Cetak Duta Seni Budaya Indonesia Lewat BSBI

foto
Peserta program BSBI mempertunjukkan kebolehan membawakan kesenian tradisional. Foto: Antara/Budi Candra Setya.

Lima belas tahun silam, tepatnya 2003, Kementerian Luar Negeri Indonesia mulai menyelenggarakan program Beasiswa Seni dan Budaya Indonesia (BSBI).

Masih berlangsung hingga saat ini, program tersebut salah satunya bertujuan mencetak ‘duta’ untuk mempromosikan keberagaman Indonesia kepada dunia.

Menteri Luar Negeri Retno Marsudi menjelaskan, program BSBI diinisiasi pada perhelatan South West Pacific Dialogue (SWPD) yang merupakan forum dialog beranggotakan enam negara, yakni Australia, Filipina, Papua Nugini, Timor Leste, Fiji, dan Indonesia.

“Tujuan dibentuknya program ini (BSBI) adalah untuk persahabatan. Persahabatan antarmanusia, antarmasyarakat,” kata Retno dalam wawancara khusus dengan Republika.co.id, di Jakarta, Jumat (29/6).

Melalui BSBI, Indonesia mengajak generasi muda dari berbagai negara untuk mempelajari seni dan budaya Indonesia.

Untuk menjadi peserta program ini, para pemuda/pemudi mancanegara yang berminat akan diseleksi terlebih dahulu oleh Kedutaan Besar Indonesia di negara terkait. Setelah proses seleksi, mereka yang terpilih akan dibawa ke Indonesia untuk menjalani program BSBI.

Program BSBI tahun ini diikuti 72 peserta dari 44 negara. Dari jumlah itu, lima peserta di antaranya dari Indonesia. Persisnya, mereka berasal dari Papua Barat, Maluku, Bengkulu, Yogyakarta, dan Jakarta.

Direktorat Jenderal Informasi dan Diplomasi Publik Kementerian Luar Negeri selaku pihak yang bertanggung jawab atas program ini, setiap tahunnya memilih daerah-daerah penempatan untuk para peserta. Tahun ini terdapat enam daerah yang dipilih yakni Padang, Kutai Kartanegara, Makassar, Bali, Banyuwangi, dan Yogyakarta.

Para peserta terpilih kemudian disebar ke daerah-daerah tersebut untuk mempelajari seni, budaya, juga bahasa. Menurut Retno, hal yang menarik dari program ini adalah para peserta tinggal di tengah-tengah masyarakat.

“Jadi pemahaman mereka terhadap apa yang dinamakan nilai-nilai dan kearifan lokal juga betul-betul dirasakan,” ujar dia.

Program BSBI tahun ini telah berlangsung sejak 28 Maret lalu dan akan berakhir pada 4 Juli mendatang. Di akhir program, para peserta akan dikumpulkan kembali untuk tampil dalam sebuah acara bertajuk Indonesia Channel.

“Di acara itu mereka akan tampil dan menunjukkan hasil dari mereka belajar (seni dan budaya Indonesia, red) selama tiga bulan,” ungkap Retno.

Mengusung tema “Beautiful Colour of Indonesia”, pergelaran Indonesia Channel tahun ini digelar Rabu (4/7) malam di Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

Retno mengatakan, sejak kali pertama dilaksanakan hingga kini, BSBI telah menghasilkan 848 alumni dari 74 negara. Menurutnya, tak sedikit dari mereka yang kini menjadi duta bagi Indonesia di negaranya masing-masing.

“Ada yang pada saat kembali (ke negara asal peserta, red) kemudian membentuk seperti sanggar seni untuk Indonesia, ada yang membentuk kelompok gamelan, ada juga yang mengajar Bahasa Indonesia. Pada akhirnya, selain menjadi jembatan kita, mereka juga menjadi mitra bagi kedutaan-kedutaan besar kita di luar negeri untuk mempromosikan Indonesia,” terang Retno.

Selain mencetak duta, menurut dia, program BSBI juga sejalan dengan misi diplomasi Indonesia, yakni diplomasi perdamaian. Ia berpendapat, pecahnya perang atau konflik di dunia kerap bermula dari ketidakpahaman dan ketidaktahuan.

Ia menyebut Fiji sebagai contoh. Kendati letak Fiji cukup dekat dengan Indonesia, tetapi pemahaman masyarakat di sana tentang Indonesia belum tentu memadai. “Indonesia seberapa besar sih, negaranya, budayanya seperti apa, dan sebagainya,” ucapnya.

Nah, melalui BSBI, masyarakat, terutama generasi muda Fiji, berkesempatan mengetahui lebih dalam tentang Indonesia. Selain mempromosikan Indonesia, mereka pula yang akan menjembatani hubungan dengan Fiji.

“Pada akhirnya kalau masyarakat saling kenal, saling paham, ini jadi salah satu alat bagi kita untuk menciptakan perdamaian. Perdamaian bermula dari persahabatan. Jadi grand design-nya adalah untuk perdamaian, tapi kita menggunakan alat berupa budaya, bahasa, dan seni untuk menjembatani,” kata Retno.

Ia juga mengatakan, seni dan budaya merupakan softpower. “Kalau orang bicara mengenai seni, budaya, bahasa, itu lebih mudah. Softpower biasanya lebih mudah digunakan untuk, katakanlah tools (alat), dalam diplomasi,” katanya.

Melalui BSBI, Indonesia pun ingin menunjukkan kepada dunia tentang keberagaman dan kebhinekaan Indonesia. “Kita kan terus mempromosikan keberagaman karena fitrah manusia selalu berbeda. Menghormati perbedaan itu juga nilai yang ingin kita sebarkan,” ucapnya.

Karena itu, program BSBI akan dilanjutkan dan diperbaiki dari tahun ke tahun. Evaluasi pun terus dilakukan agar pelaksanaan BSBI semakin baik. “Dan yang jelas program ini akan terus kita pakai sebagai alat untuk menopang diplomasi perdamaian kita.” (rep)

Add Comment