Serial Film Grisse, Kolaborasi Timur dan Barat

foto
Salah satu adegan di film serial Grisse. Foto: Dok HBO Asia.

Berangkat dari sejarah Kota Gresik, serial Grisse menyelesaikan proses shooting di Infinite Studios, Batam. Serial ini menghadirkan ensambel pemain dari berbagai negara, antara lain Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Jepang. Dikemas dalam delapan episode, Grisse merupakan produksi orisinal HBO Asia. Direncanakan, Grisse akan tayang akhir 2018 nanti.

Sutradara dan showrunner Grisse Mike Wiluan di Infinite Studios, Senin 14 Mei 2018 mengungkapkan, serial ini tidak akan tercipta tanpa dukungan HBO. Lewat Grisse, Mike ingin mengkolaborasikan budaya barat dan timur.

Pasalnya hal ini berkaitan dengan perspektif global tentang sejarah Indonesia. Untuk Grisse, Mike juga menulis skenario bersama Rayya Makarim.

“Judul Grisse merupakan nama Kota Gresik, dekat Surabaya di Jawa Timur. Orang Belanda dulu menyebut Gresik dengan Grisse. Serial ini tentang gerakan revolusi lewat karakter perempuan yang kuat,” tutur Mike, seperti dikutip pikiran-rakyat.com.

Di Infinite Studios, tim produksi membangun set yang detail untuk Grisse. Selama enam minggu, mereka membuat suasana perkampungan Indonesia di era 1800-an. Tak hanya dalam bentuk bangunan, tapi juga kostum, dan unsur artistik lainnya.

Cerita Grisse berlatar belakang dari era 1800-an atau ketika masa kolonial Hindia Belanda. Serial ini berkisah tentang sekelompok masyarakat dalam penindasan yang memberontak melawan gubernur bengis. Mereka berhasil mengambil alih kendali di markas tentara Belanda bernama Grisse.

Didukung sejumlah karakter unik, mereka bersatu dengan latar belakang dan keyakinan berbeda. Tujuan mereka sama, yaitu untuk memperbaiki keadaan dan nasib mereka dari penjajahan.

Para pemain yang memperkuat Grisse di antaranya Adinia Wirasti, Marthino Lio, Michael Wahr, Edward Akbar, Jamie Aditya, Toshiji Takeshima, Joanne Kam, Zack Lee, Tom Dejong, Ully Triani, Rick Paul Van Mulligen, Alexandra Gottardo, Hossan Leong, dan Jimmy T.

Salah seorang aktor asal Jepang, Toshiji Takeshima yang berperan sebagai Ryuichi mengungkapkan, dia sangat antusias bisa terlibat dalam Grisse. Pasalnya, baru kali ini dia bekerja sama dengan aktor asal Indonesia.

Menurut Toshiji, salah satu alasan dia mau bergabung dengan Grisse adalah tim produksi dan pemain yang berasal dari berbagai bangsa. Hal ini membuat dia bisa mengenal aneka budaya. “Buat saya, kisah Grisse sangat kaya dan sarat konflik. Ini adalah sebuah cerita sejarah Indonesia. Saya belajar lagi sejarah Indonesia di era ini,” ungkap Toshiji.

Menurut Toshiji, karakter yang dia mainkan adalah seorang samurai yang sadis. Sebelum shooting, dia belajar intensif menggunakan pedang. Dia juga memasukan elemen Jepang pada karakter Ryuichi. “Selama shooting banyak hal yang tak terduga. Saya juga melakukan semua adegan tanpa stunt man,” ujar Toshiji.

Aktor asal Indonesia Marthino Lio yang berperan sebagai Maran mengaku, tidak menemukan kesulitan selama shooting. Dengan dasar taekwondo yang dia punya, Lio cepat berlatih koreografi laga untuk Grisse.

“Sosok Maran adalah seseorang yang nasionalis. Dia kaku dan menjadi pemimpin kelompok pemberontak. Menurut saya, cerita yang disajikan Grisse sangat relate dengan situasi Indonesia saat ini,” ujar Lio.

Sementara pemain asal Malaysia, Joanne Kam yang berperan Chi mengatakan, naskah sangat membantu dia untuk mengeksplorasi karakter. Menariknya, kata Joanne, sebagai pemain, dia juga harus mengerti karakter setiap lawan mainnya. Menurut Joanne, sangat menyenangkan bisa kolaborasi dengan aktris Indonesia, Adinia Wirasti.

“Saat pertama datang ke lokasi shooting, hanya ada saya dan Zack Lee. Kami langsung menyelesaikan adegan laga selama tiga jam. Ini berat untuk saya, tapi saya berusaha profesional dan tak ingin menyerah,” ujar Joanne. (ist)

Add Comment