12 Negara Sahabat Belajar Budaya Lokal di Jatim

foto
Gubernur Jatim Soekarwo bersama peserta Lemhannas. Foto: Humas Pemprov Jtm.

Peserta Program Pendidikan Reguler (PPR) Angkatan 57 dan 58 Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) RI, 12 diantaranya peserta dari negara sahabat, belajar budaya lokal di Jawa Timur.

12 peserta dari Australia, Bangladesh, Fiji, Zimbabwe, Malaysia, Nigeria, Pakistan, Arab Saudi, Singapura, Timor Leste, Laos, Sri Lanka itu, mendapat paparan dari Gubernur Jawa Timur Soekarwo tentang kondisi budaya lokal di Jatim.

“Keberadaan budaya lokal di Jawa Timur ini beragam. Ada budaya Arek, Mataraman, Madura, serta Osing,” ujar Gubernur Jatim Soekarwo saat memaparkan kondisi budaya lokal Jawa Timur di Gedung Negara Grahadi, Jalan Gubernur Suryo, awal pekan lalu.

Kata Soekarwo, masing-masing budaya tersebut memiliki tokoh panutan dan pendekatan kultural yang berbeda pada masyarakat.

“Saya kira pendekatan kepada masyarakat di masing-masing budaya ini berbeda. Pendekatan kultur seperti ini menjadi utama dalam melakukan apa saja, khususnya pelaksanaan program pemerintah,” tuturnya, seperti dikutip detikcom.

Gubernur yang akrab disapa Pakde Karwo ini menjelaskan, budaya arek memiliki banyak kaum intelektual dan lingkungannya terdidik. Sebanyak 20 persen masyarakat Jatim menggunakan pendekatan budaya arek, yang berada di Kota Surabaya, Kab. Gresik, Kab. Sidoarjo, Kab. Lamongan, Kab Jombang, Kab/Kota Malang.

Dengan kondisi tersebut, lanjut dia, tokoh masyarakat, tokoh agama dan intelektual menjadi tokoh panutan pada budaya arek. Dalam budaya ini, sebagian besar masyarakat mengembangkan industri dan UMKM.

“Masyarakat dengan budaya arek itu sangat rasional dan terdidik. Mereka bisa menyampaikan apa saja dengan data yang lengkap dan contoh yang jelas,” terangnya.

Untuk budaya Mataraman, kata Gubernur Jatim 2 periode ini, menggunakan birokrasi, tokoh agama dan tokoh masyarakat sebagai pendekatannya. Budaya mataraman berada di daerah seperti Kab. Tuban, Kab/Kota Madiun, Kab Ngawi. Daerahnya agraris, di antaranya menghasilkan tebu dan padi.

“Kultur budaya mataraman seperti di Solo dan Yogya. Ada sebanyak 45 persen masyarakat Jatim menggunakan pendekatan Budaya Mataraman,” jelasnya.

Berbeda dengan budaya mataraman dan arek, terdapat sebanyak 30 persen masyarakat masuk dengan pada budaya Madura. “Peranan ulama sangat penting dalam budaya ini,” ujarnya.

Budaya lokal lainnya yang ada di Jatim, jelasnya, yakni budaya Osing yakni sekitar 5 persen dari populasi masyarakat Jatim.

“Budaya Osing ini dengan birokrasi, tokoh masyarakat, dan tokoh agama sebagai panutannya. Daerah agrarisnya dan terutama menghasilkan padi,” katanya.

Melihat kondisi budaya masyarakat yang ada di Jatim, Pemprov Jatim menggunakan paradigma pembangunan dengan pendekatan partisipatoris. Artinya, masyarakat dilibatkan untuk merumuskan keputusan dan kebjakan.

“Pendekatan partisipatoris inilah yang menyebabkan suasana aman dan nyaman di Jatim. Selain itu, konflik di Jatim juga paling kecil,” jelasnya.

13 Calon peserta Program Pendidikan Reguler (PPR) Angkatan 57 dan 58 Lemhannas RI yang dipimpin Laksamana Pertama Budi Setiawan akan belajar tentang budaya lokal di Jatim. Mereka akan mengunjungi berbagai objek instansi seperti dari pemerintah, militer maupun objek wisata lainnya. (dtc)

Add Comment