Arek Mojokerto Zaman Now Lestarikan Ludruk

foto
Ludruk Anak bertajuk ‘Legenda Watu Blorok’ pukau pengunjung TMII. Foto: Beritasatu.com.

Panggung Anugerah Duta Seni Budaya Jawa Timur di TMII Jkaarta tampak berbeda dari biasanya. Sebab ajang apresiasi ini diisi para seniman muda.

Penonton terpukau dan terharu menyaksikan kreativitas anak-anak generasi gadget melek internet ini — melalui ungkapan (ekspresi), dan keunikan individu -dalam interaksi pentas Ludruk Anak, bertajuk ‘Legenda Watu Blorok’.

“Saya berharap kemampuan ini dapat menginspirasi anak-anak lain. Seni Ludruk lestari, bertahan, dan tetap ada. Tidak hanya dikenal dan berkembang di Mojokerto dan Jawa Timur. Tapi bisa mendunia seperti Kabuki, seni teater klasik Jepang,” ungkap inisiator pertunjukan, Kukun Triyoga, kepada BeritaSatu.com di Anjungan Jawa Timur, TMII, Jakarta, Minggu (08/04).

Di saat kesenian berpredikat warisan budaya bangsa ini dipandang miskin pewaris, justru sekelompok anak dari SD Negeri Gedongan 2 Kota Mojokerto, Jawa luar biasa memukau mementaskan Ludruk. Tak satu pun pemain orang dewasa. Dari mulai pelakonnya; aktor, aktris, pengrawit (pemusik), sinden (penyanyi), hingga pembawa acaranya semuanya anak-anak.

Menurut Kukun, tak banyak kelompok teater anak yang menekuni seni Ludruk. Di Mojokerto, di Jawa Timur atau di Indonesia, bahkan dunia, mungkin cuma ada satu grup yang ada di Mojokerto ini. “Kami berharap Pemerintah konsisten mendukung, agar kesenian Ludruk tidak punah, seperti nasib kesenian tradisional lainnya,” harap Kukun.

Sejarah menunjukkan, Ludruk menjadi alat perjuangan bangsa. Pada masanya Ludruk dijadikan sebagai alat perlawanan terhadap penjajah Belanda dan Jepang. Ludruk juga tak lepas dari perkembangan kondisi politik. Sarana menyampaikan kritik sosial.

Penampilan Ludruk Anak yang diusung Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan dan Pariwisata Kota Mojokerto ini, sekaligus menjawab bahwa kesenian Ludruk tidak akan pernah mati. Walau panggung atraksi untuk mereka sulit dicari. Para seniman bahkan mengaku kerap ‘ngos-ngosan’ mempertahankan warisan syarat nilai-nilai luhur ini.

“Alhamdulillah di Mojokerto masih ada Ludruk Arek (anak-anak). Kita memang tidak cukup mengatakan lestarikan-lestarikan, tapi harus berbuat. Kehadiran kami di Anjungan Jawa Timur TMII, sebagai bukti bahwa Pemerintah Daerah mendukung kesenian Ludruk,” ujar Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan dan Pariwisata Kota Mojokerto, Subambihanto.

Selanjutnya, Sub Bidang Pengelolaan Anjungan Badan Penghubung Daerah Provinsi Jawa Timur, telah menyiapkan penampilan kesenian dari daerah lainnya. Tampil Duta Seni Budaya dari Pasuruan (15 April 2018) dan Bondowoso (22 April 2018). Selain itu, ada pergelaran paket khusus Tari Jawa Timuran ‘Sang Guru’ dalam rangka memperingati Hari Tari Dunia (28 April 2018), serta penampilan duta seni dari Tuban (29 April 2018) mendatang.

Pergelaran Ludruk Anak ‘Legenda Watu Blorok’ melibatkan lebih dari 50 anak-anak sekolah dasar. Ide cerita dan skenario, ditulis Agus dan Tanti. Penata Musik, Adang, Penata Tari Ari, Setting Panggung dan Artistik, Sasmito, dan Darmaji. Sementara penyutradaraan dipercayakan kepada Kukun Triyoga.

‘Legenda Watu Blorok’ menceritakan istri Sinuwun Brawijaya dari Kraton Majapahit, yang sedang hamil dan ‘ngidam’ hati Kijang Kencono. Raden Brawijaya selanjutnya mengutus Wiro Bastam untuk berburu mencari hati Kijang Kencono, dengan dibekali Pusaka Tombak Kiyai Gobang.

Malang bagi Wiro Bastam, tombak yang tertancap di tubuh Kijang justru terbawa lari karena hewan buruan tersebut tidak langsung mati. Akibatnya Wiro Bastam tidak berani kembali ke Kraton Majapahit.

Cerita ini sangat menarik ditampilkan dengan kemasan sendratari (seni drama, dan tari) dengan iringan musik dan lagu. Semua dilakukan pelajar kelas III hingga kelas VI SD Negeri Gedongan 2 Kota Mojokerto.

Penampilan mereka sekaligus membuktikan bahwa mereka bukanlah kids zaman now yang hanya hobi nyinyir, dan bersolek, atau sekadar narsis di media sosial. Mereka adalah generasi penyangga budaya, yang membuat kesenian Ludruk lebih fenomenal, sebagai kesenian Indonesia yang mendunia. (ist)

Add Comment