BPCB Tata Ulang Situs ‘Calon Arang’ di Kediri

foto
Petugas BPCB memeriksa benda purbakala di Situs Calon Arang di Sukorejo, Gurah, Kediri. Foto: Kompas/M Agus Fauzul Hakim.

Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Mojokerto menata ulang cagar budaya di Desa Sukorejo, Kecamatan Gurah, Kabupaten Kediri, beberapa waktu lalu. Tempat berisi aneka macam benda purbakala itu selama ini dikenal sebagai Situs Calon Arang oleh warga setempat.

Calon Arang dikisahkan sosok janda yang menebar penyakit kepada masyarakat di era Kerajaan Kahuripan yang dipimpin Raja Airlangga pada abad 10 Masehi. Ulahnya itu membuat kekacauan hingga kemudian bisa ditangani oleh Mpu Baradah sebagai orang kepercayaan Raja Airlangga.

Penataan ulang itu dilakukan dengan membersihkan berbagai macam benda purbakala dari campuran material lain. Setelah itu diletakan ke tempat yang lebih aman, teduh, dan estetik.

Benda-benda purbakala tersebut meliputi ambang pintu atau doorpel, umpak, lumpang, beberapa balok batu, hingga beberapa fragmen arca. Salah satunya, arca agastya. Tempat tersebut sudah diketahui sejak lama, lengkap dengan benda-benda purbakalanya.

Namun sempat terjadi pembangunan yang kontradiktif dari perilaku pelestarian. Misalnya benda purbakala yang disemen juru pelihara.

Bahkan benda purbakala tersebut sempat menjadi korban vandalisme. Orang tak bertanggung jawab itu mengacak-acak lokasi tersebut. “Jadi kita tata kembali,” ujar Wagiman atau akrab disapa Gituk, satu dari 2 orang BPCB yang menata ulang lokasi, dikutip Kompas.com.

Tempat itu berada agak jauh dari jalan raya. Akses menuju lokasi, sebagian masih berupa tanah karena melewati areal sawah warga. Lokasinya sendiri ada di tengah-tengah tanaman tebu.

Warga setempat turun temurun memercayai lokasi tersebut sebagai situs Calon Arang. Bahkan lokasi situs seluas 250 meter persegi itu sering mendapat kunjungan dari pengunjung luar kota seperti Jawa Tengah hingga Bali untuk berziarah. “Terutama pada musim bulan syuro dalam penanggalan Jawa,” ujar Supandi, Kepala Desa Sukorejo.

Kepala Seksi Museum dan Purbakala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Pemerintah Kabupaten Kediri Eko Priatno mengungkapkan, lokasi tersebut sebelumnya pernah menjadi bahan penelitian para arkeolog.

Selain benda purbakala, peneliti juga menemukan adanya struktur bebatuan berupa batu bata kuno di kedalaman 1,5 meter di bawah permukaan tanah.

Pemeriksaan awal, komposisi dan struktur batu bata itu berasal dari masa Majapahit. Hanya saja belum diketahui struktur tersebut merujuk pada suatu bagian dari bangunan tertentu. “Struktur merupakan komponen yang masih umum jadi gak tahu itu pagar atau bangunan apa,” ujar Eko Priatno.

Penelitian itu, menurutnya, masih merupakan pemeriksaan awal sehingga dibutuhkan tindak lanjut. Dia mendasari argumennya dari beberapa benda purbakala lainnya yang diduga lebih tua usianya.

Soal asal-usul penyebutan situs, Priatno menambahkan, dari beberapa penelitian tidak ditemukan peninggalan atau data otentik yang menyebut lokasi tersebut peninggalan Calon Arang. Namun dia menegaskan, kepercayaan yang telah secara turun temurun hidup di tengah-tengah masyarakat sebagai kearifan lokal juga patut dihormati.

Pendekatan lain yang bisa digunakan sebagai pijakan, sambung Priatno, adalah pendekatan toponimi atau asal-usul nama tempat. Kata Gurah yang digunakan sebagai nama daerah tersebut cocok dengan nama Walunatung Girah sebutan lain dari Calon Arang. (ist)

Add Comment