Batu Purba Bentuk Tak Lazim di Kediri

foto
Batu oktagonal yang ditemukan di Semanding, Kecamatan Pagu, Kediri. Foto: Kompas.com/M.Agus Fauzul Hakim.

Benda purbakala yang diduga struktur candi ditemukan di Kediri, Jawa Timur. Temuan tersebut dianggap tidak lazim karena benda itu bentuknya oktagonal atau segi delapan. Benda tersebut terbuat dari batu andesit dengan lubang pada bagian tengahnya.

Ada 2 batu dengan model sejenis namun berbeda ukuran. Masing-masing batu itu mempunyai ukuran tinggi 53 centimeter, lebar bawah 44 centimeter, lebar atas 35 centimeter, diameter lubang bawah 21 centimeter, kedalaman lubang bawah 12 centimeter, serta diameter lubang atas 13 centimeter.

Sedangkan batu ke dua berukuran tinggi 57 centimeter, lebar bawah 35 centimeter, lebar atas 33 centimeter, kedalaman lubang bawah 13 centimeter, diameter lubang atas 11 centimeter, kedalaman lubang atas 10 centimeter, serta diameter lubang bawah 13 cenimeter.

Kepala Seksi Museum dan Purbakala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Kediri, Eko Priatna mengaku baru pertama kalinya mengetahui adanya benda berbentuk oktagonal itu meski sudah kerapkali di Kediri ditemukan benda purbakala. “Kalau untuk jenis purbakala bentuk oktagon ini saya belum ada referensi,” ujar Eko Priatna saat ditemui Kompas.com, awal pekan.

Lebih jauh Eko mengatakan, pihaknya sudah berupaya mengontak beberapa koleganya yang berkecimpung di bidang arkeologi dan kepurbakalaan, namun juga belum ada kesamaan identifikasi. Beberapa menurutnya berspekulasi sebagai batu umpak penyangga tiang hingga doorpel atau ambang pintu.

Oleh sebab itu, dia menunggu tim dari Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Mojokerto untuk penelitian lebih lanjut. Penelitian itu diharapkan dapat mengungkap fungsi dan latar belakang fase sejarah penggunaan benda tersebut. “Tim BPCB besok datang ke Kediri,” imbuhnya.

Batu berbentuk oktagonal itu ditemukan bersama beberapa benda purbakala lainnya. Diantaranya batu balok andesit berelief dengan ukuran panjang 80 centimeter x lebar 42 centimeter serta tebal 21 centimeter.

Penemuan itu terjadi saat para pekerja melakukan pengerukan tanah sawah seluas sekitar 1 hektar milik Zainudin, warga setempat. Penggalian yang berlangsung dalam sebulan ini bukan bagian dari ekskavasi benda purbakala, melainkan keperluan pengambilan tanah bahan bangunan.

Ironisnya, penggalian itu menyebabkan batu bata kuno menjadi banyak yang rusak, bahkan serpihannya berserakan. Ini diduga karena ketidaktahuan mereka atas penanganan benda purbakala itu.

Pengungkapan benda tersebut, menurut Eko, memerlukan penelitian lebih lanjut yang dilakukan oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Mojokerto. Dari penelitian itu juga nantinya akan turun rekomendasi-rekomendasi yang diperlukan terhadap kawasan temuan dan benda purbakala itu.

Di Kediri, terutama di Kecamatan Pagu dan Kecamatan Gurah, kerap ditemukan penemuan benda purbakala. Itu tidak lepas dari sejarah panjang Kediri yang dikenal sebagai bekas wilayah kerajaan tua. Hingga saat ini, hampir setiap tahun, ada eskavasi yang dilakukan oleh para ahli untuk meneliti situs-situs tersebut.

Hanya saja, kalau dilihat dari konteks lokasi, lanjut dia, kebetulan di wilayah Kecamatan Pagu dan Kecamatan Gurah kerap ditemukan benda purbakala. Di wilayah itu pula terdapat dua situs besar yang telah ditemukan lebih dulu, yaitu situs Adan-adan dan Tondowongso.

Situs Tondowongso yang berisi struktur bangunan suci berjarak sekitar 10 kilometer dari lokasi penemuan benda purbakala itu. Situs tersebut terhampar luas sekitar 12 kilometer yang diyakini sebagai kompleks permukiman Hindu kuno yang diduga pada masa kekuasaan Sindok (929 M) hingga Kertajaya (1222 M).

Situs Tondowongso yang ditemukan pada 2006 dan situs Adan-adan yang diekskavasi pada 2016 hingga saat ini masih kerap dijadikan obyek penelitian oleh para ahli. “Sehingga, diduga kuat temuan tersebut berkaitan dengan struktur dua situs besar itu,” tambah Eko. (kmp)

Add Comment