Nilai-Nilai Religiositas dan Spiritualitas di Nusantara

foto
Salah satu panel relief di Candi Borobudur. Foto: borobudurculturalfeast.com.

Nusantara sejak dulu kala memiliki akar yang kuat terkait keberagaman, termasuk di dalamnya keberagam religiositas atau keyakinan spiritualitas. Keberagaman dalam religiositas dan keyakinan ini sesuatu yang niscaya yang memunculkan karakter religiositas sebagai ciri karakter Indonesia.

Jauh sebelum Sutasoma menyebut bhineka tunggal ika tan hana dharma mangrwa pada era Majapahit, di candi Borobudur telah bergaung mitreka satata yang melukiskan toleransi antarumat beragama di Nusantara.

Religiositas dan keyakinan sipiritualitas yang lahir di bumi Nusantara ini muncul dalam bentuk agama-agama lokal. Agama-agama lokal tersebut merupakan ungkapan kerinduan kepada Sang Pencipta, Sang Awal, semesta, penyadaran akan kefanaan, sekaligus menjadi tuntunan dalam interaksi sosial, baik dengan sesama maupun dengan semesta, mikrokosmos dan makrokosmos.

Nusantara sebagai entitas budaya memiliki kekayaan yang beragam berkait dengan pandangan dan laku spiritual ini. Sungguhpun demikian keberagaman ini mengalir pada muara yang sama yaitu esensi pencarian dan penghayatan atas Tuhan.

Keberagaman ini pula sejak dulu kala sudah menjadi dasar sebagai dialog, perjumpaan agama-agama lokal dengan agama-agama global dari daratan Hindia, Eropa, dan Timur Tengah.

Islam Nusaantra menjadi contoh paling nyata perjumpaan mesra itu yang tak hanya menggugah aspek spiritual namun juga menciptakan nuansa kultural yang berbasis religi.

Perjumpaan mesra ini juga muncul jauh hari sebelum itu, yaitu perjumpaan spiritual Buddha dengan agama-agama lokal, spiritual Hindu dengan religi lokal, agama Nasrani dan Katolik dengan sipritual lokal, bahkan kelak perjumpaan antaragama global itu, misalnya dialog mesra Hindu dengan Buddha, Buddha dengan Katolik (Nasrani), Islam dengan Katolik, Buddha, Hindu, Konghucu.

Mesra dan Dialog
Perjumpaan mesra dan dialog mesra ini dimungkinkan tanpa harus mencampuradukkan karena semua religi memiliki benang merah yang sama. Terkait dengan konsep-konsep spiritual, Nusantara sebagai etintas budaya yang berkarakter religi memiliki kekayaan yang berlimpah ruah.

Laku-laku tersebut bisa dilihat pada, misalnya, Parmalim di Batak, Sunda Wiwitan di Jawa Barat (Sunda), berbagai variasi aliran kejawen dari Jawa (misalnya, Pangestu, Sumarah, Sapta Darma, Samin Sedhulur Sikep, dan lain-lain), Kaharingan di Suku Dayak Kalimantan, Lamaholot di Flores, Marapu di Nusa Tenggara Timur, Ugamo Bangso Batek di suku Batak, Mapurondo di Sulawesi Barat, dan masih banyak lagi.

Semua laku tersebut memiliki dua dimensi, yaitu dimensi rohaniah dan dimensi sosial. Agama-agama lokal di Indonesia merupakan sistem keyakinan sipiritual yang dianut, dihayati, dan dijalankan secara turun-temurun oleh masyarakat Nusantara jauh sebelum datangnya agama-agama global, baik dari Hindia, Eropa, maupun Timur Tengah.

Rahmat Subagya (1981) menyebut sebagai agama asli, yaitu sistem sipiritualitas asli yang tidak bercampur dengan agama-agama lain yang datang ke Nusantara kemudian. Secara sosiologis, konsep agama asli adalah realitas spiritualitas yang ditemukan di tengah-tengah masyarakat, hidup dan berkembang di dalamanya secara individual maupun komunal.

Keyakinan dan spiritulitas tersebut diyakini secara turun-temurun oleh masyarakat Nusantara jauh sebelum agama-agama yang datang kemudian. Kedatangan agama-agama besar lainnya dari India, Eropa dan Timur Tengah semakin menyemarakan kebinekaan religiositas dan spiritualitas Nusantara.

Kemudahan dan kelenturan dalam beradaptasi dengan budaya baru menjadikan tanah Nusantara lahan subur bagi penyerbukan silang budaya. Yudi Latif (2011) menjelaskan ciri khas suku bangsa Nusantara adalah kemampuan dan kesanggupan menerima, mengadopsi, dan menumbuhkan budaya, ideologi, dan religiositas apa pun sejauh dapat dicerna oleh sistem sosial dan nilai-nilai setempat.

Hal ini menunjukan salah satu inklusivitas yang utama pada masyarakat Nusantara adalah kesediaan menerima agama-agama yang datang kemudian karena masyakat Nusantara memiliki karakter religius. Paparan ini menunjukan pula bahwa karakter religius masyarakat Nusantara berkait erat dengan sistem sosial dan nilai-nilai masyarakat Nusantara.

Bagian Penting
Religi menjadi salah satu bagian penting pada suatu komunitas sosial yang berfungsi membentuk sistem ideologi (Leslie dalam Radam; 2001). Religi memiliki dua dimensi, yaitu dimensi individual yang transendental dan dimensi sosial yang horizontal. Setiap religiositas dan sipiritualitas selalu menyakini Zat yang Adi Kodrati. Kehadiran religiositas dan agama-agama pada sebuah komunitas sosial berangkat dari kesadaran bahwa pada kodratnya manusia itu lemah.

Pada situasi semacam itulah mereka secara intuitif mencari sandaran vertikal yang dapat menumbuhkan harapan pertolongan atau perlindungan terhadap kondisi lemah tersebut. Penghayatan atas spiritualitas dan religiositas tertentu bisa memunculkan pengalaman spiritulitas yang berupa pengalaman yang numenous, khusus, dan mysterium tremensdum yang dicitrakan oleh Rudolf Otto dalam buku The Idea of the Holy (dalam Radam; 2001) sebagai pengalaman tentang yang adikodrati, pengalaman yang misterius namun sesuatu yang sakral dan dirindukan.

Dalam penghayatan yang sakral itu mereka menuju dan menemu Zat yang Tertinggi untuk diimani dan dirasakan walau dengan berbagai penyebutan berbeda. Di Jawa digambarkan sebagai tan kena tinaya, tan kena winirasa (sesuatu yang tak bisa dibayangkan, sesuatu yang tak bisa dirasakan) dengan sebutan Hyang Murbeng Dumadi, Hyang Wenang.

Di Sumba Barat disebut sebagai ndapa teki tamo numa ngara (yang tak diberi nama dan tak diberi gelar). Di Tanah Batak disebut sebagai Ompu, Tuan Muala Jadi Nabolon. Di Nias disebut sebagai Lowalangi. Do Bali disebut Hyang Tunggal. Di Sulawesi yang sakral itu disebut sebagai Puang Motoa. Di beberapa suku di Kalimantan disebut sebagai Pahotara, Jubata, atau Mahatala.

Nusantara sebagai bumi yang memiliki karakter religius menyambut kedatangan agama-agama global dari Hindia, Eropa, dan Timur Tengah dengan baik. Terjadi perjumpaan dengan toleransi yang mesra, proses saling belajar dan saling mengisi, yang kesemuanya semakin memperkukuh Nusantara sebagai bangsa yang berkarakter religius. Keberagaman dan semangat pencarian spiritualitas dan religiositas Nusantara tercermin dalam relief-relief Gandawyuha di Candi Borobudur lorong dua, tiga, dan empat yang mencakup 460 panel.

Candi Borobudur
Relief Gandawyuha dianggap puncak nilai-nilai di Candi Borobudur. Relief Gandawyuha merupakan relief-relief yang berdasar pada teks Sutra Gandavyuha pada abad ke-2 Masehi. Disebut juga sebagai Dharmadhatupravesana-parivatra atau Acintavimoksa yang mengisahkan perjalanan Sudhana dalam pengembaraan mencari ilmu pencarian ilmu kebenaran (the ultimate truth).

Pengembaraan Sudhana dalam pencarian ilmu itu melewati 110 kota dan menemui 110 Kalyanamitra atau guru, di antaranya ada 54 guru dengan latar belakang berbeda, antara lain biksu, biksuni, perumah tangga (ratnacuda), pedagang, brahmana, raja (anala), anak laki-laki, anak perempuan, pelaut, perempuan penghibur, tukang emas, dewa-dewi, ratri, dan juga buddhis.

Relief naratif Gandawyuha yang berkisah perjalanan Sudhana ini merefleksikan nilai-nilai religiositas, metta (cinta kasih), karuna (kasih sayang), mudita (simpati), bebas dari belenggu ketamakan, arhat (pemadaman nafsu).

Nilai-nilai yang menonjol adalah semangat belajar tanpa kenal lelah, sikap keterbukaan dalam mencari ilmu dengan berbagai sumber tanpa pandang bulu kedudukan sumber tersebut di masyarakat, dan sikap toleran dalam belajar sipiritualitas.

Sampailah kita pada sebuah kesepakatan bahwa melalui penghikmatan Gandawyuha kita menghayati kembali berbagai ragam religiositas Nusantara untuk merawat Indonesia agar lebih toleran, menghormati pluralisme, dan damai.

Menjadi tugas kita bersama untuk menjadikan nilai-nilai religiositas dan spiritualitas yang tersebar di berbagai wilayah Nusantara ini menjadi milik bersama yang mengukuhkan bangsa Indonesia sebagai bangsa yang berkarakter religius. (ist)

*) Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis (21/12/2017). Esai ini karya Tjahjono Widarmanto, sastrawan dan dosen di STKIP PGRI, Ngawi, Jawa Timur. Penulis menjadi peserta Borobudur Writers & Cultural 2017. Alamat e-mail penulis adalah cahyont@yahoo.co.id.

Add Comment