Pemandian Dewi Sri, Diyakini Peninggalan Mataram Kuno

foto
Pemandian Dewi Sri, Diyakini Peninggalan Mataram Kuno di Magetan. Foto: Detikcom/Sugeng Harianto.

Magetan ternyata juga menyimpan sebuah situs sejarah peninggalan Kerajaan Mataram Kuno. Namanya Petirtaan Dewi Sri. Lokasinya terletak di Desa Simbatan, Kecamatan Nguntoronadi, Magetan atau sekitar 20 km di timur pusat kota Magetan.

“Lokasi ini disebut petirtaan atau pemandian Dewi Sri. Karena dipercaya sebagai tempat mandi zaman kerajaan dahulu oleh tokoh wanita yang memberi kemakmuran yaitu Dewi Sri,” jelas penjaga Petirtaan Dewi Sri, Sumiran (45) kepada detikcom, pekan lalu. Dalam mitologi masyarakat Hindu-Jawa, Dewi Sri dianggap sebagai tokoh perempuan yang memberikan sumber kehidupan dan kemakmuran.

Sumiran menambahkan, diperkirakan situs ini merupakan jejak peninggalan Kerajaan Mataram Hindu atau Mataram kuno. Terbukti dari tulisan yang ditemukan di atap miniatur salah satu artefak berbentuk rumah yang bertuliskan angka tahun 905 Saka atau 983 Masehi dan 917 Saka atau 995 Masehi.

Lantas dimana tanda-tanda adanya Dewi Sri di pemandian ini? Jadi di dalam kolam yang berada di tengah area wisata, terdapat sebuah bilik utama di mana berdiri arca yang diyakini warga sebagai Dewi Sri. Namun kolam ini terendam air. Menurut Sumiran, semua miniatur patung Dewi Sri berada di dalam kolam seluas 400 meter persegi dan tinggi 6 meter tersebut.

Untuk turun ke bawah, hanya ada satu jalan berupa tangga selebar 1,5 meter di sebelah tengah sisi timur kolam. Dari 15 anak tangga yang ada itu pun hanya terlihat 3 anak tangga, sisanya tertutup air. Anak tangga ini terbuat dari tumpukan batu bata berukuran panjang 38 cm, lebar 22 cm dan tebal 8 cm.

“Sayang ini pemandangan yang paling indah untuk dinikmati justru tidak bisa dilihat, tertutup air. Hanya seperti melihat kolam saja ini. Sayang sekali, seharusnya ini dibuatkan saluran pembuangan air,” ungkap pengunjung asal Madiun, Wahyu (35) di lokasi.

Tidak hanya pemandian, obyek wisata yang menempati area seluas 1.400 meter persegi ini juga memiliki daya tarik seperti artefak berbahan batu bata berupa miniatur lumbung sebanyak tujuh buah, fragmen arca tujuh buah, miniatur rumah dua buah, dan sebuah belik atau sumber sumur kuno.

Sumiran mengatakan Petirtaan Dewi Sri Magetan telah terdaftar sebagai situs yang dilestarikan oleh Balai Pelestari Cagar Budaya (BPCB) Trowulan Jawa Timur sejak tahun 1999. “Situs Petirtaan Dewi Sri sudah terdaftar di BPCB Trowulan Mojokerto, sehingga banyak juga pelajar yang berkunjung karena mendapat tugas di sekolah,” ungkapnya.

Selain pelajar, lokasi situs Petirtaan Dewi Sri ini juga dibuka untuk umum, bahkan tanpa dipungut biaya alias gratis. Pengunjung bisa melihat sebagian benda purbakala yang terlepas dari tempat aslinya di sisi timur kolam, dekat pintu masuk lokasi. (dtc)

Add Comment