Orang Jawa Memiliki Banyak Leluhur

foto
Orang Jawa disebut-sebut memiliki banyak leluhur. Foto: ist.

Membahas asal-usul suku-suku di Indonesia selalu menarik, termasuk Jawa. Akibat modernisasi sulit melihat perbedaan antara orang Jawa dan suku lain.

Buku Asal-usul dan Sejarah Orang Jawa mencoba menjawab siapa orang Jawa. Buku ini ditulis Sri Wintala Achmad. Buku setebal 264 halaman ini diterbitkan Araska pada tahun ini dan mendapat nomor ISBN: 978-602-300-386-0.

Didalamnya juga ditulis berbagai budaya Jawa yang sarat falsafah hidup. Hal ini sebagai pijakan dan bekal orang Jawa mengarungi kehidupan.

Banyak pandangan tentang asal-usul orang Jawa. Para sejarawan mengatakan, sejak 3.000 sebelum Kristus hingga era kerajaan-kerajaan Jawa, orang Jawa bukan hanya penduduk lama yang tinggal di tanah Jawa, tetapi juga para pendatang dari suku Lingga, Tiongkok Daratan, Yunan atau Funan.

Ada juga dari Kasi (India Selatan), Dinasti Kusana (India), keturunan Thailand (Siam), Turki, Arab, dan Campa. Dalam perjalanannya, orang-orang Jawa didominasi keturunan Tiongkok dan India.

Pendapat ini bisa dibuktikan secara ilmiah dari tes deoxyribonucleic acid (DNA). Di mana DNA orang Jawa tidak jauh berbeda dengan DNA orang Tiongkok dan India (hal 19-22).

Selain itu, meskipun masih dalam perdebatan, definisi orang Jawa tidak terbatas hanya pada orang yang lahir dan bertempat tinggal di Pulau Jawa, khususnya Provinsi Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Jawa Timur yang senantiasa berbahasa, berbudaya, berfilsafat, dan berkepribadian Jawa.

Seseorang berkelahiran di Jawa atau keturunan orang Jawa, namun tinggal di luar wilayah Jawa tetap dianggap orang Jawa. Asalkan, orang tersebut memiliki kepribadian Jawa, yang senantiasa menerapkan bahasa, budaya, dan filsafat Jawa.

Namun, orang yang sekadar lahir dan bertempat tinggal di wilayah Jawa, tetapi tidak berkepribadian Jawa dianggap bukan orang Jawa sesungguhnya (hal 9).

Bila menilik sejarah, orang-orang Jawa tidak hanya berasal dari satu wilayah, bahkan negara, sehingga menghasilkan salah satu ciri kepribadian orang Jawa bisa berbaur dengan orang-orang dan bangsa lain, tanpa memerhatikan suku, agama, dan ras. Contoh, dari kepribadian ini salah satunya dapat ditemukan di Yogyakarta.

Di wilayah yang dikenal sebagai miniatur Indonesia itu, orang Jawa dapat berbaur dan bersaudara dengan orang-orang dari Jawa Timur, Jawa Barat, Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta, Sumatera, Sulawesi, Kalimantan, dan lain-lain. Bahkan, orang-orang Jawa bisa bergaul dengan para pelancong mancanegara (hal 42).

Budaya Jawa warisan para leluhur, tidak bersifat menggurui. Sebab budaya Jawa mengandung banyak tanda penuh makna yang menggambarkan pandangan hidup. Hal itu dapat ditemukan antara lain dalam kesenian, seperti pertunjukan tari serimpi yang dimainkan empat wanita.

Secara filosofis, jumlah empat penari wanita dalam tarian ini melambangkan empat arah mata angin: utara, timur, selatan, dan barat. Selain itu, juga melambangkan empat unsur alam: api, udara, air, dan tanah (hal 170).

Sajian kuliner pun tak lepas dari simbol yang memberikan pengajaran hidup, salah satu contohnya jajanan pasar, lemper. Lemper hampir selalu ada dalam setiap acara besar, mulai dari resepsi pernikahan, khitanan, hingga pengajian.

Oleh masyarakat Jawa, lemper dimaknai yen dialem atimu aja memper (kalau dipuji, kau jangan sombong). Dengan demikian, lemper memiliki ajaran kepada setiap manusia agar tidak mudah sombong saat dipuji orang lain (Hal 201).

Selain makna yang terkandung dalam kesenian dan kuliner, buku ini menjabarkan bermacam-macam makna di balik kesusastraan, peribahasa, aliran kepercayaan, bahasa, upacara adat, arsitektur, busana adat, dan lain-lain.

Penjelasan dalam buku ini, tidak bermaksud mengkotak-kotakan antara suku Jawa dengan suku lainnya, sebab negara ini dibangun dari persatuan seluruh suku bangsa yang ada di Indonesia, yang saling melengkapi untuk mencapai tujuan yang sama. (Resensi oleh Yatni Setianingsih, lulusan Institut Seni Budaya Indonesia Bandung dan sudah dipublikasikan di Koran Jakarta)

Add Comment