Kemeriahan Bolo Srewu Jaranan Barong Jember

foto
Performing Art Bolo Srewu Jaranan Barong di Pantai Payangan. Foto: Obsessionnews.com.

Puncak pertunjukan Bolo Srewu Jaranan Barong II (BSJB) di Pantai Panyangan (Teluk Love) Ambulu Jember pekan lalu, berjalan meriah.

Pertunjukan yang digelar Dewan Kesenian Jember (DKJ) dan Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (Dispemasdes) ini merupakan ajang kreativitas dan silaturahmi bagi para seniman jaranan, ta’-buta’an, barongsai, can-macanan kaduk, reog dan para seniman dari beberapa kabupaten di Jawa Timur.

Kesenian Jaranan dipilih sebagai kesenian ikonik yang jadi sentral dalam gelaran, karena kesenian ini merupakan salah satu kesenian tertua di Jatim dan Indonesia”, demikian disampaikan Ketua DKJ Jember, Eko Suwargono seperti dikutip Majalah Gempur.

“Sejumlah 750 penari yang mewarnai pagelaran Seni Budaya Bolo Srewu jaranan barong II dari berbagai daerah yang ada di Jawa Timur diantaranya dari Kabupaten Pasuruan, Malang, Banyuwangi dan dari Surabaya serta daerah lainya.” kata Eko Suwargono.

Hal senada disampaikan Sekretaris DKJ Iwan Kusuma bahwa Jaranan adalah kesenian yang bisa diterima oleh komunitas Jawa, Madura dan etnis-etnis lain.

Tidak salah jika kesenian jaranan dalam berragam bentuknya yang menjadi idola ini merupakan salah satu pembentuk budaya lokal Jawa Timur.

“Kesenian ini bisa memberikan warna dan kekuatan spiritual serta memperkuat lokalitas dan kedirian masyarakat di tengah-tengah proyek modernitas dan globalisasi dewasa ini,” kata pria yang akrab disapa Cak Endut ini.

BSJB menjadi bagian dari Festival Berdesa, sebuah event besar dari bermacam rangkaian aktivitas kultural untuk mengembangkan dan memberdayakan kehidupan masyarakat desa. Festival Berdesa ini berimplikasi pada konsep acara yang semakin beragam dan meriah serta pelibatan banyak seniman dan warga.

Untuk itu acara ini digelar, disampaing untuk memberdayakan masyarakat desa juga untuk mempromosikan tempat wisata d Jember. “Guna mempopulerkan tempat wisata dan melestarikan budaya kesenian tradisional, dengan konsep hiburan rakyat dengan kolosal,” pungkasnya. (ist)

Add Comment