Dalang Cilik Ponorogo yang Suka Lagu Nostalgia

foto
Fatikh, Dalang Cilik asal Ponorogo suka lagu nostalgia. Foto: Detik.com/Charolin Pebrianti.

Menjadi dalang merupakan pilihan besar yang dipilih Muhammad Fatikh Assegaf (10). Bagaimana tidak, dengan usia yang masih belia ia malah memilih menjadi dalang dari pada hobi kebanyakan anak seusianya.

Beruntung dukungan dari orang tuanya pun mengalir. Bahkan demi menunjang penampilannya, Fatikh sapaannya, memiliki peralatan dalang komplit. Mulai dari tokoh-tokoh wayang, geber (layar), kotak perkakas wayang dan peralatan gamelan lengkap. Semua peralatan ini didapatkan dari para dalang yang sudah meninggal.

“Awalnya saya ikut kakek melihat wayang, terus tertarik,” tuturnya kepada detikcom saat ditemui di kediamannya, Jalan Brigjen Katamso, Ponorogo, Rabu (24/01).

Fatikh mengaku berlatih dalang sejak kelas 3 SD. Meski baru setahun berlatih dengan rasa percaya diri, dia pernah tampil menjadi dalang saat pementasan HUT Pramuka di Kecamatan Ponorogo.

“Sejak kecil memang suka wayang, salah satu mbah Buyut saya juga dalang. Darah seni memang sudah ada di keluarga kami,” terangnya.

Dalam satu minggu, Fatikh berlatih dua kali yang dipandu langsung seorang dalang. Bahkan dilengkapi juga dengan penabuh gamelan serta penabuh kendang. “Dalangnya bawa dua orang lagi buat nabuh kendang dan gamelan,” jelasnya.

Fatikh yang mengidolakan dalang Ki Anom Suroto ini menerangkan sebelum latihan, dia harus sudah menghafal tokoh-tokoh yang terkenal di pewayangan serta alur ceritanya. Kemudian dipraktekkan saat berlatih. “Untuk cerita mengikuti pewayangan karena ceritanya sudah pakem (aturan),” tegasnya.

Anak pertama dari dua bersaudara pasangan Agus Hartono dan Sri Ikawati, ini pernah memenangkan ajang pemilihan Thole-Gendhuk Ponorogo 2017, karena memiliki talenta sebagai dalang cilik.

Dari pantauan detikcom di rumahnya, tampak Fatikh yang berlatih dalang memiliki ruangan khusus. Berbagai perlengkapan dalang sudah tertata rapi. Mulai dari berbagai macam tokoh wayang kulit lengkap tersedia dalam kotak, geber, kelir, gamelan, cemala dan blencong.

Pelajar SDN Mangkujayan 1 Ponorogo, ini menambahkan meski ia rutin latihan terkadang juga menemui kesulitan saat menghidupkan tokoh agar seperti hidup. Bahkan dia pernah kehabisan suara pasca berlatih selama empat jam. “Karena sudah suka jadi dalang jadi tidak masalah, semua kesulitan bisa teratasi,” imbuhnya.

Saat ditanya siapa idola dalam pewayangan, pelajar kelas 4 SD ini mengaku menyukai Kumbokarno. Baginya, meski Kumbokarno merupakan seorang raksasa dan buruk rupa, namun ia merupakan seorang pahlawan yang rela mati demi negaranya.

Fatikh pun tak pelit bagaimana membedakan antara wayang jahat dan baik. Jika wajahnya dingkluk (menunduk) itu menandakan wayang baik. Namun bila wajah wayang itu dangak (mendongak) maka bisa dipastikan jahat. “Ciri lainnya warna wajah yang biasa itu satria tapi kalau warna wajahnya merah menggambarkan keganasan,” paparnya.

Uniknya, meski memiliki hobi menjadi dalang, Fatikh juga memiliki hobi menarik lainnya. Seperti mendengarkan lagu-lagu nostalgia dan lagu tembang Jawa. “Saya berharap ingin melestarikan budaya yang hampir punah dan tetep kukuh agar dikenal orang,” pungkasnya. (dtc)

Add Comment