Agus Koecink Dorong ‘Konektivitas’ Seniman

foto
Agus Koecink bersama I Made Somadita di House of Sampoerna. Foto: Koleksi HoS.

Pelukis yang juga kurator seni rupa Agus Koecink Sukamto mendorong konektivitas antarseniman asal Jawa Timur dengan seniman dari daerah lain, sehingga selalu tercipta ide-ide baru dalam berkarya, yang nantinya terbuka akses berpameran ke luar negeri.

Pria kelahiran Tulungagung 1967 itu sedang menggelar pameran “The Color of Life” bersama pelukis asal Denpasar, Bali, I Made Somadita, di Galeri Seni House of Sampoerna Surabaya, 6 – 28 April 2018.

“Saya bertemu dengan Somadita saat pameran bersama di Korea beberapa tahun lalu dan sejak itu tertarik untuk mengagendakan pameran bersama di beberapa kota di Indonesia, yang dimulai dari Galeri House of Sampoerna Surabaya ini,” ujarnya saat ditemui Antara Jatim di sela mempersiapkan pamerannya di Galeri House of Sampoerna Surabaya.

Proses pertemuannya dengan I Made Somadita di Korea yang terus berlanjut sampai sekarang itulah yang dia sebut sebagai konektivitas antarseniman. Keduanya pun saat itu berpameran ke Korea atas ajakan dari seniman senior asal Ubud, Bali, Antonius Kho.

“Ada banyak seniman dari berbagai daerah di Indonesia yang waktu itu diajak Antonius Kho berpameran di Korea. Sampai sekarang dengan banyak seniman dari berbagai daerah itu kami masih terhubung satu sama lain,” ujarnya.

Bagi Agus Koecink, Korea adalah negara kedua dia berpameran, setelah sebelumnya juga pernah berpameran di Prancis atas koneksi dari Pusat Kebudayaan Prancis atau “Institut Francais d`Indonesie” (IFI) di Surabaya.

Sedangkan I Made Somadita telah mengikuti pameran bersama di banyak negara. Selain di Korea, pria kelahiran Tabanan, Bali, tahun 1982 itu, telah berpameran di Malaysia, Thailand, Filipina dan Jerman.

Somadita menilai ada kesamaan nasib antara seniman Bali dan Jawa Timur, yaitu sama-sama kesulitan akses untuk menggelar pameran di luar negeri.

“Beda dengan seniman Jogja dan Bandung yang telah terbentuk sistem sehingga terbuka akses yang lebih mudah untuk bepameran ke luar negeri,” katanya dikutip Antara Jatim.

Sedangkan seniman Bali, lanjut dia, diuntungkan dengan banyaknya turis asing. “Tinggal cara kita menggiring para turis asing untuk datang menyaksikan karya-karya kita yang tersimpan di studio. Kalau beruntung, terbukalah akses untuk berpameran ke luar negeri,” ujarnya.

Sepakat dengan Agus Koecink, Somadita menyebut intinya adalah memupuk konektivitas antarseniman dan dia meyakini dari situlah nantinya terbuka akses untuk berpameran di luar negeri.

Agus Koecink menandaskan, seniman memang tidak bisa berdiam diri di rumah. Dia harus bergaul dengan seniman lainnya dari berbagai daerah, berproses bersama-sama, dan menggalang pameran bersama.

Dosen seni rupa di Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta Surabaya ini menambahkan, yang jauh lebih penting dari itu adalah seniman harus berkarya.

“Karena tugas seniman adalah berkarya dan karyanya tidak boleh ikut-ikutan berpolitik. Seleksi untuk berpameran ke luar negeri salah satunya selalu dilihat dari karyanya terlebih dahulu,” tuturnya. (ant)

Add Comment