‘Sanclar Cinta Budaya Bangsa’, Ajang Apresiasi Murid

foto
Karya seni rupa kreasi murid Santa Clara dipamerkan di Taman Budaya Jatim. Foto: Surya/Achmad Pramudito.

Sebanyak 300an karya seni rupa kreasi murid Sekolah Katolik Santa Clara Surabaya dipamerkan di Galer Prabangkara Taman Budaya Jatim, Kamis (7/12) hingga 16 Desember 2017.

Anak-anak ini masih usia TK, SD, dan SMP. Bahkan ada pula yang playgroup. Tetapi, mereka sudah menghasilkan beragam karya seni yang patut diapresiasi.

Dan untuk pertama kalinya, apresiasi itu digeber Sekolah Katolik Santa Clara Surabaya lewat pemeran seni rupa bertajuk Sanclar Cinta Budaya Bangsa. Sedikitnya 300 karya dari 260 murid dipajang di Galeri Prabangkara Taman Budaya Jawa Timur 7-16 Desember 2017.

Selain karya lukis, Sanclar Cinta Budaya Bangsa ini juga memamerkan kreasi berupa topeng, dan baju dari bahan daur ulang. Yang tak kalah menarik, diantara karya lukis yang dipajang adalah lukisan kaca hasil goresan murid tingkat SMP.

“Saya kerjakan di saat luang pulang sekolah. Itu pun nggak setiap hari. Kalau pas ada ulangan atau ada tugas ya berhenti dilanjutkan nanti kalau sudah selesai ulangan atau selesai mengerjakan tugasnya,” kata Ellyana Handoko saat ditemui Surya.

Murid kelas 8A SMP Santa Clara Surabaya ini mengaku biasa melukis di atas kanvas memakai acrylic. Namun, khusus untuk pameran ini dia mencoba kemampuannya melukis di atas kaca.

“Belum puas. Masih harus belajar lebih keras lagi agar hasilnya bisa lebih bagus,” ujar Ellyana mengenai karya yang dia beri judul ‘Barong’ itu.

Ellyana beruntung, sebab Kamis (7/12) petang, di area gazebo Taman Budaya Jatim itu digelar workshop melukis kaca. Kusdono, pelukis kaca dari Cirebon didatangkan langsung untuk membagikan teknik melukis kaca yang benar.

“Bagi pemula, sebaiknya menggambar di kertas kalkir lebih dulu sebelum mengaplikasikannya ke atas kaca,” ungkap Kusdono sebelum acara workshop.

Sketsa di atas kertas kalkir itu kemudian diletakkan di bawah kaca. “Selanjutnya meng-copy sketsa itu pakai drawing pen di atas kaca sebelum ke proses pewarnaan,” paparnya.

M Hoiri Hidayat, Ketua Pelaksana ‘Sanclar Cinta Budaya Bangsa’, sebagai wadah bagi para siswa yang punya bakat di bidang seni. “Kami melihat banyak murid yang punya potensi, dan ini harus diberi kesempatan untuk memamerkan karyanya sehingga bisa diapresiasi masyarakat luas,” cetusnya kepada Surya.

Pria yang akrab disapa dengan nama Heri ini menekankan, kesempatan yang diberikan pada siswa ini sebagai upaya penyaluran bakat yang dimiliki oleh murid sehingga tidak terpaku pada bidang akademik. “Kegiatan kesenian ini kan untuk penyeimbang otak kiri dan kanan. Agar tidak gampang stres,” ucapnya.

Menurut Heri, perlu waktu lima bulan untuk pameran karya seni rupa tersebut. Murid yang punya bakat diminta mengumpulkan karya terbarunya. “Tak ada paksaan untuk ikut acara ini. Hanya yang menyerahkan karyanya yang kami libatkan dalam pameran kali ini,” urainya.

Pameran seni rupa ini juga dimeriahkan atraksi marching band, pentas Tari Orek-Orek Jawa Tengah, Modern Dance Etnik Nusantara, serta parade busana daur ulang bertema ‘Pesona Indonesia’. Selain itu, juga digelar workshop Melukis Kaca yang dipandu Kusdono dari Cirebon. (pra)

Add Comment