Ada Batu di Ponorogo Tak Bisa Dihancurkan

foto
Mbah Sikin memperlihatkan batu yang katanya tak bisa dihancurkan. Foto: Detikcom/Charolin Pebrianti.

Seorang kakek di Ponorogo menemukan batu yang tak lazim di pekarangan rumahnya. Siapa sangka, batu itu ternyata tak bisa dihancurkan. Batu itu ditemukan saat sang kakek yang bernama Mbah Sikin (75) akan membangun rumah. Saat meratakan tanah, ia menemukan sebuah batu.

“Awalnya saya kira batu biasa, tapi dihancurkan tidak bisa. Dilinggis pun tidak rusak, karena kuat saya simpan,” terang Mbah Sikin kepada detikcom saat dijumpai di rumahnya, Jumat (14/4).

Bukan hanya pria berusia 75 tahun itu saja yang dibuat kebingungan. Suatu ketika, ada tetangga yang bermaksud mengambil batu bata itu.

“Dulu ada tetangga yang ingin mengambil batu bata ini, tapi malah sekeluarga sakit. Saat dikembalikan ke tempatnya, keluarganya sembuh,” papar Mbah Sikin.

Tidak hanya itu, bapak dua anak ini mengaku 8 ternaknya mati secara mendadak. Kata Mbah Sikin, ada 8 ekor sapi miliknya yang mati tanpa diduga-duga.

“Kata orang sepuh (tua, red) karena saya bakar batu bata menghadap ke tumpukan batu yang tadi, jadinya sapi saya yang mati,” lanjutnya.

Akibat kejadian aneh tersebut, Mbah Sikin dan warga sekitar pun tak berani mengutak-atik tumpukan batu bata sekaligus batu yang ditemukan pria ini. Bahkan mereka menganggap benda-benda itu keramat.

Mbah Sikin mengaku menemukannya sejak tahun 1968. Namun karena tak bisa dihancurkan itulah, ia hanya menyimpan batu berbentuk kubus berukuran 40 cm x 40 cm x40 cm itu di rumahnya.

Selama itu pula batu ini dijadikan sebagai penyangga tempat penampungan air oleh warga warga Dusun Tumpuk, Desa Kemiri, Kecamatan Jenangan, Kabupaten Ponorogo tersebut.

Tak hanya itu, bapak dua anak ini juga mengungkapkan di sekitar tempat penemuan batu tersebut juga ada tumpukan batu bata. Mbah Sikin dan warga sempat menduga jika tumpukan batu bata adalah bebatuan dari zaman kerajaan.

Hal ini juga terlihat dari bentuknya yang tampak berbeda dari batu bata masa kini karena batunya lebih besar dan tebal.

Namun tumpukan batu bata itu kini juga hanya dibiarkan begitu saja di halaman rumah Mbah Sikin. Sejak ditemukan, baik Mbah Sikin maupun warga di sekitarnya memang tak berani mengutak-atik batu-batu itu karena sama-sama tak bisa dihancurkan.

Sejak saat itu Mbah Sikin menjadikannya penyangga tempat penampungan air. Hingga sekitar sepekan yang lalu, ada seorang pemerhati sejarah dari Madiun bernama Anto Purbo yang mendatangi rumahnya.

Anto mengungkapkan jika batu yang disimpan Mbah Sikin selama bertahun-tahun sebenarnya adalah batu Yoni, salah satu simbol kesuburan pada era kerajaan Hindu kuno.

Anto memaklumi jika Mbah Sikin tak tahu sama sekali jika itu adalah batu bersejarah. “Karena ketidaktahuan Mbah Sikin ini, makanya batunya hanya disimpan begitu saja. Padahal ini batu sejarah,” tandas Anto.

Namun semenjak pertemuan itu, Anto meminta agar Mbah Sikin merawat dan membersihkan batu berbentuk kubus dengan ukuran 40 cm x 40 cm x 40 cm tersebut.

“Setelah didatangi mas Anto itu, saya akhirnya membersihkan batu yoni ini. Tidak saya pakai untuk menyangga tempat air lagi,” tutur Mbah Sikin.

Salah satu petugas dari Balai Pelestari Cagar Budaya (BPCB) Trowulan, Mojokerto, Wicaksono Dwi Nugroho ketika dimintai pendapatnya juga meyakini bahwa benda tersebut adalah batu Yoni.

Kendati belum melihat secara langsung, namun ia meyakini hal itu sebab sebelum ini timnya pernah menemukan sebuah prasasti di Desa Jenangan, Kecamatan Jenangan. “Kalau nggak salah didirikan lagi (prasastinya, red) tahun lalu,” pungkasnya. (dtc)

Add Comment