Melestarikan Angklung sebagai Warisan Budaya Dunia

foto
Instruktur mengajari bermain angklung bagi pengunjung di Predator Fun Park, Batu. Foto: Kompas.com/Andi Hartik.

Bunyi angklung menggema mengalun memenuhi kompleks Saung Angklung di Predator Fun Park, Kota Batu, pekan lalu. Suaranya bersahutan, membentuk irama dan menjadi harmoni. Di sela alunan itu, terdengar gelak tawa sejumlah bocah yang sedang memainkannya.

Saat itu, tepat pada hari peringatan angklung, 16 November 2017, sebanyak 120 siswa sekolah dasar (SD) secara bersama-sama memainkannya. Mereka berasal dari SDN Junrejo 1 Kota Batu, SDN Junrejo 2 Kota Batu, SDN Tlekung 1 Kota Batu dan SDN Tlekung 2 Kota Batu.

Seperti dilaporkan Kompas.com, lagu-lagu khas daerah mengiringi suara yang dikeluarkan oleh alat musik yang terbuat dari bambu itu. Seperti lagu Yamko Rambe Yamko asal Papua dan Sue Ora Jamu asal Jawa.

Angklung merupakan alat musik tradisional yang berkembang di masyarakat Sunda. Pada tahun 2010, United Nations Education, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) menetapkan angklung sebagai warisan budaya.

Angklung dimainkan dengan cara digoyang dan digetarkan supaya menghasilkan suara dan dapat membentuk nada. “Mendengar bunyinya senang,” kata Noval Aditya Pratama, salah satu siswa sambil menggetarkan angklung yang ada ditangannya.

Saat ini, sejumlah sekolah di Kota Batu mulai menerapkan kegiatan ekstrakuler yang fokus pada pembelajaran memainkan angklung. Seperti di SDN Junrejo 1 Kota Batu.

Suli Wahyudi, salah satu staf pengajar di sekolah tersebut mengatakan, kesenian angklung sudah menjadi kegiatan ekstrakurikuler di sekolahnya. Apalagi, Pemerintah Kota Batu mendukung pelestarian kesenian angklung di setiap sekolah. “Karena seluruh Kota Batu sudah disubsidi angklung oleh Dinas Pendidikan. Terutama sekolah model,” katanya.

Dalam pembelajaran ekstrakurikuler itu, siswa pertama-tama diperkenalkan dengan angklung. Setelah itu, para siswa diajari cara memainkan alat musik itu. “Agar mencintai budayanya. Karena angklung adalah salah satu pembelajaran karakter yang harus dimiliki oleh siswa,” katanya.

Lain halnya dengan SDN Tlekung 2 Kota Batu. Di sekolah itu belum memiliki kegiatan ekstrakurikuler yang fokus pada seni musik angklung. Minimnya infrastruktur dan alat menjadi kendala pembelajaran musik angklung kepada para siswanya.

“Karena kita, satu pelatih belum ada. Dana untuk membeli angklung juga belum ada,” katanya. Namun demikian, pihaknya menerima pihak dari luar sekolah yang bermaksud memberikan pelajaran bermain angklung untuk para siswanya.

Operasional Manager Predator Fun Park, Samuel Dwi Agus mengungkapkan kepeduliannya terhadap musik angklung. Bahkan, pengelola di lokasi wisata itu sudah menyediakan wahana bagi pengunjung untuk belajar angklung. “Kami memang punya fasilitas khusus untuk belajar angklung. Edukasi gratis di sini. Karena angklung ini kan warisan budaya,” katanya. (kmp)

Add Comment