Farah Quinn Puji Kuliner Ayam Kesrut Banyuwangi

foto
Farah Quinn saat hadir di Festival Kuliner di Banyuwangi. Foto: Istimewa.

Koki kenamaan Farah Quinn menegaskan bahwa kuliner ayam kesrut khas Banyuwangi merupakan makanan yang sehat karena tidak melalui proses menggoreng.

“Selain itu, ayam kesrut ini sangat mudah dibuat,” katanya saat hadir dalam Festival Banyuwangi Kuliner (Bakul) dengan masakan ayam kesrut yang berlangsung meriah Tamab Blambangan, Banyuwangi, Kamis (12/4).

Saat itu, Farah melakukan demo masak dengan gayanya yang lincah bersama dengan Dani Azwar Anas, istri Bupati Abdullah Azwar Anas. Saat masakan matang, Farah pun langsung mencicipi. “Ini dia, pedasnya excellence. Rasa asamnya segar,” katanya, dikutip Antara Jatim.

Farah kemudian menyarankan agar rakyat Indonesia bangga terhadap potensi kekayaan Nusantara, khususnya kuliner. “Kegiatan semacam ini bisa menaikkan kuliner lokal kita. Bila kita sudah bangga, kebanggan itu pasti akan terekam dalam piring makanan kita,” katanya.

Pemkab Banyuwangi menggelar festival kuliner yang diangkat tahun ini mengangkat kekayaan kuliner ayam kesrut. Festival yang digelar rutin tiap tahun sejak 2013 itu selalu mengangkat kuliner tradisional yang berbeda saban tahunnya.

Sebanyak 200 peserta, mulai koki hotel berbintang, penjual makanan tradisional, hingga ibu rumah tangga berlomba menyajikan ayam kesrut terlezat.

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengatakan Festival Bakul menjadi cara daerah untuk mempromosikan ragam kuliner lokal. Cara ini dinilai ampuh untuk meningkatkan kualitas makanan lokal sekaligus menaikkan pamornya.

“Kami ingin makanan ayam kesrut naik kelas, baik kualitasnya maupun hiegenitas penyajiannya. Warga Banyuwangi juga semakin bangga untuk menyajikan makanan tradisional ini, mulai hotel berbintang hingga warung-warung rakyat,” katanya.

Ayam kesrut adalah makanan tradisional Banyuwangi berbahan daging ayam kampung muda yang dimasak dengan kuah segar. Rasa gurih kaldu ayam berpadu dengan rasa pedas dan asamnya belimbing wuluh, membuat makanan ini terasa nikmat. Makanan ini biasanya dihidangkan saat panas bersama dengan nasi dan sepotong tempe tebal yang digoreng garing.

Fastival Bakul ini, lanjut Anas, adalah bagian diplomasi pariwisata Banyuwangi untuk mengundang kedatangan banyak orang melalui “food and fashion”.

“Food and fashion menjadi cara diplomasi pariwisata yang jangkauannya tanpa batas. Ini melengkapi kekuatan pariwisata kami yang terkenal dengan objek wisata alamnya. Cara ini terbukti ampuh mendongkrak kunjungan wisatawan,” ujar Anas. (ant)

Add Comment