Sensasi Minum Air Situs yang Murni

foto
Pengunjung minum air Sendang Agung yang diyakini peninggalan Majapahit. Foto: Jawapos/Ghoufur Eka.

Sidoarjo memiliki situs sendang yang layak dikembangkan menjadi tempat wisata. Situs Sendang Agung yang diyakini sebagai peninggalan Kerajaan Majapahit itu ramai dikunjungi wisatawan domestik. Hanya, sarana dan prasarananya masih minim.

Sawah membentang di Kelurahan Urangagung, Kecamatan Sidoarjo, Kabupaten Sidoarjo. Beberapa cekungan air terlihat berjajar di tengah areal persawahan. Semilir angin menggerakkan payet-payet yang tergantung di payung emas di sisi kanan dan kiri pintu masuk pendapa Situs Sendang Agung. Suasana sore ketika itu sangat pas untuk menikmati situs yang diyakini menjadi peninggalan Kerajaan Majapahit tersebut.

Sekilas, situs yang ditemukan pada 2015 itu terlihat tidak istimewa. Pendapanya hanya terbuat dari kayu dan seng yang dicat untuk memberikan kesan rapi. Kolam mata air hanya berpagar kayu. Kecuali situs utama yang ditemukan Sugiantono, juru kunci Sendang Agung, sudah dikelilingi bangunan permanen. Tujuannya, menjaga keamanan.

Pengelola situs Sendang Agung Ahmad Faroq menyatakan, saat ini ada lima titik situs dengan struktur batu bata khas Kerajaan Majapahit di Kelurahan Urangagung. Sumur dengan susunan batu bata kuno itu sudah digali sedalam 1,5 meter. “Prosesnya belum tuntas. Karena masih ada lagi batu bata kuno kalau diteruskan ke bawah,” kata Ahmad seperti dilaporkan Jawa Pos.

Di situs ketiga ditemukan uang koin kuno yang bertulisan Der Indie 1826 yang juga dipertontonkan. Dibalik uang tersebut terdapat gambar lambang Kerajaan Belanda. Di dekatnya, pengunjung bisa menuangkan segelas air sendang dari kendi yang sudah disiapkan. Jawa Pos langsung mencobanya saat bertandang ke sana. Air itu terasa segar dan melegakan.

Saat itu beberapa pemuda dari desa tetangga tampak berkunjung. Mereka meminta izin untuk menciduk sendiri air dari sendang.

David Setya, anggota karang taruna Kelurahan Urangagung yang kala itu berjaga, lantas mempersilakan mereka untuk mengambil air. Meski begitu, David tetap mengawasi tingkah laku para pengunjung.

Suasana pun tetap kondusif. “Soalnya pernah ada yang nekat nyemplung. Dibawa ke rumah langsung sakit dan akhirnya meninggal,” ungkapnya.

Setelah kejadian itu, masyarakat semakin berhati-hati dalam mengelola berkah alam tersebut. Hal itu juga terlihat dari papan tata krama berperilaku yang terpampang di lokasi situs. Salah satunya, tidak merokok di wilayah bibir sendang. “Mas, hati-hati ya rokoknya!” kata David memperingatkan pengunjung.

Beberapa pemuda asal Kecamatan Tarik dan Sukodono pun melipir. “Justru saya ke sini karena dengar keunikan kayak begini,” ucap Dinda Miradea, pengunjung asal Desa Sebani, Tarik.

Beberapa peneliti yang datang ke lokasi sumur Sendang Agung, kata Ahmad, menyatakan bahwa kandungan air di dalamnya memiliki keunikan.

“PH air di atas normal sampai 7,8. Sudah begitu, katanya mudah tersulut api,” paparnya. “Sejak ditemukan situs ini, warga desa bergabung dalam Paguyuban Sendang Agung untuk mengelolanya secara kemasyarakatan,” lanjutnya. (jpg)

Add Comment