Ritual ‘Manten Kopi’ Sejak Era Kolonial di Blitar

foto
Tokoh adat saat upacara adat Temanten Kopi di Blitar. Foto: Antara/Irfan Anshori.

Pemilik Kebun Kopi ‘Karanganjar’ di Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar, menggelar ritual ‘Manten Kopi’. Ritual sebagai tanda musim panen dan giling ini sebagai wujud rasa syukur atas hasil panen yang melimpah serta kualitas hasil panen biji kopi yang baik.

“Kami menggelar kegiatan ini untuk melestarikan budaya leluhur, sekaligus sebagai permohonan agar panen kopi kali ini bisa melimpah,” kata Wima Bramantya, Pengelola Kebun Kopi ‘Karanganjar’ Kecamatan Nglegok, Blitar, Sabtu (7/7).

Wima Bramantya mengungkapkan, ritual ini sekaligus upaya untuk menarik kunjungan wisatawan, baik domestik maupun mancanegara. Di tempat ini bukan hanya ada kebun kopi, tapi juga dilengkapi berbagai fasilitas termasuk tempat menginap.

Ritual untuk menandai masuknya musim panen dan giling biji kopi yang sudah dilakukan masyarakat lereng gunung Kelud sejak masa penjajahan kolonial Belanda tersebut sebagai wujud rasa syukur atas hasil panen yang melimpah serta kualitas hasil panen biji kopi yang baik.

Ritual ini seperti dikutip Tagar.id, diawali dari depan wisma loji di area kebun. Rombongan pengiring manten membawa berbagai macam sesaji lengkap untuk ritual misalnya bunga.

Rombongan pengiring langsung menuju lokasi perkebunan. Setelah tiba, sesepuh desa meletakkan sesaji di bawah pohon kopi dan memanjatkan doa. Sesepuh desa membakar dupa dan kemenyan, sehingga aroma khas dupa dan kemenyan langsung semerbak ke sekitar lokasi.

Sesepuh desa kemudian memotong dahan kopi yang banyak berisi buah kopi, lalu dibungkus dengan kain berwarna putih. Selanjutnya, para pekerja langsung mengikuti sesepuh itu, saat proses ritual dengan memetik kopi masih berlangsung.

Kegiatan ritual memetik kopi bukan hanya diikuti para pekerja tapi juga wisatawan asing. Mereka tertarik dengan proses ritual yang mereka anggap unik. Bahkan, wisatawan asing sempat memetik kopi.

Seluruh hasil memetik kopi itu ditaruh ke dalam tempat yang terbuat dari bambu. Selanjutnya, kopi yang telah dipetik diarak menuju tempat pesanggrahan untuk diserahkan ke pengelola dan pemilik kebun, sebagai simbol panen raya kopi telah dimulai.

Para wisatawan yang memetik kopi mengaku mayoritas baru pertama kali ikut dan melihat ritual tersebut. Mereka merasa kagum dengan kebudayaan di Indonesia, sehingga sengaja datang untuk mengabadikan. “Ini menarik sekali, jadi saya sengaja datang ke kebun kopi. Saya juga senang minum kopi,” kata Alan Sage, seorang wisatawan asal Inggris.

Hasil petikan tersebut kemudian digiling, sebagai pertanda dimulainya proses penggilingan kopi. Perusahaan juga berterimakasih, sebab kegiatan ritual berjalan lancar.

Luas Kebun Kopi “Karanganjar” di Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar itu mencapai 206 hektare. Rata-rata dari hasil kopi yang ditanam perusahaan, bisa menghasilkan hingga 100 ton kopi. Untuk penjualan, selain memenuhi pasar dalam dan luar negeri, juga dikemas sendiri, dijual ke wisatawan yang berkunjung ke kebun kopi. (ist)

Add Comment