Menelusuri Perkembangan Awal Islam di Malang Raya

foto
Kawasan makam Sunan Giri, terkait perkembangan Islam di Malang. Foto: Republika.co.id.

Di antara kota dan kabupaten di Jawa Timur, Malang Raya disebut sebagai salah satu pedalaman mengingat letak geografisnya. Kawasan ini dikelilingi beberapa gunung, seperti Semeru, Bromo, Arjuno, Kawi dan sebagainya. Karena faktor ini, Malang Raya terkenal lebih lamban penyebaran Islamnya dibandingkan daerah-daerah pesisir.

Seperti diketahui, Islam masuk ke Nusantara melalui para pedagang dari wilayah Timur Tengah. Perkembangan yang paling cepat terjadi berada di kawasan pesisir terutama di Pantura.

“Tapi, kalau pantai paling selatan agak akhir sebarannya karena pendaratan para pedagang lebih sering terjadi di pesisir utara,” kata sejarawan dari Universitas Negeri Malang (UM), Dwi Cahyono saat ditemui wartawan Republika.co.id di kediamannya di Malang.

Sementara ihwal penyebaran Islam di Malang Raya, Dwi mengaku, datanya lebih pada tradisi lisan. Sejauh ini, para sejarawan Malang Raya masih belum mampu mendapati data tekstual terkait perkembangan awal Islam di Malang Raya.

Jikalau merujuk pada tradisi lisan, islamisasi di Malang Raya berpusat pada tokoh Gribig atau Gidibig. Adapula yang berpusat pada kerajaan otonom yang sempat berkembang di Malang Raya, Sengguruh atau Tanjung Sengguruh.

“Dan tradisi lisan ini sudah dihimpun dalam literatur yang ditulis oleh Piguet sekitar 1960-an. Piguet memuat berbagai tradisi lisan yang ada di Jawa termasuk di Malang Raya berkenaan tentang Gribig dan Sengguruh,” ujarnya.

Menurut Dwi, tokoh Gribig di sini bukan Ki Ageng Gribig yang dikenal masyarakat Malang saat ini. Tokoh ini lebih dulu muncul meski memiliki nama sama dengan Ki Ageng Gribig. Oleh sebab itu, dia membedakan keduanya dengan sebutan Gribig senior dan junior.

Tokoh Gribig, memiliki peranan penting dalam menyebarkan Islam terutama di Malang bagian Timur. Berdasarkan legenda di masyarakat, tokoh Gribig merupakan murid dari Syekh Manganti. Syekh Manganti dikenal sebagai tokoh Muslim yang berada di Surabaya bagian selatan.

“Dan berdasarkan sumber tradisi yang berkembang di daerah Surabaya dan Gresik, itu masih ada makam kuno beliau. Beliau merupakan paman dari Giri,” ujarnya.

Dwi berpendapat, masa hidup Syekh Manganti belum tentu di masa Sunan Giri yang dikenal sebagai Walisongo. Giri di sini bisa jadi keturunan Walisongo Sunan Giri atau Sunan Prapen. Sebab di era tersebut, Giri bukan lagi pesantren, tapi pusat pemerintahan berkekuatan politik dengan latar keislaman.

Dia menilai, tokoh Syekh Manganti di sini dapat dipastikan hidup setelah masa Sunan Giri yang dikenal sebagai Walisongo. Lalu apa hubungannya Manganti dengan Gribig?

“Gribig itu muridnya yang ditempatkan di Malang dengan mengambil posisi yang sekarang di Kota Malang bagian timur. Dan untuk apa di Malang?” tegas Dwi.

Penempatan Gribig di Malang memiliki dua tujuan. Pertama, untuk mengislamkan daerah pedalaman seperti Malang Raya. Jika legenda ini benar, maka dapat dipastikan asal muasal keislaman di Malang berasal dari Surabaya – Gresik.

Kemudian tujuan penempatan Gribig berikutnya lebih pada masalah politik. Gribig ditugaskan untuk mengontrol Kerajaan Sengguruh yang saat itu masih beragama Hindu. Keberadaan Sengguruh termasuk luar biasa mengingat beberapa tempat di Jatim sudah diislamkan, termasuk Majapahit.

Kerajaan Sengguruh telah berkembang sebelum Majapahit mengalami keruntuhan. Kerajaan otonom ini hadir di masa yang sama dengan Majapahit era Girindrawardhana Wangsa. Dengan kata lain, kerajaan Sengguruh muncul di akhir abad 15 dengan status otonom.

“Statusnya kerajaan otonom walaupun Raja Pramana memiliki kekerabatan dengan raja terakhir Majapahit di Kediri, Patih Udara,” tambah dia.

Dengan kemampuannya, Raja Pramana mampu mengembangkan Sengguruh tanpa harus meminta persetujuan dari Majapahit. Sengguruh berhasil menjadi kerajaan kuat meski berada di lokasi terpencil. Lokasinya, berada di Malang selatan atau saat ini disebut sebagai wilayah Kepanjen di Kabupaten Malang.

Menurut Dwi, Kerajaan Sengguruh tepat berada di pertemuan antara Sungai Brantas dan Kali Metro. Ditambah lagi, lokasinya dikelilingi bukit-bukit kecil sehingga tampak terisolasi. Karena letak ini, Kerajaan Sengguruh tidak mudah ditaklukkan oleh lawan.

Bukan hanya sulit ditaklukkan, Kerajaan Sengguruh juga disebut kuat karena sempat menduduki kesultanan Giri.

“Cuma beberapa lama dan baru berakhir sekitar 1530-an. Ini berakhir karena Pasuruan yang merupakan jalur antara Malang dengan Gresik berhasil dipotong Kerajaan Demak. Karena Pasuruan ditaklukan Kerajaan Demak, pendudukan Giri pun ditarik,” tegasnya.

Dibandingkan kerajaan lainnya di Jatim, Sengguruh disebut sebagai wilayah terakhir yang berhasil ditaklukkan Demak. Pusat Majapahit di Kediri berhasil dikuasai Demak sekitar 1517 sedangkan Pasuruan pada 1530-an.

Sementara Kerajaan Sengguruh berhasil dikuasai sekitar 1545. “Ini petunjuk bahwa kerajaan Sengguruh cukup kuat,” kata dia.

Dari hal ini, Dwi berpendapat, ekspansi Demak ke Sengguruh jelas membutuhkan tim intelijen untuk mengawasi apa yang terjadi di Malang Selatan.

Tokoh Gribig bukan semata-mata menyiarkan Islam tapi juga memiliki maksud politis di dalamnya. Dia diminta Kerajaan Demak yang bekerjasama dengan Giri untuk mengawasi Sengguruh. “Bantuan untuk Demak karena sesama penguasa Islam dan balas dendam juga dari Giri saat penaklukan dulu,” tambah dia.

Dengan adanya penaklukan ini, Sengguruh sudah mulai memasuki babak awal perkembangan Islam. Seluruh kerajaan yang di bawah kekuasan Demak berubah dengan latar Islam termasuk Sengguruh. Dari sini, Ki Ageng Sengguruh menjadi penguasa Islam pertama setelah Raden Pramana.

Di antara berbagai area Malang, Dwi mengungkapkan, bagian barat yang paling terakhir perkembangan Islamnya. Islam berkembang di sana baru terjadi abad 17, itu berarti satu abad berikutnya setelah penaklukan Kerajaan Sengguruh. “Wilayah ini memang lebih pedalaman lagi,” ujar Dwi.

Islamisasi di Malang barat tak lepas dari sosok Raden Trunojoyo yang membangun benteng di Ngantang, Kabupaten Malang. Bersama tokoh handal militer dari Kerajaan Gowa, Karaeng Galesong, mereka bersama-sama melawan Belanda dan Kesultanan Mataram. Dengan mendirikan benteng di atas bukit tinggi Ngantang, mereka dapat memonitor pergerakan lawan dari atas.

Namun sayangnya pada 1679, pertahanan Trunojoyo berhasil dikalahkan Belanda dan Kesultanan Mataram. Trunojoyo ditangkap dan dibunuh oleh Sultan Mataram sekitar 1680.

Sementara Karaeng Galesong mengalami sakit, entah sejak setelah atau sebelum perang terjadi. “Dan tokoh yang terkenal di Gowa ini makamnya ada di pedalaman Malang, Ngantang,” ujarnya.

Setelah digempur Belanda dan Kesultanan Mataram, para laskar Trunojoyo berpencar mencari perlindungan. Hampir sebagian besar termasuk tokoh pentingnya lari ke berbagai desa di Malang barat, termasuk ke Ngantang, Pujon dan beberapa wilayah di Kota Batu.

Penguatan ajaran Islam semakin besar ketika eks laskar Untung Suropati dan Pangeran Diponegoro lari ke Malang Raya. Sekitar 1750-an, mereka memasuki Malang dan memberikan dampak yang kuat pada pemahaman Islam warga setempat. Hal ini lebih tepatnya terjadi di Malang tengah dan selatan.

Seiring perkembangan waktu, Islam pun terus berkembang di Malang Raya. Namun sayangnya, Islam di Jawa lebih kental dengan pengaruh budaya Jawa atau Islam Kejawen. “Itu wajar karena ajarannya dibawa oleh para eks laskar tersebut,” tambah dia.

Gerakan memurnikan Islam di Malang Raya lebih mendapatkan pengaruh dari Bangil dibandingkan Ampel karena kedekatan wilayah. Kemudian semakin kuat saat terjadinya gelombang migrasi besar-besaran dari Yaman ke Asia Tenggara termasuk Indonesia dan Malang sekitar 1850-

an. Hal ini terlihat jelas dengan adanya kampung Arab di beberapa titik di Malang, seperti di sekitar Masjid Jamik atau Alun-alun Kota Malang. “Dan di sana terlihat warna Islamnya agak berbeda,” tegasnya. (ist)

Add Comment