Filosofi Serba Hitam di Hari Jadi Kabupaten Malang

foto
Tampilan busana adat Malangan yang dikenakan Bupati Malang aat Upacara Hari Jadi Ke-1257 Kabupaten Malang. Foto: Humas for MalangTIMES.

Jangan kaget apabila di Hari Jadi Kabupaten Malang, seluruh aparat sipil negara (ASN) mengenakan busana warna hitam setiap tahunnya. Warna yang identik dan dikesankan sebagai perwakilan suasana muram dan duka oleh sebagian orang.

Padahal, pemaknaan warna hitam yang disimbolisasikan sebagai lambang dari tanah tidak sekedar dilihat dari permukaannya saja.

Tapi, di tingkat filosofinya warna hitam merupakan warna yang diidentikkan dengan lambang kebijaksanaan. Serupa tanah yang tabah dengan kesadaran memangku segala beban yang dianugerahkannya.

“Karena itu busana adat Malangan lebih didominasi warna hitam. Warna kebijaksanaan yang diharapkan menjadi bagian pribadi seluruh masyarakat di Kabupaten Malang,” kata Bupati Malang Dr H Rendra Kresna, yang mengenakan busana adat Malangan warna hitam dengan motif bunga kuning emas yang tersemat dari bagian kerah sampai bawah, Selasa (28/11) setelah acara upacara Hari Jadi Ke-1257 Kabupaten Malang.

Baju adat Malangan berwarna hitam merupakan bagian dari nilai-nilai budaya masa lalu yang kini dipertahankan sampai kini. Sebagaimana diketahui bahwa dalam rentang sejarah Jawa Timur (Jatim), riwayat kesejarahannya didominasi oleh tiga kerajaan besar. Yaitu Kerajaan Kediri, Kerajaan Singosari, dan Kerajaan Majapahit.

Barulah pada era Jawa Baru, masuklah pengaruh budaya dari Kerajaan Mataram Islam dari Jawa Tengah. Proses akulturasi budaya dalam berbusana inilah yang kini terlihat dari busana adat Malangan yang tiap tahun dikenakan oleh seluruh pejabat Pemerintahan Kabupaten Malang.

“Pemakaian baju adat dalam berbagai perayaan ini bukan untuk memperlihatkan strata, tapi malah sebaliknya. Seluruh dari kita menjadi satu dalam warna yang satu. Tidak ada strata dalam kebijaksanaan. Inilah filosofi dari baju adat yang kita kenakan,” terang Rendra kepada Jatimtimes.com.

Selain baju adat warna hitam, baik berkerah maupun tidak, biasanya juga dilengkapi dengan blangkon atau udeng. Di Malang sendiri, udeng khas Malangan adalah udeng kemplengan.

Walaupun tentunya saat ini banyak sekali modifikasi terhadap penutup kepala ini. Tapi, secara umum ada empat filosofis dari udeng Malangan ini. Yaitu gunungan, jeprakan, puteran dan tali wangsul.

Dari berbagai sumber yang ada, gunungan yang terdapat pada bagian belakang udeng melambangkan kekuatan rakyat Jawa yang kukuh bagai gunung dan juga merupakan lambang harapan yang tinggi.

Sedangkan jeprakan yang pada sisi kanan dan kiri memiliki tinggi yang sama, melambangkan keseimbangan pada hidup. “Yang berarti kita harus adil atau seimbang dalam melakukan sesuatu,” ujar Rendra yang juga sangat fasih dalam persoalan budaya jawa ini.

Puteran pada bagian depan melambangkan keterkaitan pada hal-hal yang berkebalikan itu tidak bisa dipisahkan. Misalnya siang-malam, baik-buruk, tua-muda, dan lainnya. Sedangkan tali wangsul adalah lambang orang Jawa yang saat meninggal nanti akan wangsul atau pulang ke Sang Pencipta.

Ikatan yang dihadapkan ke atas juga bermakna harus ingat kepada Tuhan. “Begitu dalamnya nilai filosofi dari sebuah busana masa lalu. Karena itu, kita terus lestarikan dalam kehidupan saat ini,” pungkas Rendra. (sak)

2 thoughts on “Filosofi Serba Hitam di Hari Jadi Kabupaten Malang

  1. Filosofinya sumbernya dari mana?

    Mana udeng kemplengannya?
    Yg ditampilkan kok mlh udheng mirip surabaya n blangkon jogja?

    1. Mas Yusuf yth..
      Berita tersebut berasal dari web Jatimtimes, ada linknya. Kalau mas Yusuf memiliki tulisan ttg udeng atau hal lain terkait budaya Jawa, monggo dikirim kepada kami via email redaksitimurjawa@gmail.com, terima kasih

Add Comment