Makam Sawunggaling, Wisata Sejarah Surabaya

foto
Penanda makam Sawunggaling di Lakarsantri Surabaya. Foto: Ficcaayu.id.

Keberadaan makam Sawunggaling yang terletak di desa Lidah Wetan Kecamatan Lakarsantri Surabaya menjadi saksi sejarah kebesaran kerajaan Surabaya di eranya. Makam yang ditemukan oleh warga di tahun 1901 itu menandai keberadan tokoh yang sangat diagungkan sebagai pejuang Surabaya.

Pada komplek makam yang selalu ramai didatangi para petinggi Surabaya berisi beberapa nisan. Berhiaskan ubin keramik warna putih dengan kelambu warna senada, komplek makam terlihat bersih dan terawat.

Tampak lima deret makam yang berhias bunga segar tanda didatangi pengunjung. Pada masing-masing makam bertuliskan nama yagn terbuat dari kayu jati.

Pertama tampak makam Raden Karyo Sentono yang nama aslinya Wangsodrono. Kedua tertulis makam R Buyut Suruh. Ketiga tertulis makam Raden Ayu Dewi Sangkrah. Keempat makam bertuliskan Raden Sawunggaling. Kelima bertuliskan Raden Ayu Pandansari. Pada nisan kelima makam juga dibungkus kain warna putih yang tampak selalu dicuci.

Kelima makam ukurannya juga tidak umum. Lebih panjang dari makam kebanyakan. Pada masing-masing makam terdapat karpet warna hijau untuk pengunjung yang bertakjizah dan memanjatkan doa.

Tulus Warsito tokoh masyarakat desa Lidah Kulon mengatakan, pada hari Kamis malam Jumat, makam Sawunggaling didatangi warga dari berbagai penjuru kota. Namun, pada hari-hari terentu tokoh masyarakat Surabaya juga menyempatkan berkunjung. Terlebih jika pada masa pilihan legislatif hingga pilihan walikota.

Tetapi diantara Walikota Surabaya yang pernah menjabat, Sunarto Sumoprawiro merupakan walikota yang paling peduli dengan peninggalan sejarah. “Masa kepemimpinan Pak Narto makam diperbaiki dan kini dirawat seterusnya oleh warga,” kata Warsito seraya menyebutkan satu per satu tokoh Surabaya yang kerap ke makam pendiri kota Surabaya itu.

Bukan lantaran mengaku masih keturunan Sawunggaling jika Cak Narto rela membangun dan memperbaiki lokasi makam. Cak Narto sangat menggumi keberanian Sawunggaling terang-terangan berseberangan dengan penjajah Belanda.

Mengenai wisatawan, Warsito juga menyebut cukup banyak. Untuk menarik wisatawan acara tradisional seperti sedekah bumi dan Kemakmuran diselenggarakan secara rutin. “Upacara ini jadi desitinasi sejarah di wilayah kami. Juga selalu ada sedekah bumi dengan menghadirkan puluhan tumpeng yang dikeluarkan warga secara sukarela,” tambahnya. (ita)

Add Comment