Anggota Komunitas Batik Surabaya Capai 600 Orang

foto
Batik Madura koleksi Kibas dipamerkan di House of Sampoerna. Foto: Kabarsurabaya.com.

Batik indentik dengan budaya Jawa. Namun sekarang batik sudah mendunia. Tak heran jika batik kini memiliki banyak motif dan warna dan tak jarang juga kini semua daerah memiliki motif batik sendiri, bahkan daerah yang luar Jawa sekalipun.

Perkembangan batik yang kini pesat, membuat industri batik pun menggeliat dan corak batik pun kini ikut mengalami perubahan sesuai dengan tuntutan pasar. Ini membuat batik menjadi minati semua kalangan mulai generasi lawas hingga anak zaman now pun ikut menyukai busana batik.

Batik yang sudah sangat membumi ini, membuat warisan budaya bangsa ini dijamin tak akan hilang oleh kemajuan zaman. Hanya saja perkembangan motif batik yang terus melesat ini membuat motif batik klasik atau motif kuno dikhawatirkan bisa hilang, karena setiap harinya pebatik di tanah air selalu membuat motif batik yang baru sesuai selera pasar.

Kekhawatiran ini ditangkap oleh para pecinta batik di Jawa Timur dengan membuat sebuah perkumpulan dengan nama Komunitas Batik Surabaya (Kibas) yang digawangi oleh Lintu Tulistyantoro, dosen UK Petra dan kini anggotanya sudah lebih dari 600 orang dan berasal dari pebatik, kolektor batik hingga pengguna batik muda se Jawa Timur.

“Dan salah satu kegiatan Kibas ini adalah seperti hari ini dimana kami berkunjung ke rumah kolektor Retno Nagayomi Soedomo. Didalam kunjungan ini kami menelaah batik-batik yang menjadi koleksi tuan rumahnya dan juga batik yang dipakai para anggota yang mengikuti acara kunjungan ini,” ucap Lintu kepada Beritajatim.com, yang diikuti sekitar 30 anggota Kibas, Sabtu (25/11).

Dikatakan, Kibas memang mengkhususkan diri untuk para pecinta batik jawa-timuran saja. Dan dalam kunjungan kali ini lebih banyak menelaah tentang batik gentongan dari Tanjungbhumi Bangkalan, Madura.

Batik gentongan ini tak hanya memiliki motif yang berbeda dari batik yang ada di daerah Madura lainnya, tetapi proses pembuatan batik gentongan yang memakan waktu tahunan ini juga membuat batik ini begitu istimewa bagi pecinta dan kolektor batik sendiri.

“Saya memang punya puluhan batik gentongan, tetapi karena saya juga menyukai batik berbahan dasar sutera, akhirnya saya sengaja memesan batik gentongan dari kain sutera. Proses pembuatannya cukup lama hampir 2 tahun, tetapi hasilnya ternyata jauh lebih bagus,” ungkap Retno Nagayomi Soedomo yang memiliki 3.000 koleksi batik dari berbagai daerah di Indonesia di rumahnya di kawasan Rungkut Surabaya itu.

Bagi wanita yang sudah memiliki cucu ini, motif batik memang menjadi salah satu point utama dalam melengkapi koleksi batiknya. Semakin kuno dan klasiknya corak dan proses pembuatan batik, membuat Retno semakin menyukai karya batik yang ditawarkan.

Tak jarang, Retno mendatangi rumah pembatik lokal demi mendapatkan batik yang klasik. Bagi Retno harga batik jutaan bahkan hingga belasan juta untuk selembar batik klasik akan dikeluarkannya demi melengkapi koleksinya.

Hal yang sama juga diakui oleh Drh Joko Sakti Laksono, anggota Kibas yang rela hunting kain batik kuno ke rumah-rumah warga yang ada disekitar keraton Jogjakarta demi mendapatkan selembar kain batik.

Bahkan saking tertariknya dengan batik, dokter hewan yang juga pelukis pun membuat batik kotemporer sendiri dengan cara membatik dengan menggunakan kuas untuk melukis. “Hasilnya abstrak dan bagus, tapi saya belum berniat menjualnya,” tandasnya. (ist)

Add Comment