Peduli Pemajuan Kebudayaan di OMJ Blitar

foto
Acara Obralan Malam Jemuah di Dewan Kesenian Kabupaten Blitar. Foto: Istimewa.

Pasca terbitnya UU No 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan, hampir bisa dipastikan perspektif pembangunan kebudayaan di Indonesia akan makin berkembang.

Untuk mempersiapkannya butuh ekosistem kebudayaan yang melibatkan berbagai sektor masyarakat untuk membahas bagaimana peradaban masyarakat dapat terbangun secara terintegrasi.

Dewan Kesenian Kabupaten Blitar menginisiasi program baru dengan tajuk OMJ (Obrolan Malam Jemuah). Program tersebut diharapkan mampu menciptakan ekosistem kebudayaan yang mampu mempertemukan lintas sektor dan lintas generasi.

Ketua Acara OMJ Rahmanto Adi menyatakan OMJ hadir dalam menjawab problem kenapa Kebudayaan di Kabupaten Blitar sulit berkembang. Ada Ritual Jamasan Gong Kyai Pradah, Reyog Bulkiyo, Larung Sesaji Desa Tambakrejo, dan masih banyak kebudayaan di Kabupaten Blitar yang hanya sekedar menjadi destinasi.

“Belum lagi problem lintas generasi, dimana anak-anak muda saat ini belum peduli dengan hadirnya kebudayaan sebagai bagian dari proses pembangunan. Semacam ada keterputusan antara generasi pewaris dengan generasi yang akan mewarisi kebudayaan tersebut. Untuk itulah OMJ hadir dengan format diskusi setiap satu bulan sekali di Sekretariat Dewan Kesenian Kabupaten Blitar ini,” kata Rahmanto Adi.

Dalam launching OMJ, hadir sebagai pemantik diskusi, Rangga Bisma Aditya, Direktur PKBM Tunas Pratama. Sekretaris Dewan Kesenian Jawa Timur (DKJ) 2014-2016 ini memaparkan materi ‘Mau Kemana Kebudayaan Kita?’.

Dalam materinya, Rangga memaparkan tentang problem utama tantangan perubahan kebudayaan global yang memang mengerucutkan kepada kebutuhan terhadap Pokok Pemikiran Kebudayaan Derah di Kabupaten Blitar. “Salah satu amanah UU dalam memajukan kebudayaan daerah adalah dengan merumuskan Pokok Pemikiran Kebudayaan Daerah (PPKD),” tutur Rangga.

Kedepan menurut Rangga, PPKD inilah yang dijadikan acuan dalam merumuskan Strategi Kebudayaan Nasional dalam melindungi, mengembangkan, memanfaatkan, objek kebudayaan serta membina SDM Kebudayaan. “Nantinya Strategi Kebudayaan Nasional dapat menciptakan ekosistem kebudayaan seperti di Korea Selatan dengan Korean Wave atau Amerika Serikat dengan Industri Budaya Pop-nya,” tegasnya.

Lebih lanjut Rangga menjelaskan bahwa Pemkab Blitar harus membentuk Tim Perumus PPKD, dimana tim tersebut harus melibatkan akademisi, budayawan, seniman, dewan kesenian, perwakilan komunitas dan organisasi seni budaya, pemangku adat, serta orang yang kompeten dalam kajian pemajuan kebudayaan.

“Karena hanya dengan hal tersebut, tantangan pembangunan kebudayaan di Kabupaten Blitar Dapat diwujudkan dengan beberapa gagasan seperti pembentukan desa budaya, perumusan teknis implementasi kurikulum berbasis kebudayaan masyarakat, hingga pembaharuan tampilan kebudayaan melalui paradigma millennial,” papar Rangga.

Acara yang digelar, Kamis (24/05) malam itu juga dihadiri Kepala Bidang Kebudayaan Disbudparpora Kabupaten Blitar Hartono, Ketua Dewan Kesenian Kabupaten Blitar Wima Brahmantya, Ketua Umum ASIDEWI Andi Yuwono, serta beberapa komunitas lintas sektor.

Seperti D’Traveller, ICB Korwil Kanigoro, BPK OI Kabupaten Blitar, Komunitas Beatbox, Komunitas Pelestari Candi Mleri, Sanggar Teater Waseso Nugroho, dan UKM Teater Unisba Tali Usil.

Mayoritas para peserta mengapresiasi acara tersebut dan diharapkan dengan perumusan Pokok Pemikiran Kebudayaan Daerah akan mengurai problem utama kebudayaan kabupaten blitar seperti keterputusan antar generasi dapat menjadikan kebudayaan sebagai Way Of Life di lingkungan masyarakat. (ist)

Add Comment