Koreografer Muda Jatim Berbagi Gagasan

foto
Seorang penari menampilkan tarian solo hasil kreatifitas koreografi. Foto: pepenk26.blogspot.co.id.

Koreografer muda asal berbagai daerah kabupaten/ kota di Jawa Timur berkumpul untuk saling berbagi gagasan dalam Temu Koreografer Muda Jatim 2017 yang berlangsung selama dua hari, pada 30 – 31 Oktober di Surabaya.

“Selama ini koreografer tari bergerak sendiri-sendiri bersama kelompoknya di daerah asalnya masing-masing. Kami harus memberi kesempatan kepada mereka untuk saling bertukar pikiran dan berbagi gagasan,” ujar Ketua Komite Tari Dewan Kesenian Jawa Timur Djoko Prakoso, yang menggagas acara ini, saat dikonfirmasi AntaraNews di Surabaya, pekan lalu.

Dia mengatakan ada sekitar 30 koreografer dari berbagai daerah kabupaten/ kota di Jawa Timur yang diundang dalam Temu Koreografer Muda Jawa Timur 2017.

Sejumlah koreografer tampak berkesempatan menampilkan karyanya selama dua hari penyelenggaraan acara yang berlangsung di Kompleks Taman Budaya Jawa Timur, Jalan Gentengkali Surabaya ini, seperti Sekar Alit dari Surabaya, Winarto dari Malang, dan Rusdi dari Madura.

Selain itu, koreografer lainnya yang turut menampilkan karya tarinya dalam Temu Koreografer Muda Jawa Timur 2017 adalah Makrus Ali, Vita Efilia, dan Yuyun Sulastri asal Malang.

Djoko mengatakan selama ini belum ada kegiatan atau even yang memberi wadah bagi para koreografer di Jawa Timur untuk menampilkan karyanya.

Meski begitu, lanjut dia, para koreografer ini ternyata masih bergeliat di daerah asalnya masing-masing berkat upayanya sendiri-sendiri. “Bahkan saya sampai sekarang tidak bisa menghitung berapa banyak koreografer muda asal Jawa Timur yang tumbuh di daerah,” katanya.

Selama ini, lanjut dia, geliat koreografer di daerah bisa dirasakan karena tiba-tiba secara diam-diam bisa menggelar pentas di luar negeri.

“Seperti koreografer Winarto asal Malang, tiba-tiba menggelar pentas di Singapura, dan itu juga luput dari pemberitaan media. Koreografer asal Jawa Timur lainnya juga banyak yang menggelar pentas di Eropa berkat upayanya sendiri,” ujar dosen Tari di Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta Surabaya ini.

Karenanya, melalui ajang Temu Koreografer Muda Jawa Timur 2017 ini, dia berharap masing-masing koreografer asal berbagai daerah di Jawa Timur itu bisa saling bertukar pikiran dan berbagi gagasan. “Ya, salah satunya agar masing-masing koroegrafer ini bisa saling menunjukkan jalan bagaimana caranya agar bisa tampil di level nasional dan bahkan internasional,” ucapnya. (ant)

Add Comment