Ubaya Hadirkan Peradaban Multikultural Majapahit

foto
Rektor Ubaya Prof Joniarto Parung PhD saat peresmian Museum Temporary of Ubaya. Foto: Suarasurabaya.net.

Bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2018 lalu, Universitas Surabaya (Ubaya) meresmikan museum temporary of Ubaya yang bekerjasama dengan Museum Gubug Wayang Yensen di gedung Perpustakaan Ubaya.

Mengusung konsep ‘Spirit of Majapahit’, Museum Temporary of Ubaya ingin mengajak kembali masyarakat maupun mahasiswa untuk melihat peradaban Indonesia yang pernah berjaya pada masa kerajaan Majapahit dengan multikultural yang tumbuh dalam kerajaan tersebut.

Diungkapkan Direktur Museum Gubug Wayang Yensen Project Indonesia Cyntia Handy bahwa Kerajaan Majapahit dulunya dikenal sebagai kerajaan yang menyatukan Nusantara. Pihaknya menilai jika sudah seharusnya generasi muda maupun masyarakat luas belajar dari nenek moyang yang sudah memiliki keberagaman budaya maupun agama sejak dulu.

“Kerajaan Majapahit banyak sekali keberagamannya mulai dari India, China, Persia bahkan percampuran yang akhirnya membentuk suatu identitas itu. Mereka bahkan memiliki jangkauan wilayah lebih luas karena mereka memiliki ‘Spirit of Majapahit’ yaitu berbudaya, berbangsa dan beragama,” paparnya, seperti dikutip Harian Bhirawa.

Sehingga, lanjut dia mereka memiliki jiwa nasionalisme yang tinggi sekaligus tentu saja mereka mempunyai arahan dari Tuhan yang Maha Esa.

Cynthia Handy yang juga Mahasiswa Psikologi Ubaya ini juga menilai jika apa yang dijaga kerajaan Majapahit waktu itu, sangat linier dengan visi misi Ubaya saat ini. Hal tersebut bisa terlihat dari tag line Ubaya yang sangat menjaga multikultural.

“Dengan adanya Spirit of Majapahit dengan berbagai keberagaman dari Ubaya ini tentu menjadi ikatan yang kuat bagi warga Ubaya,” imbuhnya

Selain itu, tambahnya pihaknya juga ingin mengajak mahasiswa mempunyai spirit kesatuan dan persatuan yang tinggi sehingga bersinergi untuk berinovasi dan berkreasi untuk kedepannya.

Dalam Museum Temporary of Ubaya, mereka menampilkan sebanyak 774 koleksi terakota dari masa Kerajaan Majapahit. Terakota yang terpajang menurut panitia berusia 500 hingga 700 tahun. Selain itu, terakota tersebut di temukan sekitar abad ke 14 dan 15.

“Kenapa terakota? Karena ini adalah pondasi awal mula kita menyelamatkan terakota tertua peninggalan Majapahit. Setelah itu kita akan bergerak ke arah selanjutnya, yaitu wayang, topeng dan sebagainya,” urai Direktur Museum Gubug Wayang Yensen Project Indonesia.

Ia berharap dengan adanya museum temporary of Ubaya yang mengusung ‘Spirit of Majapahit’ bisa menjadi e-memory bagi generasi muda bangsa maupun masyarakat, untum menjaga keharmonisan dan kesatuan NKRI. “Dengan multikultural yang dimiliki Ubaya salah satunya, saya berharap Ubaya bisa menjadi batu oenhuru untuk menjaga multikuktural bangsa,” pungkasnya.

Ditemui di tempat yang sama, Rektor Ubaya Prof Joniarto Parung PhD menuturkan jika peresmian museum temporary of Ubaya sebagai bentuk dari kebijakan pemerintah tentang Pengembangan karakter pendidikan.

“Salah satu upaya yang kita lakukan adalah dengan mempelajari budaya asli bangsa Indonesia. Kita bisa belajar dari sejarah bangsa dalam pengembangan karakter ini,” sahutnya.

Prof Joniarto Parung berpesan bahwa setiap masyarakat dari berbagai kalangan harus menghargai budaya asli bangsa Indonesia.

Pihaknya menghimbau agar masyarakat juga belajar mengenai apa yang diperolehnya saat ini yang merupakan hasil dari alkulturasi berbagai budaya yang dimiliki bangsa.

“Jaman dulu bangsa kita aktif berinteraksi dengan berbagai bangsa yang ada di dunia. Kita harus terbuka, hati dan pikiran kita untuk melihat perubahan dunia dan menjalin kerjasama dengan mereka,” tandasnya.

Secara keseluruhan terdapat 774 terakota yang ada di Museum Temporary of Ubaya. Sebanyak 767 terakota asli berasal dari zaman Kerajaan Majapahit.

Sedangkan 7 terakota merupakan hasil replika. Meskipun hanya sebuah replika, namun proses pembuatannya dibuat sama persis oleh pengrajin batu bara yang disebut Linggan dengan terakota yang asli.

Selain menampilkan berbagai artefak, museum temporary of Ubaya juga mendatangkan para Linggan asal Trowulan yang disebut merupakan pusat Kerajaan Majapahit pada zaman dahulu.

Pada Museum temporary of Ubaya, para Linggan menunjukkan keahliannya sebagai pengarajin batu bara dalam mengukir logo Universitas Surabaya (Ubaya)

Adapun berbagai bentuk terakota yang pajang dalam museum temporary of Ubaya adalah kendi air, celengan babi, koin-koin, pondasi sumur, tungku, gerabah, candi, hiasan rumah dan lainnya.

“Harapan saya, museum ini kan seperti media bagi kita untuk refleksi, bagaimana sih keadaan yang terjadi saat masa lalu. Melalui ini kita bisa belajar bersama dan kemudian melestarikan sejarah yang ada. Ubaya sebagai bagian dari Bangsa Indonesia sama-sama mencari jati diri kita dahulu seperti apa,” ulas Ketua Departemen Mata Kuliah Umum (MKU) Ubaya Aluisius Hery.

Rajut Kembali Multikultural
Kondisi Indonesia yang sedang diguncang isu multikultural secara terus menerus, dinilai beberapa kalangan mengalami penurunan dalam peradaban bangsa.

Penilaian tersebut salah satunya datang dari ketua tim arkeolog Gubug Wayang Yensen Project Indonesia Christiawan. Menurut Christiawan peradaban bangsa saat ini mengalami penurunan dari berbagai aspek. Misalnya dalam kehidupan beragama, sosial masyarakat, sosial politik dan sebagainya

“Kalau kita membangun mental kita, dan merubah paradigma kita dalam menerima keadaan multikultural bangsa dan mau belajar tentang peradaban bangsa waktu itu, perubahan akan terjadi,” ungkapnya.

Di mana, lanjut dia peradaban bangsa pada masa itu sangat menjaga keseimbangan antar manusia dengan alam.

“Prinsip mengelola alam dan prinsip peradaban sangat dijunjung pada waktu itu. Konteksnya selalu dikembalikan ke alam. Bagaimana ada prosesi yang diperuntukkan oleh alam. Oleh karenanya keseimbangan antara manusia dengan alam, itu yang perlu kita tanamkan pada generasi saat ini,” imbuhnya.

Salah satu media tersebut, katanya adalah artefak. Di mana dalam sebuah artefak masyarakat bisa belajar dan memahami tentang keberagaman bangsa Indonesia pada waktu peradaban kerajaan maupun manusia purba.

Christiawan menjelaskan bahwa banyak hal yang diambil dari sebuah artefak, baik dari sisi sejarah maupun arsitektural. “Beberapa artefak justru menunjukkan harmoni pada abad itu,” tambahnya.

Sebagai arkeolog Christiawan menjelaskan bahwa masyarakat Indonesia perlu belajar dari ‘Spirit Majapahit’ untuk mengembalikan multikultural yang sudah mulai hilang dalam kehidupan masyarakat.

“Kita bisa belajar dari spirit Majapahit yang menunjukkan semangat dan energi multikultural pada zaman dulu yang cukup substansi dan sederhana terutama dalam perbedaan beragama,” pungkasnya. (bhi)

Add Comment