Falsafah ‘Guyub-Rukun’ pada Tarian dari Nganjuk

foto
Pergelaran Anugerah Duta Seni Budaya Jawa Timur dari Nganjuk di TMII. Foto: Galamedianews.com.

Terwujudnya masyarakat yang ‘guyub – rukun’ didasari oleh sikap saling menghormati; menghargai, empati, serta tepo seliro (tenggang rasa). Inilah salah satu warisan budaya yang sudah tertanam di dalam jiwa bangsa Indonesia selama ratusan tahun.

Demikian antara lain disampaikan Pj Bupati Nganjuk Drs H Sudjono MM dalam sambutan acara pergelaran Anugerah Duta Seni Budaya Jawa Timur, di Anjungan Jawa Timur, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, pekan lalu.

Dalam konteks budaya kerja dan pelaksanaan program Pemerintahan, ujar Sudjono, guyub – rukun dapat mendorong rasa tanggung jawab, peningkatan kedisiplinan, dan kepatuhan pada aturan.

“Aparatur Negara harus rukun, guyub. Kerja secara normatif, jujur dan amanah. Terjalin komunikasi dan hubungan yang harmonis dengan semua tingkatan. Ngluruk tanpo bolo, menang tanpo ngasorake: berwibawa tanpa mengandalkan kekuasaan, bertindak benar tanpa merendahkan atau mempermalukan yang salah,” ujarnya, seperti dikutip Galamedianews.com.

Nilai-nilai inilah, kata Sudjono, menjadi bagian tak terpisahkan dari kebudayaan kita. Potensi Jawa Timur, dari 38 Kabupaten/Kota, dengan penduduk hampir 40 juta. Nganjuk, 20 Kecamatan, 284 Desa Kelurahan, dengan penduduknya lebih dari satu juta.

“Masing-masing punya karakter dan potensi yang berbeda-beda. Maka nilai-nilai budaya ‘guyub – rukun’ itulah yang menyatukan kita,” tuturnya.

Pergelaran Anugerah Duta Seni Budaya Jawa Timur kali ini, menampilkan paket kesenian daerah dari Kabupaten Nganjuk, dengan tema, ’Pesona Budaya Nganjuk, Nganjuk Sayuk, Anjuk Ladhang Tumandang, Nyawiji Hambangun Nagari’.

Menampilkan berbagai tari dan lagu daerah, yang dikemas dalam tiga segmen; tari ’Maeswara Swantantra Anjuk Ladhang’ , tari ’Gembyang’ dan seni drama tari ’Udaka Bayanaka Ring Cabean’.

Dipenghujung acara kelompok kesenian yang dipimpin langsung Pasiyan SH MM selaku Kepala Bidang Kebudayaan Kabupaten Nganjuk ini, menggelar kesenian Langen Tayub.

Tari ’Maeswara Swantantra Anjuk Ladhang’ menggambarkan rasa syukur atas kejayaan masyarakat Bumi Anjuk Ladhang, mendapat anugerah tanah perdikan (wilayah kerajaan) pada masa Epu Sendok, raja Mataram Hindu yang terakhir.

Hal ini ditandai dengan berdirinya tugu kemenangan; ‘Jaya Stamba.’ ’Gembyang’ merupakan karya tari yang terinspirasi dari proses wisudaan Gembyangan Waranggono Langen Beksa, sebuah tradisi di Desa Ngrajek di Nganjuk.

Menggambarkan semangat Waranggono muda dalam meningkatkan kualitas profesi yang ditekuni.

Seni drama tari ’Udaka Bayanaka Ring Cabean’ menceritakan legenda rakyat ’Udaka Bayanaka’ (sumber mata air) di lereng gunung Pandan, Desa Cabean Ngluyu Kabupaten Nganjuk.

Menggambarkan perjalanan tokoh Raden Mas (RM) Suro Mangun Joyo membangun sumber mata air besar yang diharapkan dapat memberi penghidupan, kesejahteraan masyarakat di sekitar Argo Mulyo. Sehingga sumber mata air itu disebut Umbul Argomulyo. Sumber mata air tersebut menjadi tempat keramat.

Setiap tahun diadakan upacara adat Lebur, yang maknanya membersihkan sumber mata air, serta mengantar doa syukur atas berkah Tuhan Yang Maha Esa.

Kini sumber air tersebut dikelola PDAM Kabupaten Nganjuk dan sebagian dialirkan ke kota. Sumber air yang terletak 650 meter sebelum pintu masuk Goa Margo Tresno tersebut, kini menjadi tempat wisata bernama kolam renang Umbul Argomulyo.(sak)

Add Comment