Padi, Kasta Tertinggi Tanaman yang Disuburkan Mitos

foto
Padi Disuburkan Berbagai Mitos. Foto: Nasionalisme.co.

Padi memiliki strata atau kelas tersendiri dalam dunia pertanian. Khususnya di pulau Jawa sebagai daerah agraris dan dipenuhi dengan berbagai mitos yang mengiringinya.

Mitos mengenai padi, tumbuh terus melintasi zaman. Baik yang masih terpelihara dengan berbagai ritual dalam masyarakat, maupun yang kini mengendap di alam bawah sadar.

Tak pelak, setiap panen padi datang, misalnya di Kabupaten Malang, kosmos mitos mengenai padin masih kerap menyeruak. Tertampilkan di depan khalayak umum, seperti yang masih dilakukan oleh para petani di Desa Karangkates, Sumberpucung. Melalui ritual kesenian lokal, baik tarian maupun berbagai sesajian untuk para leluhur desa.

Pun, dalam panen padi, para pejabat teras Pemerintah Kabupaten Malang kerap turun ke sawah bersama para petani. Seperti yang terlihat di Desa Jatikerto, Kromengan pekan lalu. Seperti dirilis JatimTimes.com, Bupati Malang Dr H Rendra Kresna beserta jajaran terkait seperti Kepala Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan (DTPHP) Nasri Abdul Wahid dan Isri Panglima TNI Nanny Hadi Tjahjanto.

Turun sawah para pejabat teras, selain sebagai bentuk kepedulian dalam mewujudkan kedaulatan pangan yang disandangkan di bahu para petani. Tidak lepas juga untuk menguatkan mitologi dalam kehidupan petani dalam memperlakukan profesinya.

“Kebijakan lokal wajib terus dipelihara. Karena di dalamnya selalu ada nilai-nilai positif yang tidak lekang oleh waktu,” kata Rendra Kresna.

Mitologi adalah salah satu warisan leluhur yang menjadi benteng kebijakan saat ini. Dalam konteks padi, mitos mengenai Dewi Sri sang penguasa padi sangat melegenda pada abad XV-XVI sampai saat ini.

Lantas siapakah Dewi Sri yang dijadikan dewi penguasa padi sejak zaman dahulu sampai kini. Banyak versi mengenai mitos Dewi Sri yang dipercaya membawa kesuburan bagi para petani padi.

Dari kitab Tantu Panggelaran (abad XV-XVI) diceritakan hubungan Dewi Sri dengan padi. Pada kitab tersebut, Dewi Sri memiliki burung yang dari temboloknya lahir berbagai biji-bijian atau tumbuh-tumbuhan serupa padi.

Kitab inilah yang juga akhirnya ditafsirkan dalam masyarakat Jawa kuno melalui berbagai bentuk bangunan dengan simbol Dewi Sri. Terutama pada lumbung-lumbung hasil pertanian.

Selain itu, mitos Dewi Sri semakin melegenda karena banyaknya ditemukan arca atau patung yang dianggap dirinya sedang memegang tangkai padi.

Mitos Dewi Sri sebagai penguasa padi, dikentalkan dengan adanya Candi Barong yang terletak di selatan Candi Prambanan dan tidak jauh dari Kraton Baka. Candi Barong merupakan candi tempat pemujaan bagi Dewa Wisnu dan sakti-nya atau isterinya yang bernama Sri.

Di candi Barong, Dewi Sri dalam bentuk arca perunggu digambarkan duduk di atas padmasana dengan sikap sattwaparyangkasana. Tangan kanan bersikap waradahastamudra, sedangkan tangan kiri memegang setangkai padi. Keberadaan unsur padi inilah yang kemungkinan menyebabkan Dewi Sri didudukkan sebagai Dewi Padi.

Dewi penguasa padi ini memiliki beberapa nama yang identik dengan unsur keberuntungan dan kemakmuran. Misalnya, Ardhra yang berarti selalu memberi kesan segar dan hidup seperti tanaman. Atau Kairisin yang berarti selalu melimpahi dengan pupuk (kandang).

Sebutan lain Dewi Sri adalah Bhuti artinya yang selalu diharapkan untuk melimpahkan kemakmuran, serta Jwalantin, yang selalu bersinar terang. Berbagai hal tersebut yang membuat Dewi Sri kemudian dipuja di kalangan masyarakat agraris. Tidak ketinggalan pula di kalangan masyarakat Jawa.

Versi lain Dewi Sri yang cukup terkenal adalah mengenai kisah antara Batara Guru dengan seorang perempuan bernama Ken Tisnawati. Konon, dalam cerita tersebut, Batara Guru jatuh cinta kepada Ken Tisnawati. Sayangnya, Ken Tisnawati menolaknya dengan cara halus yaitu dengan mengajukan syarat yang cukup berat.

Batara Guru yang marah karena cintanya bertepuk sebelah tangan, akhirnya mengutus orang suruhannya untuk mengejar Ken Tisnawati ke mana pun dia pergi. Ken Tisnawati pun merasa tidak tenang hidupnya, sehingga akhirnya dia meninggal.

Dari kuburannya inilah berbagai jenis tanaman tumbuh dan keluar. Padi keluar dari tubuhnya, kelapa dari kepalanya, jagung dari giginya, pisang dari telapak tangannya. (ist)

Add Comment