Berjuluk Kota Keris, Sumenep Miliki 640 Empu

foto
Spot Sumenep sebagai Kota Keris. Foto: MediaMadura.com.

Julukan untuk Kabupaten Sumenep kian bertambah banyak, mulai dari Kota Batik, Kota Ukir, Kota Sumekar sampai yang terbaru Kota Keris. Julukan yang terakhir tentu tidak lepas dari diresmikannya Desa Aeng Tong-Tong, Kecamatan Saronggi sebagai Desa Keris beberapa waktu lalu.

Konon, di Kabupaten memiliki empu atau pengrajin keris sebanyak 640 orang dan Sumenep juga udah mendapat pengakuan dari UNESCO sebagai daerah pemilik pengrajin keris terbanyak di dunia.

“Dari jumlah tersebut, memang paling banyak berada di Desa Aeng Tong-Tong Saronggi ini,” terang Bupati Sumenep, Busyro Karim, Selasa (27/3), dikutip MediaMadura.com.

Menurut Busyro, hal itu patut dibanggakan, namun tantangan bagaimana semua pihak mampu memanfaatkan keunggulan di bidang keris. Karena eksistensi keris tidak hanya diakui di nusantara, tetapi juga di dunia. “Pada tahun 2005 lalu, PBB telah menetapkan keris sebagai salah satu benda pusaka warisan dunia kategori non bendawi,” ungkapnya.

Ia menceritakan, pada saat itu, ada lima karya budaya Indonesia yang mendapat pengakuan sebagai warisan budaya Dunia dari UNESCO, yaitu wayang, keris, angklung, batik, dan tari saman gayo. “Nah, konsekuensi dari pengakuan UNESCO tersebut, kita memiliki kewajiban melestarikan dan mengembangkan keris agar tetap lestari,” imbuhnya.

Busyro berujar, dari lima karya budaya tersebut, keris adalah warisan budaya paling sulit dipertahankan kelestariannya. Berbeda dengan batik, wayang angklung maupun tari.

Keris memiliki nilau luar biasa sebagai karya agung ciptaan manusia. Selain berakar dalam dalam tradisi budaya dan sejarah masyarakat Indonesia, keris juga memiliki filosofi dan makna kejayaan, keuletan kesabaran keberanian dan keluhuran budi. “Filosofi semacam ini masih sangat relevan diterapkan dalan kehidupan berbangsa saat ini,” tandasnya. (ist)

One thought on “Berjuluk Kota Keris, Sumenep Miliki 640 Empu

Add Comment