Ukiran Khas Sumenep Laris Manis di Mancanegara

foto
Proses pembuatan ukiran di desa Karduluk Sumenep Madura. Foto: VIVA/Veros Afif.

Sumenep merupakan kabupaten di ujung timur Pulau Madura, Jawa Timur, dengan ragam budaya dan tradisi yang unik dan menarik. Tepatnya di Desa Karduluk, salah satu daerah di Kabupaten Sumenep, sekitar 90 persen penduduknya bekerja sebagai perajin ukiran atau pengukir.

Hampir setiap rumah warga mendirikan usaha mebel ukiran yang memproduksi perabotan rumah, seperti lemari, ranjang kayu, dan beberapa hiasan meja ukiran.

Dalam perhelatan ‘Sumenep Mengukir’, puluhan pengukir asal Desa Karduluk unjuk kreativitas berupa karya terbaiknya. Acara tersebut digelar oleh pemerintah Kabupaten Sumenep, untuk mengapresiasi dedikasi para perajin ukiran dari Desa Karduluk, karena telah melestarikan warisan budaya mengukir.

Selain itu, ajang tersebut dalam rangka memperkenalkan ukiran Sumenep, yang tak kalah unik dan indah yang mampu bersaing dengan ukiran dari daerah lain. Hasil kerajinan ukiran Sumenep itu kini memiliki pangsa pasar tak hanya di kota-kota besar dalam negeri, tapi negara Jepang dan Hong Kong juga kerap memesannya.

Menurut salah satu pengukir, Jupri, sejak kecil dirinya telah mengukir, mewarisi tradisi dari orangtua dan sesepuhnya yang telah mengukir sejak zaman Kerajaan Sumenep di masa lampau. Saat ini, Kabupaten Sumenep telah berusia 748 tahun.

Awalnya, Jupri diajari teknik mengukir, sehingga lama-kelamaan berkembang dengan sendirinya. Hal yang sama berlaku juga pada warga pengukir di Desa Karduluk lainnya.

“Ini merupakan warisan tradisi dari keluarga saya, begitu juga dengan warga Karduluk lainnya, jadi secara sejarah warga Desa Karduluk telah ratusan tahun mengukir kayu, yang digunakan sebagai hiasan perabot rumah yang bernilai seni tinggi,” ungkapnya kepada viva.co.id.

Jupri juga menjelaskan bahwa ukiran khas Sumenep ini sangat unik, dengan corak yang lebih berani dan khas dengan motif klasiknya, sehingga banyak diminati oleh pasar dan para kolektor ukiran kayu.

Jumlah permintaan pasar untuk ukiran Sumenep cukup tinggi, biasanya berasal dari Bali, Surabaya, Jakarta, dan Yogyakarta. Ketika ditanya tentang penghasilan yang didapat, Jupri mengaku harganya sangat relatif menyesuaikan dengan tingkat kerumitan motif. Namun, Jupri mengaku sering menerima pesanan dalam jumlah banyak, sehingga penghasilannya pun cukup besar.

Sementara itu, menurut Wakil Bupati Sumenep, Achmad Fauzi, event Sumenep mengukir ini merupakan aksi pelestarian budaya mengukir karena seiring dengan kemajuan teknologi, budaya, dan tradisi juga harus tetap dilestarikan. Hal itu bertujuan untuk merangsang regenerasi pegiat seni ukir Sumenep agar tidak punah.

Event ini sekaligus menjadi ajang untuk memperkenalkan seni ukir khas Sumenep, sehingga dapat menopang nilai pasar dalam jangka panjang yang akan berdampak pada perkembangan perekonomian.

“Warisan budaya harus tetap dilestarikan, karena budaya mengukir di Desa Karduluk memiliki ciri khas tersendiri dan nilai sejarah yang tinggi. Sehingga untuk jangka panjangnya seni ukir Karduluk dapat menguasai pasar seni ukir di Indonesia, dan dapat menumbuhkan perekonomian di kalangan perajin sendiri,” ujar Achmad Fauzi.

Achmad Fauzi juga menuturkan bahwa dirinya pernah beberapa kali bertemu dengan para kolektor seni ukir di Indonesia yang memiliki hasil karya dari Desa Karduluk Sumenep. “Silakan datang langsung ke Sumenep, karena ukiran khas Kardulu Sumenep, hanya bisa didapatkan di Sumenep,” tutur Achmad Fauzi. (ist)

Add Comment