klasik Tiongkok seperti legenda dinasti-dinasti yang ada di Tiongkok, terutama jika dimainkan di kelenteng. Akan tetapi saat ini Wayang Potehi sudah mengambil cerita-cerita di luar kisah klasik seperti novel Se yuu dengan tokohnya Kera Sakti yang tersohor Sun Go Kong.

Pada masa masuknya pertama kali di Nusantara, wayang potehi dimainkan dalam dialek Hokkian. Seiring dengan perkembangan zaman, wayang ini pun kemudian juga dimainkan dalam bahasa Indonesia. Oleh karena itu para penduduk non-Tionghoa pun sekarang bisa menikmati cerita yang dimainkan.

Menariknya, sekarang ternyata lakon-lakon yang kerap dimainkan dalam wayang ini sudah diadaptasi menjadi tokoh-tokoh di dalam ketoprak. Seperti misalnya tokoh Si Jin Kui yang diadopsi menjadi tokoh Joko Sudiro. Penggemar berat ketoprak, mestinya tidak asing dengan tokoh Prabu Lisan Puro yang ternyata diambil dari tokoh Li Si Bin, kaisar kedua Dinasti Tong abat (618-907).

Alat musik Wayang Potehi terdiri atas gembreng/lo, kecer/simbal, cheh dan puah, suling/phin-a, gitar/gueh-khim, rebab/hian-a, tambur/kou, terompet/ai-a dan piak-kou. Alat terakhir ini berbentuk silinder sepanjang 5 sentimeter, mirip kentongan kecil penjual bakmi. (ist)

Add Comment