Mbok Temu Misti, Sang Maestro Tari Gandrung

foto
Maestro tari, Temu Misti di kediamannya Desa Kemiren, Banyuwangi, Foto: Kompas.com/Ira Rachmawati.

Temu Misti (65), warga Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Banyuwangi, Jawa Timur, adalah maestro tari Gandrung yang tetap melestarikan tari Gandrung selama 50 tahun lebih. Perempuan sederhana tersebut sudah menjadi Gandrung sejak tahun 1968 ketika berusia 15 tahun.

Kepada Kompas.com, Jumat (21/4/2018), perempuan yang terkenal dengan panggilan Gandrung Temu tersebut bercerita jika dia terlahir dengan nama Misti dan dibesarkan oleh Khatijah, bibinya yang tidak memiliki anak.

Saat usianya 1 tahun, Misti menderita sakit panas dan dibawa ke rumah seorang dukun untuk disembuhkan. Sepulang dari dukun, Misti kecil dan ibu angkatnya mampir ke rumah Mak Tiah, seorang juragan Gandrung dan saat itu memberi makan Misti dengan nasi panas.

“Saat itu Mak Tiah bilang kalau saya sembuh harus diganti nama dengan Temu dan jika besar akan jadi penari Gandrung. Karena sembuh, akhirnya nama saya menjadi Temu Misti. Saat saya kelas 5 SD, Mak Tiah datang ke rumah untuk meminta saya menjadi penari Gandrung. Tapi ibu menolak karena saya masih kecil,” kata Gandrung Temu.

Perempuan kelahiran 20 April 1953 tersebut pertama kali tampil sebagai Gandrung ketika Sutris, seorang juragan Gandrung memintanya untuk bergabung.

Temu pun akhirnya luluh setelah dibujuk oleh Mak Tijah, kakak ipar ibunya yang juga tukang rias Gandrung. Temu yang selama ini belajar secara otodidak dengan memperhatikan penari Gandrung di dekat rumahnya akhirnya tampil di hadapan penonton sebagai Gandrung profesional untuk pertama kalinya. “Saat itu saya nari tanpa pamitan ke ibu,” ceritanya sambil tertawa.

Pada tahun 1970-an, menurut Gandrung Temu, adalah puncak kejayaan kesenian Gandrung. Hampir tiap malam, dia selalu tampil untuk menghibur para penonton.

Bahkan pernah hampir dua bulan lamanya dia tidak pulang dan berkeliling menari bersama grup Gandrung-nya. Bukan hanya di sekitar rumahnya, bahkan hingga ke wilayah Banyuwangi Selatan dan luar kota Banyuwangi. Dalam satu bulan, jadwal menari Gandrung Temu minimal 20 malam.

“Waktu itu dikenal dengan grup Gandrung Temu. Ya itu namanya. Belum ada nama kayak sekarang. Saya pernah tampil sampai ke selatan sana. Jalan kaki terus naik perahu. Ya alat-alatnya dibawa. Dulu kan masih sederhana alatnya dan nggak banyak kayak sekarang,” ceritanya.

Bahkan pada zaman dulu, Gandrung Temu saat menyanyi tidak menggunakan pengeras suara, hingga dia memaksimalkan suaranya. Bahkan untuk melatih napas, dia berendam dan tenggelamkan kepala dalam beberapa menit.

“Jika nggak dilatih gitu, suara saya ya kalah sama panjak atau pemain musik dan penontonnya nggak akan dengar. Pertama nyanyi, besoknya suaranya habis,” kenangnya sambil tertawa.

Pada tahun 1980-an, suara emas Gandrung Temu direkam oleh Smithsonian Folkways, Amerika Serikat dan album “Song before Dawn” yang berisi suara Gandrung Temu dirilis pada tahun 1991. Penari Gandrung asal Jakarta, Bali dan Semarang saat acara meras gandrung di Desa Kemiren Banyuwangi, Jawa Timur.

Menurutnya, ada 11 lagu Gandrung yang saat itu direkam antara lain Delimoan, Chandra Dewi dan Seblang Lukinto. Dia mengaku hanya dibayar Rp 250.000 tanpa ada kontrak kerja sama. Selain itu, dia hanya mendapatkan sampul album Songs Before Dawn yang di pigura dan sempat dipajang di dinding rumahnya.

Selama bertahun-tahun, dia tidak mengetahui jika suara emasnya dijual di sejumlah situs bisnis di Amerika dan Eropa.

“Saya nggak mau bahas itu. Biar saja. Dulu janjiannya direkam untuk kegiatan penelitian tapi saya sempat dengan katanya dijual. Yang penting saya bisa menghibur banyak orang. Saya nggak masalah nggak dapat apa-apa. Tuhan tidak tidur,” jelasnya.

Gandrung Temu sempat berhenti menjadi Gandrung ketika dia menikah di usia 18 tahun. Namun pernikahan itu hanya bertahan selama dua tahun. Dia kembali menikah pada tahun 1977 namun kembali lagi bercerai karena suami keduanya cemburu dan suka memukul.

Suaminya yang ketiga bernama Adis dan mereka menikah pada tahun 2014. Mbok Temu sendiri tidak memiliki anak, namun dia mengasuh keponakannya yang saat ini duduk di SMA Luar Biasa Banyuwangi.

“Tidak semua orang bisa punya anak tapi saya seneng bisa ngangkat anak dan menyekolahkan hingga SMA. Dia tuna wicara, tapi saya pernah menganggap dia anak angkat,” katanya.

Pada tahun 1982 dia membuka toko kelontong kecil di depan rumahnya dan akhirnya tutup pada tahun 2006 karena penghasilannya sebagai Gandrung berkurang dan modal tidak berputar. Masa kejayaannya meredup awal tahun 2000-an.

Semakin lama, panggilan tanggapan untuk menari semakin sepi karena kalah dengan dangdut electone. Bahkan Gandrung Temu pernah tidak mendapatkan job sama sekali dalam sebulan. Ia kemudian banting setir mengurusi sawah dan memelihara ayam di belakang rumahnya yang sederhana untuk mencukupi kebutuhannya sehari-hari.

Ayam-ayam peliharaannya tersebut dijual jika ada warga yang akan membuat pecel pitik untuk selamatan. Namun saat ini ayam kampung peliharaannya tinggal 25 ekor karena banyak yang mati karena diserang penyakit.

“Kalau dulu kan buat pecel pitik hanya selamatan atau lebaran sekarang hampir tiap hari ada yang buat karena banyak wisatawan yang datang. Jadi belinya ke saya. Walaupun nggak banyak ya disyukuri saja,” ceritanya.

Selain itu, dia juga mengajari anak-anak menari Gandrung di halaman rumahnya setiap hari Minggu. Bahkan dia juga telah melatih dan mencetak para penari Gandrung profesional seperti dirinya.

Pada tahun 2015, Gandrung Temu sempat menari dan tampil di Jerman mewakili budaya Banyuwangi dan sempat beberapa kali tampil di Jakarta untuk misi kebudayaan.

“Menjadi Gandrung itu nggak gampang. Kita harus bisa jaga diri karena tampil di hadapan orang. Kalau dulu jarak penari dengan penonton bisa satu meter bukan kayak sekarang yang deket-deketan malah kadang saya risih melihatnya,” katanya.

Pada tahun 2015, rumah Gandrung Temu juga menjadi jujugan 15 pelajar dari seluruh Indonesia belajar tari Gandrung pada maestro. Mereka mendaftar secara online pada Kegiatan Belajar bersama Maestro di Program Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Kebudayaan.

Selain Gandrung Temu, ada 10 maestro tari di Indonesia yang menjadi tempat belajar para pelajar. Penari nasional Didik Nini Thowok juga pernah belajar menari Gandrung ke Mbok Temu, maestro tari Gandrung asal Banyuwangi, Jawa Timur.

Didik berkunjung ke rumah Mbok Temu yang berada di Desa Kemiren, Desa Glagah, Banyuwangi pada Mei 2017. Walaupun usianya sudah tidak lagi muda, Gandrung Temu masih tetap menerima orderan untuk tampil sebagai Gandrung dan telah memiliki grup Gandrung dengan nama “Sopo Ngiro”.

Namun dia tidak menari sendiri tapi mengajak minimal dua orang Gandrung muda untuk tampil dengannya.

“Gandrung itu bukan hanya bisa menari tapi juga harus bisa bernyanyi serta menghibur penonton semalam suntuk tanpa harus merendahkan diri kita sendiri. Kalau ditanya sampai kapan saya jadi Gandrung ya sampai saya nggak kuat lagi. Menjadi Gandrung itu sudah takdir dan saya nggak mau nanti Gandrung hilang dari Banyuwangi. Semampu saya akan terus saya ajarkan Gandrung ke generasi muda di bawah saya. Biar mereka yang nanti meneruskan jika saya meninggal,” katanya. (ist)

Add Comment