Wayang Thengul Hibur Pengunjung Festival Tantular

foto
Dalang Ki Kasmani Mujianto tengah menggelar wayang Thengul. Foto: Kominfo Jatim.

Wayang Thengul Bojonegoro mampu menghibur peserta dan pengunjung Festival Tantular 2017 yang diselenggarakan UPT Museum Negeri Mpu Tantular Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Timur di Sidoarjo. Pengenalan wayang ini diharapkan bermanfaat dan menambah pengetahuan tentang kesenian tradisional di Indonesia.

Dalang Wayang Thengul, Ki Kasmani Mujianto dari Kabupaten Bojonegoro di sela-sela pementasan di Festival Tantular di halaman Museum Mpu Tantular Sidoarjo, Jumat (20/10) kepada Kominfo Jatim mengatakan, Wayang Thengul merupakan ikon kesenian tradisi wayang golek asli Kabupaten Bojonegoro dan sudah memperoleh pengakuan nasional. Kesenian ini masih eksis dan tumbuh kembang di Bojonegoro.

Wayang Thengul berasal dari Kata Thengul dalam penuturan masyarakat berasal dari kata “methentheng” dan “methungul” yang artinya karena terbuat dari kayu berbentuk tiga dimensi, maka “dhalang” harus “methentheng” (tenaga ekstra) mengangkat dengan serius agar “methungul” (muncul dan terlihat penonton).

Teng (”methentheng”) dan Ngul (“menthungul ”), sampai pada saat ini di kabupaten Bojonegoro pertunjukan wayang Thengul didukung oleh pelaku aktif oleh 14 orang dalang yang tersebar di wilayah Kapas, Balen, Padangan, Sumberrejo, Kedungadem. Kemudian di Sukosewu, Bubulan, Margomulyo, dan kecamatan kanor yang berjarak ± 30-45 Km dari Kota Bojonegoro.

Pertunjukan wayang Thengul Bojonegoro dipentaskan dalam acara yang berkaitan erat dengan hajat orang banyak seperti ritual upacara tradisional, ruwata dan nadzar serta hajatan..

Wayang Thengul ini berbentuk 3 dimensi, biasanya dimainkan dengan diiringi gamelan pelog/slendro. Wayang Thengul ini memang sudah jarang dipertunjukkan lagi, namun keberadaannya tetap dilestarikan di Bojonegoro.

Para dalang muda belajar secara otodidak dengan cara nyantrik alias membantu sambil mempelajiri setiap pentas pada dalang senior, dan saling mengapresiasi permainan sesama dhalang wayang Thengul.

Wayang Thengul Bojonegoro cenderung menggelar lakon-lakon wayang gedhog, bahkan beberapa lakon terkait dengan Serat Damarwulan yang sering dilakonkan dalam pertunjukan wayang Klithik.

Tradisi pertunjukan wayang Thengul di Bojonegoro nampaknya lebih dekat dengan ceritera Gedhog, Bangun Majapahit yaitu cerita yang bersumber pada babad Majapahit, babad Demak.

Dilihat dari perupaan dan visualisasi karakter tokoh dalam wayang Thengul memiliki kedekatan karakter dengan tipologi yang tertuang dalam wayang Gedhog dan wayang Menak. Sehingga sangat wajar, wayang Thengul lebih dekat dengan lakon wayang Menak, lakon-lakon Panji serta ceritera para wali pada masa kerajaan Demak. (ist)

Add Comment