Mengusir Seram di Museum Mpu Purwa Malang

foto
Museum Mpu Purwa dilengkapi teknologi QR Code. Foto: Liputan6.com/Zainul Arifin.

Museum dengan sebagian besar koleksinya berupa artefak maupun arca tak selalu tampak suram. Museum bisa dikemas lebih milenial, dilengkapi teknologi modern. Penampilan seperti itulah yang kini bisa dijumpai di Museum Mpu Purwa di Kota Malang, Jawa Timur.

Salah satu museum di Kota Malang ini terlihat cerah dengan tata cahaya, memupus kesan suram. Museum Mpu Purwa mengoleksi 136 artefak sampai arca. Meski hanya 56 koleksi masterpiece yang dipajang. Koleksi itu peninggalan masa Kerajaan Kanjuruhan hingga Majapahit.

Banyak koleksi bernilai sejarah tinggi yang hanya bisa dijumpai di Museum Mpu Purwa. Misalnya, sebuah arca ganesha mengendarai tikus. Arca berukuran sekitar 40 cm x 60 cm ini hanya satu–satunya yang ditemukan di Indonesia. Hanya di India arca serupa bisa dijumpai.

Pengunjung, seperti dilaporkan Liputan6.com, dimudahkan untuk mendapat informasi tiap koleksi itu meski tanpa pemandu. Sebab museum menggunakan teknologi QR Code atau sistem scaning. Pengunjung bisa mendapat informasi berbentuk digital sekaligus langsung mengunduhnya di telepon cerdas miliknya.

Di dalam museum seluas 1.200 meter persegi ini juga terdapat ruang multi media. Pengunjung bisa menikmati film tentang sejarah Kerajaan Singasari yang diputar di ruangan ini. Seluruh fasilitas itu disediakan agar kita bisa menikmati museum dengan cara berbeda.

“Museum ini sangat bagus untuk sarana pendidikan dan rekreasi. Bisa mengembangkan imajisasi dan kreatifitas pengunjung,” kata Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Muhadjir Effendi saat meresmikan Museum Mpu Purwa di Malang, Sabtu (18/7) lalu.

Keberadaan museum ini cukup penting. Apalagi di Malang kerap ditemukan berbagai peninggalan purbakala. Dengan segala kekayaan sejarah masa lalu, masih banyak peninggalan purbakala yang belum dieksplorasi di wilayah ini.

Sejak 1980-2000, Gedung Balai Penyelamatan Benda Purbakala Mpu Purwa berpindah-pindah tempat. Dari Kantor DPU Jl. Halmahera, Tawira, Rumah Makan Cahyaningrat hingga Perpustakaan Umum Kota Malang.

Tahun 2000 Perpustakaan Umum direnovasi, dan Pemkot Malang memberikan gedung bekas SDN 2 Mojolangu sebagai tempat penyimpanan benda cagar budaya dengan nama Balai Penyelamatan Cagar Budaya.

Pegiat seni dan budaya di Kota Malang diharapkan juga memanfaatkan museum ini untuk berbagai kepentingan. Mulai kegiatan ilmiah hingga pertunjukan untuk promosi seni dan budaya. Agar semua produk budaya tak hanya tersimpan di museum atau jadi dokumen semata.

“Ke depan harus banyak museum yang ditata dengan tema tertentu. Akan ada alokasi anggaran khusus untuk museum, apalagi sekarang sudah ada perundangan kemajuan budaya,” ujar Muhadjir. (ist)

Add Comment