Angkat Budaya Wayang Krucil Ereng-Ereng Gunung Katu

foto
Anggota DPR RI, Kresna D Prosakh (kacamata tengah) bersama komunitas di Malang. Foto: Imam Syafii/MalangTIME.

Malang memiliki segudang kesenian dan budaya yang harus dilestarikan agar tak diterpa masuknya budaya modern. Salah satunya budaya Malang yang harus dilestarikan yaitu Wayang Krucil yang berada di Dusun Wiloso, Desa Gondowangi Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang.

Masyarakat sekitar menganggap wayang krucil sebagai budaya yang sakral. Setiap awal bulan syawal masyarakat setempat melaksanakan pagelaran Wayang Krucil yang dilakukan oleh pemiliknya yaitu Mbah Saniyem. Sekarang ini, generasi Mbah Saniyem sudah beralih ke generasi ketujuh.

Wayang Krucil ini merupakan salah satu jenis wayang yang diciptakan oleh Pangeran Pekik dari Surabaya. Sumber lain menyebutkan wayang yang terbuat dari kayu pule ini ciptaan dari para Wali yang ada di Jawa Timur.

Untuk melestarikan budaya Wayang Krucil Malang, para komunitas walkingalam dan malangdjagonganpenak membahas tentang seluk beluk Wayang Krucil dengan tema Wayang Krucil Ereng Ereng Gunung Katu.

Acara yang dihadiri Anggota Komisi II DPR RI, Kresna Dewanata Phrosakh, Kades Gondowangi, Danis Setya Budi Nugroho, dan pengkarya buku Wayang Krucil, Fariza Wahyu Arizal, akhir pekan lalu.

Anggota Komisi II DPR RI, Kresna Dewanata Phrosakh menjelaskan kegiatan ini bertujuan sebagai gerakan untuk mengembalikan budaya agar tidak luntur dengan masuknya budaya modernisasi khususnya di Malang Raya.

“Caranya seperti ini jagongan atau bertatap muka dengan berkomunikasi membahas uri-uri budaya Wayang Krucil yang ada di Dusun Wiloso, Desa Gondowangi, Wagir,” kata Dewa saat ditemui MalangTIMES usai acara tersebut.

Menurutnya, perkembangan era digitalisasi sekarang ini adanya media sosial akan terpecah komunikasi melalui tatap muka secara langsung. Melalui jagongan ini akan memberikan mamfaat bagi masyarakat salah satunya mengangkat budaya Wayang Krucil melalui visual dari komunitas walkingalam.

“Dari komunitas fotografi ini akan mendokumentasikan budaya Wayang Krucil agar tidak didokumentasikan oleh orang yang tak bertanggungjawab. Jadi orang Malang sendiri yang harus mendokumentasikannya, wayang ini warisan budaya yang harus dilestarikan kepada generasi penerus,” tegasnya.

Dewa menyampaikan melalui acara ini semangat anak muda yang hadir sangat antusias, minimal mereka mau mendengarakan dan mengugemi budaya yang ada di Malang Raya.

“Kami berpesan pemerintah daerah harus bertanggungjawab untuk melestarikan budaya. Disambud harus memproteksi dan berkomunikasi dengan pihak Desa Gondonwangi mengangkat budaya Wayang Krucil,” ucapnya.

Hal senada diungkapkan, Kades Gondowangi, Danis Setya Budi Nugroho menyampaikan keberadaan Wayang Krucil di Dusun Wiloso sudah ada mulai tahun 800 an oleh Mbah Saniyem pemilik Wayang Krucil.

“Jadi sekarang generasi pemilik Wayang Krucil sudah turun temurun ke generasi ketujuh. Sempat vakum 2006 lalu, akhirnya kami menggerakkan masyarakat disana untuk menghidupkan kembali budaya wayang itu,” paparnya.

Lanjut Danis lambat laun budaya Wayang Krucil akhirnya kembali bangkit dan antusias masyarakat untuk menguri-uri budaya dalam pembangunan Desa Gondowangi semakin membaik.

“Jadi mulai kegotongroyongan, saling menghormati dan kritis masyarakat akan budaya itu sangat kental,” paparnya.

“Dulunya basis wayang ini berada di wilayah Wilayoso di area Gunung Katu adalah tempat hiburan terakhir sebekum para raja bertapa di Gunung Katu. Kalau umurnya Wayang Krucil saat ini hampir 300 tahunan,” ujarnya.

Sementara itu, Pengkarya Buku Wayang Krucil, Fariza Wahyu Arizal menambahkan buku ini nantinya akan menjadi trigger untuk masyarakat untuj mengangkat budaya di Malang.

“Banyak budaya yang masih belum terangkat di Malang, dengan melakukan penelitian seperti ini, kami akan lebih kaya mengetahui budaya yang ada di Malang Raya. Semoga buku ini nantinya bermanfaat bagi masyarakat luas tentang budaya Malang,” ujarnya. (jts)

Add Comment