Waranggono Tuban, Tak Cukup Hanya Modal Cantik

foto
Para seniman waranggono saat menuju ritual siraman di pemandian Bektiharjo. Foto: Tubankab.go.id/Nanang W.

Menjadi seorang pelaku seni tradisional, seperti waranggono (sinden) memang tak semudah membalikkan kedua telapak tangan. Sebab, untuk bisa survive di kancah seni langen tayub tak cukup bermodal cantik dan bodi yang aduhai, serta punya suara yang merdu

Namun banyak sekali proses ritual yang sudah dipakemkan harus dilalui untuk bisa disebut sebagai waranggono sejati, seperti melakukan prosesi siraman.

Tahun ini sedikitnya ada 85 waranggono yang benar-benar bisa disebut tulen. Pasalnya, mereka telah menjalani prosesi wisuda di pemandian air Bektiharjo, Desa Bektiharjo, Kecamatan Semanding, Tuban, pagi pekan lalu.

Tak hanya para sinden, tetapi prosesi wisuda tersebut juga diikuti oleh 65 orang pramugari (pria pendamping waranggono yang mengenakan blankon) dan 47 pengrawit yang mengiringi prosesi.

Mereka berjalan mengelilingi pemandian air guna melakukan prosesi siraman dengan cara membasahi wajah dan kepalanya satu per satu dengan harapan mampu mempertontonkan kepiawaiannya menjadi waranggono semalam suntuk saat pentas. Selain itu, ritual dilakukan agar para seniman tayub terhindar dari musibah.

“Ini (prosesi siraman) kita lakukan secara sakral agar tidak ada peristiwa yang tidak kita inginkan. Tapi, yang jelas ini untuk mengakrabkan para seniman dan sebagai ajang silaturahmi,” tutur Indra, salah seorang seniman tayub seperti dilaporkan Humas Kab Tuban.

Menurut Kepala Dinas Pariwisata Kebudayaan Pemuda dan Olahraga (Disparbudpora) Kabupaten Tuban Drs Sulistyadi, agenda ini tidak hanya sebagai prosesi yang sakral bagi pegiat langen tayub, namun juga sebagai agenda wisata budaya Kabupaten Tuban.

Tak cukup itu, kata Didit, sapaan akrab Sulistyadi, tujuan dilaksanakannya siraman seniman langen tayub ini, yakni untuk mengembangkan potensi seni budaya Kabupaten Tuban sebagai salah satu aset terpenting dalam menyumbang pendapatan asli daerah.

“Selain itu, untuk meningkatkan kualitas pelaku seniman, khususnya seniman langen tayub dalam menunjang visi dan misi kepariwisataan Kabupaten Tuban. Dan juga sebagai sarana untuk memeriahkan Hari Jadi Tuban (HJT) yang ke-724,” cetus mantan Kepala Bagian Humas dan Protokol Sekretariat Daerah Kabupaten Tuban ini.

Anita Fitria Erawati, salah seorang waranggono muda asal Jatirogo, Tuban ikut prosesi wisuda mengatakan dirinya merasa senang dan lega setelah diwisuda. Sebab, setelah 2 tahun menimba ilmu sebagai waranggono di Tuban semakin membuat dirinya terpacu untuk menjadi seniman langen tayub.

“Setelah diwisuda, rencananya ke depan akan terus meningkatkan kemampuan dan ilmu yang telah dipelajari, serta akan terus belajar dari waranggono senior terkait tembang dan tarinya,” ucap perempuan alumnus SMK Negeri 8 Surakarta, Jawa Tengah, jurusan Seni Karawitan tersebut.

Perempuan 20 tahun yang juga anak Mbarsih, waranggono senior di Kabupaten Tuban tersebut menegaskan, ritual siraman waranggono merupakan wujud regenerasi. Sebab, saat ini sulit mencari dan menemukan perempuan yang mau bergelut dengan profesi sebagai waranggono. (ist)

Add Comment