Kampung Kristen yang Bertahan Sejak Kolonial

foto
Suasana ibadah dulu di gereja GKJW Mojowarno yang di bangun pada 1845. Foto: gkjw.or.id.

Selalu ada sejarah yang mengikuti setiap peradaban. Baik yang terungkap maupun yang kian samar atau hilang dalam pengetahuan manusia. Salah satunya adalah mengenai permukiman umat Kristen khususnya di Jatim.

Permukiman atau pedukuhan umat Kristen ini walaupun minoritas di Jatim, tetapi secara usia cukup terbilang tua. Yaitu sejak zaman penjajahan Belanda dan bertahan sampai sekarang ini.

Pedukuhan Kristen ini kemudian dikenal sebagai sentra Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) dan tercatat berjumlah 41.

Lantas pedukuhan Kristen mana saja yang masih bertahan sampai saat ini di Jatim? MalangTIMES merangkumnya untuk Anda.

Pedukuhan Ngoro, Jombang
Hutan Ngoro dibuka tahun 1827 oleh Coenrad Laurens Coolen, seorang Bos Opzichter (Pengawas Penebangan Kayu) keturunan Rusia dari garis ayah dan ibunya adalah seorang putri keturunan Pangeran Kojaran dari keluarga bangsawan Mataram.

Ngoro sangat subur sehingga mengundang orang banyak untuk datang dan menjadi penggarap di sana. Di kesempatan itulah Coolen mengajak pembantunya dan sekelompok kecil masyarakat, setiap kali akan membuka hutan atau menggarap sawah, untuk meminta berkat Tuhan Yesus.

Ia kemudian mengadakan kebaktian Minggu dan bercerita tentang Tuhan Yesus. Lama kelamaan dia mengajarkan ajaran Kristen dan menghasilkan suatu jemaat Kristen yang khas yang disebutnya sebagai Kristen Jawa.

Pedukuhan Mojowarno, Jombang
Di Mojowarno berdiri Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) yang beraliran Calvinisme pada tanggal 3 Maret 1881. Ceritanya, suatu hari di pertengahan 1826, Midah seorang Madura yang buta huruf, melihat cetakan Injil Markus dalam huruf Jawa dan Arab.

Karena tak mampu membaca, Midah lalu mendatangi Dasimah, salah satu temannya di Wiyung. Dasimah kemudian berinisiatif mencari arti kutipan Injil tersebut. Bertahun-tahun dia bingung hingga pada 1836 ada orang yang memperkenalkannya dengan Coenraad Louren Coolen, seorang sinder blandhong (pengawas penebangan kayu) di daerah Ngoro. Setelah lima tahun mondar-mandir Wiyung-Ngoro, Dasimah akhirnya ingin dibaptis.

Keberadaan jemaat Gereja Mojowarno tak lepas dari peran Coolen yang memiliki dua orang kepercayaan. Namanya Kiai Ditotruno dan Kiai Singotruno. Kiai Ditotruno inilah yang akhirnya membuka hutan Keracil (babat alas) pada 1844 dan mengawali pembangunan Mojowarno.

Desa Peniwen, Kromengan, Malang
Termasuk 41 Desa Kristen yang ada di Jatim. Dikenal dengan sentra Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW), yaitu gereja beraliran Protestan. Dibuka pada tahun 1880 oleh 20 orang yang dipimpin oleh Kiai Sakejus. Kemudian pada 1883, Pendeta Kremer mengunjungi kampung itu untuk mendoakan berdirinya kampung Kristen.

Selain di Desa Peniwen, Kromengan pergerakan ajaran Yesus Kristus ini juga sampai di Desa Suwaru, Sitiarjo, Rowotrate, Tambakasri, Pujiharjo.

Di tahun 1900-an, pergerakan agama Kristen Jawi Wetan menyebar ke Kabupaten Lumajang (Tempursari), Jember (kampung Sidomulyo, Sidoreno, Sidorejo, dan Rejoagung), Banyuwangi, Situbondo (Desa Purwodadi, Purwosari, Tulungrejo, Wonorejo, dan Ranurejo).

Di Jombang muncul pedukuhan kristiani yaitu di Kertorejo dan Bongsorejo. Di Sidoarjo ada dua gereja tua, yakni GKJW Mlaten dan GKJW Luwung.

Para leluhur GKJW juga babat alas di Maron (Blitar), Tumpuk (Tulungagung), Segaran, Sindurejo, Sidorejo, Sambirejo, Tunglur, Jatiwringin, Wonoasri (Kediri), Aditoya (Nganjuk), Ketanggung, dan Wotgalih (Ngawi). (ist)

Add Comment