Situs Sangiran, Dari Jawa Mengungkap Evolusi Dunia

foto
Homo erectus, manusia purba di Sangiran yang ditampilkan di Medan. Foto: Kompas.com/Mei Leandha.

Gustav Heinrich Ralp Von Koenigswald, seorang geolog dan paleontolog Jerman datang ke Sangiran di Kabupaten Sragen dan Karanganyar, Jawa Tengah dan Jawa Timur untuk melakukan survei dan penelitian berdasarkan peta geologis yang dibuat geolog asal Belanda, Jean Louis Chretien van Es.

Saat itu, tahun 1928, Jean bekerja di Jawatan Geologi Hindia Belanda di Bandung. Dia melakukan program pemetaan di Jawa untuk kebutuhan pertanian dan eksplorasi mineral Hindia Belanda yang targetnya selesai dalam 15 tahun.

Wilayah penelitian Jean meliputi 13 lapisan tanah di Jawa, sembilan di antaranya dilengkapi lampiran peta geologi, yaitu Baribis, Patiayam, Sangiran, Kaliuter Baringin, Lembah Sungai Bengawan Solo (Trinil), batas selatan dan utara Pengunungan Kendeng dan Gunung Pandan. Dibantu Gustav, Jean mengumpulkan data fosil spesies yang ditemukan dalam penelitiannya.

Di Sangiran, Gustav melakukan survei di Ngebung dan menemukan jejak-jejak keberadaan manusia purba. Di areal seluas 59,21 kilometer persegi pada 1934, dia kembali menemukan artefak hasil budaya manusia.

Puncaknya pada dua tahun kemudian, dia menemukan delapan individu manusia Homo erectus. Di sinilah dunia mencatat, Situs Sangiran di Sragen dan Karanganyar ditemukan pertama kali oleh Gustav.

“Sampai hari ini, sudah ditemukan 120 individu manusia purba Sangiran, atau 50 persen dari populasi Homo erectus di dunia,” kata Syukron Edi, Kepala Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran kepada Kompas.com di Medan bebeapa waktu lalu.

Dijelaskannya, temuan awal Gustav berupa alat dari batuan kalsedon dan jasper berukuran kecil. Ini menjadi indikasi kuat keberadaan manusia awal di Sangiran. Perkakas batu tersebut punya ukuran dan teknologi pengerjaan yang khas, Gustav menyebutnya sebagai Sangiran Flakes Industry dalam publikasi perdananya.

“Temuan ini langsung menjadi perhatian dunia. Dalam kurun waktu 1936 sampai 1941, sisa-sisa peninggalan manusia purba terus ditemukan. Sangiran menjadi salah satu situs hominid yang penting bagi dunia,” ucap Edi.

Potensi Situs Sangiran dinilai warga dunia penting untuk ilmu pengetahuan. Pada 1977 situs ini ditetapkan sebagai Kawasan Cagar Budaya. Dilanjut pada 1996, Situs Sangiran menjadi salah satu situs warisan dunia oleh UNESCO dengan nomor C593.

Dipaparkan Edi, perbedaan situs Sangiran dengan situs-situs lain adalah, dalam lapisan tanahnya yang berusia 250.000 sampai 2 juta tahun tersimpan rekaman jejak manusia dan lingkungannya.

Kehadiran Homo erectus Sangiran ditemukan di lapisan tanah berusia antara 1,5 hingga 0,9 juta tahun silam. Lapisan tanah ini berupa endapan lempung hitam yang menunjukkan lingkungan rawa.

Ada empat evolusi yang terjadi di Sangiran, pertama adalah evolusi lingkungan tanpa terputus sejak 1,9 sampai 2,4 juta tahun. Masa itu Sangiran adalah laut dalam.

Kemudian pada 1,9 juta – 900.000 tahun, Sangiran sudah berubah dari laut dalam menjadi laut tangkal lalu rawa-rawa. Lalu 900.000 sampai saat ini, menjadi daratan. Evolusi kedua adalah manusia, dimulai sejak Homo erectus tipik hidup pada 800.000 tahun lalu dan Homo erectus progresif yang hidup sekitar 250.000 tahun lalu.

Evolusi ketiga adalah fauna. Terdapat tiga spesies gajah di Sangiran, yaitu mastodon yang hidup 1,5 juta tahun lalu, berevolusi menjadi Stegon trigonocephalus hingga terakhir menjadi Elephas namadicus.

Evolusi terakhir adalah budaya. Arkeolog menemukan alat serpih atau hasil budaya manusia purba berumur 1,2 juta tahun lalu di Situs Dayu.

Tokoh utama cerita Sangiran adalah Homo erectus yang ciri-ciri fisiknya masih primitif, kekar. Saat lingkungan Sangiran berubah menjadi daratan sejak 900.000 tahun lalu, Homo erectus Sangiran pun mengalami perubahan fisik menjadi lebih ramping.

Perubahan fisik menjadi lebih progresif setelah mereka berpindah ke sepanjang aliran Bengawan Solo, di luar daerah Sangiran. “Manusia dan budaya di Situs Sangiran, serta fosil-fosil faunanya yang tersebar di seluruh tingkatan stratigrafi ini yang kita pamerkan di Medan. Ini penting dan sumber ilmu pengetahuan, apalagi bagi para pelajar,” pungkasnya.

Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran melakukan pameran di lima kota besar di Indonesia, mulai dari Kota Medan, Pekanbaru, Jambi, Palembang dan Lampung.

Di Medan, acara dilaksanakan di Focal Point Mall di Jalan Gagak Hitam, Ringroad Medan mulai 18 sampai 22 Oktober 2017. Hasrul Sani dari Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Utara mengatakan, pameran memungkinkan pelajar di Sumatera Utara juga mengenal Sangiran. (kmp)

Add Comment