Masih Ada Suwuk yang Eksis di Era Modern

foto
Pengobatan dengan suwuk di Desa Jatiarjo, Pasuruan. Foto: Prasetya.ub.ac.id.

Masyarakat di Desa Jatiarjo, Pasuruan, Jawa Timur, masih menggunakan suwuk sebagai salah satu pilihan pengobatan. Padahal, di desa dimana Taman Safari II berada ini, fasilitas kesehatan serta tenaga medis telah memadai.

Suwuk merupakan pengobatan tradisional dengan menggunakan mantra dan rapalan doa-doa dari dukun yang diletakkan di air putih maupun ramuan dari tumbuh-tumbuhan. Suwuk tidak hanya digunakan untuk mengobati manusia, bahkan benda-benda seperti undangan pernikahan hingga surat lamaran pekerjaan pun dapat disuwuk.

Fenomena tersebut menarik perhatian kelima mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya (FIB-UB) yang diketuai Miftakhul Iftita, dengan anggota Hanifati Alifa Radhia, Annise Sri Maftuchin, Helmawati dan Luaiyibni Fatimatus Zuhra untuk meneliti suwuk melalui perspektif ilmu Antropologi.

Tim Program Kreativitas Mahasiswa bidang Penelitian Sosial Humaniora (PKM-PSH) dibawah bimbingan Siti Zurinani MA ini melakukan penelitian lapangan selama kurang lebih dua bulan.

Berdasarkan hasil pengamatan dan wawancara, pengobatan tradisional suwuk di Jatiarjo dilakukan melalui dua tahap. Pertama-tama, dukun akan memeriksa penyakit si pasien melalui beberapa teknik deteksi.

Teknik tersebut meliputi pijatan diruas-ruas jari kaki dan tangan, penggunaan pusaka (misal keris), analisis riwayat kesehatan sebelumnya dari penuturan pasien, hingga komunikasi batin antara dukun dengan penunggu desa tempat pasien berasal.

Setelah dilakukan teknik deteksi, tahap selanjutnya adalah penerapan dari metode pengobatan suwuk. Pengobatan suwuk di Jatiarjo dilakukan dengan kombinasi teknik pengobatan lain seperti pijat dan pemberian ramuan herbal. Setelah diketahui penyakit yang diderita, pasien dapat disembuhkan melalui teknik pijat dengan menggunakan minyak whisik.

“Ada pula pasien yang diberi ramuan berbahan tumbuhan obat yang diracik si dukun maupun diracik sendiri. Selain ramuan herbal tersebut dikonsumsi oleh pasien, ramuan tersebut juga dapat diusapkan (bobok) dibagian tubuh yang sakit. Seluruh proses pengobatan baik pijat maupun pemberian ramuan berbahan alami tersebut dilakukan sembari ditiupkan rapalan doa-doa oleh sang dukun. Rapalan doa-doa pun juga diberikan pada pasien dalam bentuk fisik yakni berupa tulisan-tulisan arab yang ditulis dilembaran kertas,” papar Miftakhul Iftita.

Ia melanjutkan, pengobatan tradisional suwuk yang masih bertahan di Jatiarjo ini terjadi disebabkan beberapa faktor sosial-budaya. Kepercayaan masyarakat pada hal-hal magis, mempengaruhi adanya penyakit-penyakit tidak wajar serta tidak dapat disembuhkan melalui pengobatan medis.

“Adanya kepercayaan akan penyakit tidak wajar inilah yang menjadikan suwuk masih digunakan sebagai metode penyembuhan masyarakat Jatiarjo,” katanya.

Selain itu, faktor lain yang membuat pengobatan suwuk tetap bertahan di Jatiarjo adalah akibat pola pengobatan masyarakat yang lebih bersifat turun temurun serta pencarian pengobatan yang bersifat cocok-cocokan.

“Penjabaran mengenai faktor sosial budaya tersebut menjelaskan bahwa metode penyembuhan suwuk di Desa Jatiarjo, Prigen, Pasuruan masih bertahan ditengah era modern, meskipun pengobatan medis sudah cukup memadai,” pungkas Miftakhul. (sumber)

Add Comment