Pentingnya Digitalisasi Manuskrip Keagamaan

foto
Dosen Unhasy Agus Sulton menunjukkan manuskrip Alquran di Ponpes Tebuireng, Jombang. Foto: Republika.co.id.

Aceh merupakan tempat lahirnya pujangga penulis naskah-naskah keagamaan. Nama-nama besar seperti Hamzah al-Fansuri, Syamsuddin al-Sumatrani, Nuruddin Ar-Raniri, dan Abdurrauf al-Singkili merupakan tokoh-tokoh yang lahir dan bermukim di Aceh.

Karya-karya tokoh tersebut menginspirasi para ulama di Nusantara. Bahkan karya-karyanya mengininspirasi para ulama di Asia Tenggara. Karya para tokoh tersebut tidak sedikit yang menjadi referensi ulama Hijaz Timur Tengah.

Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan (Puslitbang) Lektur, Khazanah Keagamaan dan Manajemen Organisasi (LKKMO) Badang Penelitian, Pengembangan, Pendidikan dan Pelatihan dari Kemenag RI, Dr Muhammad Zain mengatakan, ironis karya-karya besar para tokoh sebagian besar masih tersimpan dan berserakan di masyarakat.

Ia menyampaikan, bersama tim dari Puslitbang LKKMO pada April 2018 mengunjungi tempat-tempat penyimpanan manuskrip keagamaan di Kabupaten Aceh Besar dan Kota Banda Aceh. Tim mengunjungi seorang pemuda yang menyimpan 400 manuskrip.

Manuskrip yang dikoleksinya berjenis mushaf Alquran dari abad ke-16 masehi dan kitab-kitab ilmu pengetahuan agama. Seperti kitab fiqih, tasawuf, ilmu falaq, ilmu tajwid, sejarah Aceh, obat-obatan dan azimat serta tabir gempa. Tapi manuskrip-manuskrip tersebut belum dikatalogisasi dan digitalisasi.

“Pada umumnya naskah-naskah (manuskrip) tersebut diproduksi antara abad ke-17 sampai 19 masehi, kondisi naskah-naskah ini masih belum mendapatkan perawatan yang baik, keadanannya sudah rusak bahkan terpisah dari jilidan dan koyak-koyak,” ujarnya kepada Republika.co.id.

Dr Zain melanjutkan, kemudian tim menemui seseorang yang memiliki 600 manuskrip. Orang tersebut menyimpan sejumlah karya-karya besar dan penting seperti karya Abdurrauf al-Singkili, Miratut Tullab dan karya-karya pertama Nuruddin Ar-Raniri. Selain itu banyak juga kitab-kitab penting lainnya.

Ia menjelaskan, kondisi manuskrip tersebut sebagian sudah disortir, tapi belum membuat katalog dan didigitalisasi. Meski demikian orang tersebut menjaga baik manuskrip-manuskrip itu. Juga terbuka memberikan kesempatan kepada pengkaji dan penelaah manuskrip. Orang itu juga membuka pintu kerjasama penyelamatan manuskrip dengan lembaga Pemerintah Indonesia.

“Namun dia tidak memberikan fisik atau kopi digital manuskripnya kepada lembaga-lembaga dari luar negeri, baik dalam bentuk kerjasama, menjual menyimpan di lembaga-lembaga tertentu di luar negeri,” jelasnya.

Dr Zain menegaskan, langkah konkret yang mendesak dan harus dilaksanakan segera adalah katalogisasi dan digitalisasi manuskrip. Supaya penyelematan dapat dilakukan setahap demi setahap. Berikutnya melakukan kerjasama dengan lembaga restorasi seperti Perpustakaan Nasional. Kemudian melakukan kajian untuk menelaah isi manuskrip dan melahirkan buku-buku.

“Naskah-naskah yang berbentuk petuah dan sejarah perlu dicetak ulang dan dikemas secara sederhana dan menarik untuk dipersembahkan kepada masyarakat, agar mereka paham dan melek sejarah kekayaan leluhurnya,” ujarnya.

Menurutnya, manuskrip-manuskrip warisan bangsa tersebut perlu menjadi bahan kurikulum muatan lokal di sekolah. Supaya generasi sekarang dan akan datang dapat melek sejarah dan paham pengetahuan masa lampau. (rep)

Add Comment