Renesola Angkat Budaya Lewat Lampu LHE

foto
Lampu dengan budaya lokal pada kemasannya. Foto: Renesola.

Menjadi negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia tentunya memiliki keanekaragaman kultur dan budaya. Indonesia juga memiliki berbagai suku bangsa yang membawa keberagaman adat, budaya, hingga bahasa daerah. Sebagian besar masyarakat di dunia juga telah mengetahui Indonesia memiliki kebudayaan yang beragam.

Bicara mengenai budaya, Renesola sebagai merek global mengangkat budaya-budaya lokal yang ada di Indonesia. Citarasa lokal Renesola selain diimplentasikan dalam bentuk Kemasan lampu yang menggambarkan kearifan budaya lokal dengan motif batik parang, adalah juga menunjukkan bahwa produk-produk Renesola secara spesifikasi teknisnya disesuaikan dengan kondisi di Indonesia.

Citarasa lokal Renesola tersebut ditandai dengan diluncurkannya tiga Jenis lampu hemat energi (LHE) yang mewakili tiga daerah yang berbeda di Jawa Timur, yaitu Malang, Ponorogo dan Madura. Peluncuran lampu Malang, Ponorogo dan Madura tersebut dilakukan di tiga tempat sekaligus yaitu di Malang, Surabaya, dan Madiun.

Lokasi peluncuran produk ini sengaja dilakukan langsung di area pusat penjualan lampu di wilayah tersebut. Untuk area Malang dipusatkan di Toko Hwatt/Surya Citra Elektronik, pada 28 Maret 2018 lalu.

Turut hadir Noor Miftah Bakry selaku Country Director Renesola Indonesia, Eko Pujiono selaku owner Distributor area Malang Raya, dan Karniawan Afandi selaku Sales Manager Indonesia Timur. Adapun untuk Surabaya dilakukan di Toko Heri elektrik dan di Madiun di Toko Sumber Subur Jaya (SSJ).

Menurut Miftah, lampu bercitarasa budaya lokal di ketiga kota tersebut awal dari langkah Renesola untuk mewujudkan visi dari Renesola untuk menjadi lampunya orang Indonesia, setelah menggunakan tambahan motif batik parang di produk sebelumnya.

Seperti di Jawa Timur, khususnya di Banyuwangi, Renesola sudah memiliki posisi yang kuat di pasar. Lampu hemat energi (LHE) dengan produk Full Spiral berwarna kuning (warm white) yang digunakan masyarakat untuk pencahayaan perkebunan buah naga, dan sudah terbukti mampu untuk meningkatkan produktifitas perkebunan buah naga di Banyuwangi. Dengan peluncuran LHE bercitarasa lokal di 3 kota tersebut diharapkan mampu untuk lebih memperkuat posisi Renesola di Jawa Timur.

Sementara di Malang, kemasan lampu sangat bercitarasa lokal dengan gambar bertuliskan “Kera Ngalam”, yang berarti adalah Arek Malang, lampu Ponorogo dengan reog Ponorogonya dan lampu Madura dengan karapan sapinya.

Saat ini, kondisi kelistrikan di Indonesia saat ini relatif masing sering terjadi lonjakan fluktuasi tegangan, dan di daerah-daerah juga banyak yang masing memiliki kecenderungan listrik dengan tegangan yang rendah.

LHE Renesola pada umumnya memiliki ketahanan yang sangat baik terhadap lonjakan tegangan listrik, dan dalam kondisi tegangan rendah (di bawah 100 volt) masih bisa menyala dengan terang yang optimal, dan tentunya tetap aman dan juga hemat listrik.

Keunggulan lainnya dari lampu hemat energi (LHE) yang berbentuk Spiral ini adalah memiliki distribusi cahaya yang lebih baik, karena spiralnya Renesola adalah “Full Spiral”, sedangkan kebanyakan adalah “Half Spiral”. Selain Distribusi cahaya yang lebih baik, dengan full Spiral akan lebih hemat listrik dan juga lebih terang. Maka tak heran jika dikatakan lampu hemat energi (LHE) Renesola “Full Spiralnya – Full Terangnya”. (sumber)

Add Comment