Cerita Tugu Nol Kilometer Surabaya yang Terlupakan

foto
Tugu Nol Kilometer Kota Surabaya yang terlupakan. Foto: Detik.com/Ongq Rifaldy Litualy.

Titik nol kilometer merupakan titik awal pengukuran antara kota yang satu dengan kota yang lain. Biasanya titik ini ditandai dengan sebuah monumen yang dijadikan kebanggaan bagi warga. Lalu bagaimana dengan Surabaya?

Titik nol kilometer (titik nol) Kota Surabaya terletak di halaman depan gedung kantor Gubernur Jawa Timur. Monumennya diletakkan di bawah pepohonan rindang di depan kantor orang nomor satu di Jawa Timur tersebut.

Namun nyatanya, banyak orang yang tidak tahu-menahu tentang keberadaan monumen ini. Salah satunya Dinda, warga Kota Surabaya. Ketika ditanya dimana letak titik nol, dara berusia 26 tahun ini justru menyebut Tugu Pahlawan sebagai titik nol kota.

Warga lain yang ditanya menyebut letak titik nol Kota Surabaya berada di Gedung Balaikota, bahkan ada juga yang mengatakan titik nol itu berada di Bundaran Waru.

Mantan Kepala bagian Aset dan Pemeliharaan Kantor Gubernur, Supardi mengatakan bahwa Tugu Titik Nol Kilometer adalah salah satu cagar budaya Kota Surabaya yang penting.

“Titik nol itu ya sesuatu yang penting, sebagai penanda di mana sebuah kota memulai perkembangannya,” terang Supardi kepada Detikcom.

Ditambahkan Supardi, letak titik nol itu sudah ada sejak zaman pendudukan Belanda. “Itu sejak zaman Belanda patokan itu, misalnya Wonokromo Surabaya Tujuh, makin kesini Surabaya ke Enam, Surabaya ke Lima dan nolnya itu ya disini Mas dan itu sejak dulu,” paparnya.

Sayangnya menurut Supardi, letak monumen yang berada di bawah pepohonan, membuatnya tak mudah terlihat dari luar. Selain itu, bila warga ingin melihat monumen tersebut, mereka harus meminta izin agar bisa masuk ke halaman kantor Gubernur yang dijaga ketat.

“Saya itu sempat ada keinginan bagaimana jika kita masukkan pagar itu ke dalam, agar Nol Kilometer itu di luar sendiri kemudian dibangun tetenger yang bagus agar dikenali masyarakat,” tandasnya.

Bahkan Supardi mengungkapkan, rencana untuk membuatkan spot tersendiri bagi monumen itu agar tidak menyatu dengan halaman gedung kantor Gubernur itu pernah digaungkan bersama. Namun sejumlah kendala pun menghadang upaya ini.

Sebab untuk merealisasikannya, harus ada pembicaraan dengan banyak pihak seperti ahli sejarah serta Pemkot Surabaya.

“Pembicaraan itu juga batal dilakukan karena saya dipindah,” tutur pria yang saat ini menjabat sebagai Kepala Bagian Kearsipan Kantor Gubernur Jawa Timur tersebut.

Rio (21), salah satu pengunjung Titik Nol Kilometer mengatakan seandainya monumen tersebut berada di luar halaman kantor, pasti lebih indah dilihat ketimbang tersembunyi di halaman kantor Gubernur Jawa Timur.

“Iya Mas, jika dibuatkan di luar halaman kantor ini saya setuju, akan sangat bagus mas untuk dikenali, saya setuju mas,” ujar Rio.

Senada dengan Rio, Sumanto (29) penjual bakso yang biasa mangkal di seputaran kantor Gubernur Jawa Timur sering melihat warga berfoto bersama Tugu Titik Nol Kilometer, terutama anak muda. Namun Sumanto menyayangkan karena tugu tersebut cenderung tertutup pepohonan.

“Banyak didatangi masyarakat untuk berfoto, namun kelihatannya tidak terurus mas. Soalnya tertutup pepohonan jadinya tidak dihiraukan masyarakat jadinya,” papar Sumanto.

Sebagai warga asli Surabaya, Supardi berharap Tugu Titik Nol Kota Surabaya dibangun dengan baik dan menjadi kebanggaan warga, apalagi jika bisa dijadikan bahan pembelajaran sejarah, baik oleh warga Surabaya sendiri maupun wisatawan yang tertarik dengan sejarah Surabaya.

Terlepas dari itu, penelantaran Tugu Titik Nol Kota Surabaya ini juga dipicu oleh kurangnya wawasan masyarakat tentang keberadaan tugu ini sendiri.

“Titik nol merupakan simbol sejarah yang seringkali dilupakan melihat kurangnya pengetahuan masyarakat tentang history dan tata letak Nol Kilometer Surabaya,” pungkasnya. (dtc)

Add Comment