Anugerah Sutasoma untuk Meditasi Kimchi

foto
Tengsoe Tjahjono penerima Anugerah Sutasoma. Foto: Jawapos.

KAU titipkan kepala pada pelukis wajah/petikan gitar mencuri senja abu-abu/di panggung-panggung kecil//Ayo menari, katamu//Ah, aku telah berubah jadi merpati/ di tangan pesulap tampan Kimchi.

Puisi berjudul ‘Hongdae Street’ itu adalah salah satu karya dalam kumpulan puisi Meditasi Kimchi. ”Kebetulan tentang Korea,” ujar Tengsoe Tjahjono, sang empunya karya.

Sudah hampir setahun Tengsoe Tjahjono balik ke tanah air. Dia kembali mengajar sastra di Universitas Negeri Surabaya. Selama tiga tahun, sejak 2014 hingga Januari 2017, Tengsoe mengajar di Korea.

Laki-laki kelahiran Jember itu mengajar di Hankuk University of Foreign Studies. Tepatnya di Department of Malay-Indonesian Studies. Tengsoe mengajar S-1 hingga S-3 ”Jadi dosen tamu. Rata-rata mahasiswa Korea,” katanya kepada Jawapos.

Kebetulan, universitas tersebut mencari tenaga pengajar sastra sekaligus native speaker. Nama Tengsoe pun direkomendasikan untuk bisa mengajar di universitas itu. ”Mereka lalu googling saya. Track record saya dilihat,” katanya.

Korea yang jauh dari kampung halaman Indonesia sempat menjadikan Tengsoe berpikir ulang untuk berangkat. ”Awang-awangen (bimbang, Red),” kenangnya. Namun, dari beberapa nama yang disodorkan, pihak kampus tetap meminta Tengsoe datang.

Tiga tahun berselang, Tengsoe merasa sudah saatnya kembali pulang. Dia memang tercatat sebagai dosen di Unesa. Semakin lama di negeri orang, tentu semakin lama dia meninggalkan tugas.

Menurut Tengsoe, para mahasiswa di Korea punya motivasi tinggi. Terutama untuk belajar tentang Indonesia. Sebab, era saat ini kian terbuka. Tidak tertutup kemungkinan kelak mereka ingin bekerja di Indonesia. ”Saya mengajar tiga kelas. Satu kelas bisa 45 mahasiswa,” jelasnya.

Mengajar di Korea adalah pengalaman tersendiri bagi Tengsoe. Dia bisa melihat dari sudut pandang positif. Mahasiswa Korea bisa mengenal budaya Indonesia. ”Kita juga tidak bisa menghindari untuk tidak bersinggungan dengan bangsa lain,” katanya.

Berinteraksi dengan orang asing, bahasa, budaya, dan alam di Korea membuat Tengsoe juga semakin memperkaya rasa. Di negara itu, dia hadir sebagai orang asing. Dia pun menjadi tahu bagaimana posisi bangsa Indonesia dari kacamata mereka.

Suami Sri Mumpuni itu menyebut, hidup di negeri empat musim tersebut menjadi pengalaman yang asyik. Sebagai orang yang berkecimpung di dunia sastra, Tengsoe juga makin memperkaya rasa dan kosakata. Tak heran, 80 puisi pun lahir.

”Saya lebih banyak menerima pengalaman menarik daripada tidak menarik,” jelasnya. Puisi-puisi itu dikemas dalam buku berjudul Meditasi Kimchi.

Atas karyanya itulah, ayah tiga putri tersebut mendapat penghargaan Anugerah Sutasoma dari Balai Bahasa Jawa Timur. Anugerah itu diterima ketika Bulan Bahasa Oktober 2017.

Meditasi Kimchi berisi pikiran kritis tentang Korea. Baik dari segi alam, sosial, maupun budaya. Di dunia puisi, Tengsoe tidak ingin menulis dengan teks yang biasa digunakan. Dia ingin menciptakan sesuatu yang baru meski tak benar-benar baru. Yakni, lebih naratif dan berkisah.

Sosialisasi Pentigraf
Tengsoe memang dikenal lewat puisi-puisinya. Namun, sebenarnya tak melulu puisi. Dia juga penggagas pentigraf alias cerpen tiga paragraf. Dia kini getol mengenalkan pentigraf kepada masyarakat.

Rangga segera mendorong pintu Coffee Bay. Ditutupnya payungnya lalu diletakkan di tempat yang tersedia di dekat pintu. Hujan mengguyur Seoul sejak tadi malam. Bahkan weather forecast dalam smartphone menunjukkan hujan bakal turun selama seminggu ini. Aneh, musim panas, namun hujan jatuh tiap hari.

Sambil menunggu Americano pesanannya, diambilnya posisi meja paling sudut. Dua orang mahasiswi Korea asyik berbincang. Mungkin saja mereka sedang mengerjakan tugas dari profesornya. Memandang gadis-gadis yang berambut pirang itu ia ingat Riou Seung Hee, gadis yang memikat hatinya. Gadis Korea yang sederhana yang tak tergoda untuk melakukan oplas di Gangnam. Namun, ingatannya bukan pada kebersahajaan Seung Hee. Ia tak bisa melupakan kata-kata Seung Hee seminggu lalu di kantin mahasiswa. ”Rangga, jika kamu bisa meyakinkan aku bahwa Tuhan itu sungguh ada, aku mau jadi pacarmu.” Hujan di luar, namun hujan yang lebih lebat sedang bergemuruh dalam dirinya.

”Sungguh, aku meyakini bahwa Tuhan itu ada. Aku sungguh mengalami penyertaan Tuhan dalam hidupku, tapi bagaimana aku menjelaskan konsep Tuhan kepada Seung Hee,” Rangga terpekur. Dipandangnya lagi gadis berambut pirang itu. Siapa yang membuat gadis itu berambut pirang. Tentu saja cat rambut. Siapa yang membuat cat rambut? Tentu pabrik-pabrik kosmetik. Siapa yang menciptakan kosmetik? Tentu saja orang-orang yang digerakkan oleh pikiran-pikirannya. Siapa yang menggerakkan pikiran orang-orang? Tiba-tiba Rangga berdiri. Bergegas menembus hujan. Menemui Seung Hee.

Karya berjudul Hujan di Luar, Hujan di Dalam itu adalah salah satu karya pentigraf Tengsoe. Konsep pentigraf menjadi menarik karena bentuknya hanya tiga paragraf. Yang tidak bisa menulis pun jadi tertarik. Terutama ketika ada kerinduan dan keinginan menulis, namun tidak mampu menulis panjang. ”Dokter, ibu rumah tangga, pensiunan, semua bisa melakukannya,” ujar penulis kumpulan puisi Kisah Kopi yang Menunda Gerimis Reda itu.

Pada 2016, sudah dua antologi pentigraf yang diluncurkan. Yakni, Pedagang Jambu Biji dari Pnom Penh dan Dari Robot Sempurna sampai Alea Ingin ke Surga. ”Sekarang kami sedang menyiapkan konsep yang sama tahun ini,” katanya.

Tengsoe menyatakan, pentigraf bisa membangun budaya literasi. Mengajak masyarakat untuk membaca dan menulis. Pentigraf, kata dia, merupakan bagian dari cerpen pendek.

Sebenarnya, cerpen pendek lebih dahulu ada. Namun, polanya tidak tiga paragraf. ”Kalau tiga paragraf, memang pola yang saya gulirkan. Setengah prosa, setengah puisi. Masuk kategori flash fiction,” tuturnya.

Tentu saja, unsur-unsur narasi dalam pentigraf tetap ada. Ada alur, tokoh, latar, dan tema. Bersama komunitas digital di media sosial, Tengsoe menggagas Kampung Pentigraf Indonesia. Dalam komunitas itu, mereka belajar dan berkarya bersama. Kopi darat juga dilakukan.

Kini literasi melalui cerpen dan puisi terus berkembang. Tak melulu melalui kertas, tapi juga paperless melalui digital. Menurut dia, generasi muda memiliki semangat literasi tinggi.

Bagi laki-laki kelahiran 3 Oktober 1958 itu, menulis adalah rekreasi paling murah. ”Kalau sedang galau, larinya menulis. Daripada ke luar kota atau ke Korea lebih mahal lagi,” katanya.

Menulis juga membuat jiwa menjadi senang. Gembira. Kadang-kadang bisa jadi terapi jiwa. Itu membuat Tengsoe senang menulis. Dia juga jadi punya banyak teman dan jejaring.

Tengsoe tidak menulis puisi untuk komersial, cari uang, apalagi ketenaran. Dia hanya meyakini kalau puisi baik, puisi itu tidak akan lupa pada tuannya. ”Kalau saya dikenal orang, itu bukan saya. Tapi, puisi saya,” ujarnya. Karena itu, imbuh dia, tulislah puisi yang baik. Supaya puisi tersebut selalu ingat kamu.

Supaya baik, harus cinta dan setia. Ya, dua hal itu menjadi kunci menulis yang baik ala Tengsoe. Setiap saat sebaiknya tidak pernah capek menulis. ”Ini harus dijaga. Menumbuhkan kecintaan,” katanya. Dia mengibaratkan, orang yang sungguh-sungguh cinta tentu tidak akan menyerah untuk mendapatkannya.

Kalaupun ada yang bilang puisi Tengsoe jelek, ujar dia, itu tidak jadi masalah. Dia akan membuat lagi yang lebih baik. ”Kalau memang jelek, ya diperbaiki. Jadi santai. Tidak beban,” jelas laki-laki yang menekuni sastra sejak 1978 itu.

Tengsoe tentu mengajak para mahasiswanya menjadi sastrawan. Sebab, sastra itu pilihan. Namun, jika ada yang menjadi guru kelak, dia ingin mereka menjadi guru yang nyastra. Pun demikian insinyur, pengacara, dokter, dan sebagainya. Dokter yang bisa menulis sastra. ”Menyenangi sastra itu penting untuk menghaluskan rasa. Karena sastra itu ibarat cermin dan jendela,” ujarnya. (jpg)

Add Comment