Mengangkat Cerita-Cerita Jawa Menjadi Film Pendek

foto
Tembang dolanan juga menjadi bagian dari film pendek berbahasa Jawa. Foto: Tribunnews.com.

Menyaksikan film yang diangkat dari novel best-seller merupakan hal yang biasa. Namun, bagaimana rasanya jika menonton film pendek yang diangkat dari cerita pendek berbahasa Jawa?

Di tangan dingin Danang Wijoyanto, dosen Karawitan di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), cerita pendek berbahasa Jawa atau yang lebih akrab disebut cerita cekak (cerkak) dapat dinikmati dengan cara lain.

Ditengah maraknya perkembangan film Indonesia yang diangkat dari novel, Danang mencetuskan ide untuk mengangkat kisah dari cerkak sastra Jawa ke dalam film.

Dosen asal kota Trenggalek ini mengajak mahasiswa Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) menciptakan sesuatu yang baru. Mereka memilih cerkak karya Suharmono Kasiyun berjudul ‘Kakang Kawah Adhi Ari-Ari’.

“Saya sebagai dosen yang memiliki latar belakang bahasa daerah utamanya bahasa Jawa sangat tertarik melakukan proyek ini,” jelas alumnus Universitas Negeri Surabaya itu kepada Tribunnews.com, beberapa waktu lalu.

Pemilihan cerkak itu bukan tanpa alasan. Karya sastra Jawa itu telah menerima beberapa penghargaan bergengsi salah satunya penghargaan Karya Sastra Daerah Jawa Terbaik 2018 dari Yayasan Kebudayaan Rancage.

“Kami memutuskan memilih karya sastra milik Suharmono karena karya ini sangat lekat dengan kebudayaan masyarakat Jawa,” terang Danang.

Ada 12 film pendek diputar dalam festival film dalam Puncak Karawitan 2018. Film-film itu di antaranya Surup, Kembang, Mantu, Peteng sing Ireng, Wiramane Lagu Dhangdut, Sanip Tambak Oso, Gombak, Tamu, Sisihan, Kakang Kawah Adhi Ari-Ari, Ayomi Tyas, Wening, dan Bento.

Festival film itu diapresiasi seluruh mahasiswa PGSD UMM. Salah satunya Dian Armandha. Diakuinya, membuat film bagi mahasiswa PGSD merupakan hal yang baru, namun itu adalah tantangan yang menyenangkan.

“Membuat film itu bukan kebiasaan kami. Jadi memang agak sulit, tetapi tugas itu sangat menantang karena harus banyak melakukan riset,” tutur sutradara film Surup itu.

Dia menambahkan, membuat film adalah salah satu cara bagi mahasiswa PGSD untuk melestarikan budaya, utamanya yang ada di Jawa Timur. Sebagai salah satu program studi yang berfokus pada pengembangan pendidikan karakter, PGSD UMM terus melestarikan budaya Jawa melalui beberapa mata kuliah budaya Jawa seperti Bahasa Jawa dan Karawitan.

“Saya senang sekali bisa terlibat dalam tugas akhir ini, membuat film bisa membantu kami untuk mempromosikan budaya Jawa,” imbuh mahasiswa asal kota Reog Ponorogo tersebut.

Tidak hanya berkarya dalam pembuatan film, mahasiswa PGSD UMM juga dipacu untuk menciptakan tembang dolanan. Diciptakannya tembang dolanan ini salah satu upaya PGSD UMM untuk melestarikan budaya Jawa, utamanya dalam membentuk pendidikan karakter melalui kearifan lokal.

“Selain menyesuaikan dengan kebutuhan guru SD, kami juga memacu mahasiswa PGSD untuk mengajarkan pendidikan karakter melalui kearifan lokal,” papar Dadang.

Mahasiswa menciptakan dan mengaransemen 12 tembang dolanan. Muncullah judul-judul Bekelan, Gajah ing Kebun Binatang, Aku Due Truwelu, Pitik Jago, Kupu-Kupu, Kekancan, Semut, Ojo Lali Wektu, Kucing Lemu, Jambu Lemu, Ayo Konco, dan Gunung-Gunung. “Seluruh mahasiswa menciptakan dan mengaransemen semua tembang dolanan yang akan ditampilkan nanti,” ujar Dadang. (ist)

Add Comment