Bondowoso Punya Musik Tradisional ‘Tong-Tong’

foto
Grup musik ‘Tong-Tong’ asal Bondowoso saat pentas di TMII Jakarta. Foto: Galamedianews.com/Eddie Karsito.

Apa sebenarnya yang menjadi sense (rasa) dari dinamika musik? Setidaknya banyak aspek bernilai estetis dari musik. Mulai dari kontur (naik turun melodi), timbre (warna suara), reverberasi (akustik ruang), irama, hingga style (gaya), dan sebagainya.

Ada hal menarik dari musik ‘Tong-Tong’ yang dipergelarkan di acara Anugerah Duta Seni Budaya Jawa Timur, di Anjungan Jawa Timur Taman Mini Indonesia Indah (TMII), beberapa waktu lalu.

Grup musik ‘Tong-Tong’ ini hadir memperkuat pertunjukan seni drama tari bertajuk ‘Legenda Gunung Putri’ dan tarian ‘Molong Kopi,’ yang dipersembahkan kelompok duta seni dari Bondowoso, Jawa Timur. ‘Tong-Tong’ tampil inspiratif dan berhasil memadukan harmoni sekaligus menguatkan tematika cerita yang dibawakan.

Musik ‘Tong-Tong’ sebenarnya tak beda dengan musik ‘Patrol’, yang juga berkembang di sejumlah daerah di Jawa Timur. Seperti Jember, Banyuwangi, Jombang dan kota-kota lainnya.

Namun kelompok seniman dari Bondowoso ini, tidak menyebut olah keseniannya sebagai musik ‘Patrol’. “Kalau Patrol sudah identik dengan daerah lain, seperti Jember. Kami ingin Bondowoso juga punya musik tradisional yang khas, yaitu ‘Tong-Tong,” ujar Endah Listyorini SSn, sutradara pertunjukan ini sekaligus wakil seniman dari Kabupaten Bondowoso, seperti dikutip Galamedianews.com.

Musik ‘Tong-Tong’ menggunakan alat musik sederhana berupa kentongan. Terbuat dari kayu dan bambu dengan berbagai skala ukuran, yang menimbulkan beragam bunyi-bunyian. Semua jenis kentongan ini dikolaborasikan menjadi satu sajian suara yang indah dan enak didengar.

Keindahan musik ‘Tong-Tong’ Bondowoso, menciptakan berbagai sensasi nada. Membawa penikmatnya seakan-akan menyatu dengan alam. Musik ini memiliki nilai-nilai filosofis ke-alam-an dalam setiap dentuman bunyinya. Memberi ruang penyadaran, bahwa manusia dan alam adalah satu dan bersifat mutualisme.

“Keduanya memiliki kesamaan yang padu. Hubungan manusia dengan alam harus seimbang. Artinya, manusia tidak boleh merusak alam jika tidak ingin dirusak oleh alam,” kata Ryan, penata musik pertunjukan ini.

Seni drama tari ‘Legenda Gunung Putri’ mengisahkan cerita rakyat dari daerah Bondowoso. Sebagian masyarakat meyakini tentang adanya seorang putri yang bertapa di sebuah gunung tertelak di Desa Pelinggihan Wringin. Dalam pertapaannya, sang putri akhirnya tertidur selamanya. Sejak itu hingga kini gunung tersebut diberi nama ‘Gunung Putri.’

Cerita lakon ini ditulis Junaidi, dan disutradarai sekaligus penata tari, Endah Listyorini SSn. Musik digarap Ryan dan Kelompok Musik Tong-Tong. Kemudian tata panggung dan property dipercayakan kepada Em Syahri dan Emi Puji Astuti.

Di kabupaten Bondowoso ada belasan situs Megalitik, antara lain; Dolmen (batu sesaji), Punden berundak (tempat pemujaan), Sarkofagus (penyimpan jenazah/kubur batu), batu Menhir, batu Kenong, Pelinggih dan Stunchambers (batu ruang).

Ada juga Goa Buto, Ekopak, Abris Sous Roche (goa ceruk batu karang), dan kekayaan alam lain, yang merupakan potensi destinasi pariwisata Bondowoso. Kekayaan alam ini juga dipresentasikan dan menjadi bagian dari pertunjukan yang mereka tampilkan melalui empat pelawak pemain ‘Kentrung.’ (ist)

Add Comment