Angkat Derajat Tempe Hingga Mendunia

foto
Oleh-oleh tempe goreng kering. Foto: TEMPO/Gilang M Ramdani.

Tempe sebagai salah satu produk olahan kedelai paling membumi di Indonesia ternyata telah dikenal di lebih dari 20 negara dunia. Sayang, di Indonesia sendiri memandang tempe sebagai produk kelas menengah ke bawah. Baik petani kedelai maupun konsumen tempe justru menjadi representasi kelompok masyarakat tidak mampu.

Keyakinan tersebut sedang berusaha di ubah Forum Tempe Indonesia (FTI) melalui Lokakarya Internasional tentang Tempe yang diadakan Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UKWMS) di Hotel Shangri-La, pekan lalu. Dalam forum tersebut, tempe diusulkan sebagai warisan budaya dunia.

“Sudah layak menjadi warisan dunia, karena konsumennya tidak hanya orang Indonesia tapi juga di dunia. Meski di Indonesia sendiri tidak terlalu memperhatikan nasib tempe maupun kedelai,” tutur pemerhati budaya UKWMS Prof Agustinus Ngadiman usai menjadi narasumber lokakarya tersebut, dikutip Bhirawa.co.id.

Ngadiman mengungkapkan, tanah Indonesia sangat subur untuk ditanam kedelai. Dan tempe bisa dikembangkan menjadi produk yang lebih menarik dan menjual. Tempe dan petani kedelai, kata dia, seolah justru hanya milik orang yang tidak mampu secara ekonomi.

Padahal dari segi budaya, Indonesia, khususnya masyarakat Jawa tidak bisa lepas dari tempe. “Yang masih sangat kuat saat ini di Jogja dan Solo. Untuk Jawa Timur tempe sebagai simbol persatuan yang dibungkus daun masih kuat di wilayah mataraman,” terang dia.

Selain kurang diperhatikan, pemerintah diakuinya belum memiliki kemauan yang tinggi terhadap masa depan tempe. Hal ini dapat dilihat dari nasib kedelai yang justru impor dari luar negeri. “Tanah kita yang subur habis untuk dibangun rumah-rumah. Makanya, sampai sekarang tanah warisan saya itu masih saya tanami kedelai,” ungkap dia.

Sementara itu, Ketua FTI Prof Made Astawan di tempat yang sama mengaku tengah menyiapkan dokumen-dokumen untuk mengajukan tempe sebagai warisan budaya tak benda (intangible cultural heritage of humanity) ke UNESCO. Salah satu bukti dokumen kuat adalah munculnya kata-kata tempe di Serat Centhini. Hal itu menunjukkan bahwa tempe telah dikenal sejak abad ke 16.

Made mengatakan, Serat Centhini terbit tahun 1815. Namun, manuskrip tersebut mendeskripsikan kehidupan tahun 1600. Dengan begitu, tempe diyakini sudah dikenal dan dikonsumsi masyarakat Jawa ratusan tahun lalu.

“Kita punya bukti yang kuat yakni Serat Centhini. Itu tidak bisa dimungkiri. Katakanlah Negara-negara lain ikut mengajukan, mereka akan kekurangan bukti,” katanya.

Dia menjelaskan, selain bukti dokumen, syarat lain yang dibutuhkan untuk maju ke UNESCO ialah pengakuan dari Pemerintah Indonesia bahwa tempe merupakan warisan budaya nasional. Pengakuan itu sudah diberikan pada Oktober 2017 lalu.

“Bayangkan, kita sudah makan tempe sejak ratusan tahun yang lalu, tapi baru saja ditetapkan pemerintah sebagai warisan budaya,” ujar guru besar bidang pangan, gizi, dan kesehatan di Institut Pertanian Bogor (IPB) ini.

Made mengungkapkan, sebelumnya memang belum ada yang mengajukan tempe sebagai warisan budaya nasional. Pengajuan FTI ke pemerintah tak lepas dari persyaratan untuk bisa maju ke UNESCO.

Tempe harus diterima dulu di Indonesia, setelah itu diajukan ke UNESCO. Lokakarya ini, lanjut dia, merupakan bentuk selebrasi atas pengakuan Pemerintah Indonesia. “Mudah-mudahan tahun 2021 bisa maju ke UNESCO untuk mendapat pengakuan,” terangnya.

Menurut Made, keuntungan dari pengakuan UNESCO atas tempe diharapkan seperti pada batik. Batik ditetapkan UNESCO sebagai warisan budaya tahun 2009. Setelah itu semua orang memakai batik, baik tua dan muda.

“Sebelum itu orang pakai batik saat kondangan. Sekarang semua pakai, meski bawahan jin atas batik, ya tidak masalah. Nah, diharapkan tempe juga seperti itu. Tempe dikonsumsi semua kalangan, bisa di restoran, hotel, untuk ekspor, dan lain-lain,” ungkapnya.

Apalagi, lanjut dia, tempe bukan sembarang pangan. Di balik kesederhanaannya ada manfaat yang kaya bagi tubuh manusia bila dikonsumsi.

Meski demikian, Made tetap mengingatkan kepada perajin tempe untuk berbenah dalam teknik pembuatan. Apalagi, dewasa ini tempe sudah diterima di lebih 20 negara.

“Kedepannya, supaya kita bisa ikut terlibat percaturan tempe dunia, mau tidak mau, sebagai negara yang punya budaya itu harus lebih memperbaiki cara produksi,” ungkapnya.

Diakuinya, sejumlah produsen tempe di Indonesia telah menerapkan Standar Nasional Indonesia (SNI) dan standar mutu tempe internasional (codex). Codex tersebut, kata dia, lebih banyak mengadopsi ke SNI.

“Membuat tempe itu gampang, tapi yang higienis dan supaya memenuhi standar itu yang sulit. Terutama menyangkut kebiasaan membuat tempe,” pungkas dia. (ist)

Add Comment