Hanya Ada Lima Dalang Wayang Timplong di Dunia

foto
Dalang Wayang Timplong di Nganjuk. Foto: Netralnews.com.

Kabupaten Nganjuk, Provinsi Jawa Timur, memiliki budaya yang kaya. Budaya tersebut lahir dari perjalanan sejarah, mulai dari zaman animisme-dinamisme, kerajaan Hindu-Budha, hingga Kesultanan Islam.

Sentuhan ketiga zaman tersebut masih bisa kita lihat dari sejumlah seni budaya yang hingga kini masih bertahan, salah satunya adalah Wayang Timplong. Namun, akibat derasnya kemajuan zaman, seni budaya tersebut seperti terseok dalam persaingan dunia hiburan.

Di satu sisi, ada perasaan menjerit jika melihat situasi tersebut. Ada kekhawatiran, apakah seni budaya warga Nganjuk yang sudah berumur lebih dari satu abad itu akan punah? Betapa tidak, dalam seni Wayang Templong diperkirakan hanya tinggal lima dalang yang berusaha mempertahankannya.

Syukurlah, pemerintah pusat tidak tinggal diam. Pada 2018 Direktur Jenderal Kebudayaan Hilmar Farid berusaha mendorong agar seni daerah bangkit kembali. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Nganjuk menyambut baik niat tersebut dan mengajak masyarakatnya untuk mencintai kesenian asli mereka.

Asal usul
Berdasarkan Prasasti Anjuk Ladang di Situs Candi Lor, disebutkan bahwa pada tahun 937 M, Raja Mataram-Hindu bernama Mpu Sindok memberikan ucapan terima kasih kepada rakyat Desa Anjuk Ladang. Ucapan itu diberikan karena rakyat Desa Anjuk telah membantu berperang menghadapi serangan dari pasukan Kerajaan Sriwijaya.

Atas jasa tersebut, Mpu Sindok memberi hadiah berupa tugu kemenangan dan sima atau status desa bebas pajak atau disebut juga sebagai daerah perdikan. Dalam kalender Masehi, hadiah itu diberikan pada 10 April 937. Tanggal itu kemudian dijadikan sebagai hari lahir Kabupaten Nganjuk.

Melalui kacamata sejarah, tergambar pula bahwa wilayah Kabupaten Nganjuk bukanlah wilayah Negara Agung atau berdekatan dengan pusat pemerintahan, baik era Hindu-Budha maupun era Kesultanan Islam. Maka, kehidupan sosial dan budaya masyarakat ini cenderung bersifat egaliter atau tidak terlalu hirarkis.

Dalam hal seni budaya, kesenian rakyat seperti Jaranan Pogog, Tayub, dan Wayang Timplong, pernah tumbuh subur dan digandrungi warga Nganjuk. Selain seni budaya tersebut, masyarakat Nganjuk juga sangat menghargai tradisi ritual berbau animisme-dinamisme seperti Nyadran (tolak bala atau bersih desa) dan Syu’roan (perayaan tahun baru Islam-Jawa).

Lalu, apa hubungannya antara kesenian rakyat dan tradisi ritual berbau animisme-dinamisme serta sekaligus Islami? Jawabannya adalah bahwa seni rakyat tersebut biasanya dilangsungkan bersamaan dengan tradisi tersebut. Jadi, Wayang Timplong merupakan bagian dari ritual dan sekaligus sebagai seni pertunjukan.

Berdasarkan hasil penelitian Anjar Mukti Wibowo dan Prisqa Putra Ardany yang berjudul “Sejarah Kesenian Wayang Timplong Kabupaten Nganjuk” (2013), disebutkan bahwa kesenian tersebut pertama kali diciptakan oleh Mbah Bancol sekitar tahun 1910.

Mbah Bancol sebenarnya adalah pendatang dari Grobogan, Jawa Tengah, kemudian menetap di Desa Jetis, Kecamatan Pace. Mbah Bancol menciptakan Wayang Timplong karena terinspirasi oleh Wayang Krucil yang sangat ia sukai sejak kecil.

Namun saat ia dewasa, ia ingin menciptakan wayang yang berbeda dengan Wayang Krucil. Mbah Bancol memilih membuat wayang dari kayu pohon waru, mentaos, atau pinus yang dibuat menjadi pipih. Untuk musik iringannya, mulanya masih sederhana, yaitu terdiri dari gambang, ketuk kenong, kempul, dan kendang.

Suara yang dihasilkan dari alat musik tersebut, terdengar di telinga didominasi oleh bunyi, “Plong, plong, plong.” Oleh karena itu, masyarakatnya kemudian menyebutnya sebagai Wayang Timplong.

Wayang Timplong seringkali digolongkan sejenis dengan Wayang Krucil atau Wayang Klitik karena sama-sama terbut dari kayu. Namun, dalam Wayang Timplong, hanya ada 60 buah wayang untuk mewakili 60 tokoh yang terdiri dari orang, binatang, dan wujud senjata.

Sedangkan untuk kisah yang dimainkan oleh sang dalang, biasanya menggunakan kisah panji dan babad. Beberapa contoh judul kisah tersebut adalah “Babat Kediri”, “Asmoro Bangun”, “Panji Laras Miring”, Baru Klinthing”, dan “Damarwulan”.

Menggiatkan kembali

Dalam sebuah wawancara media di Jawa Timr pada 26 Oktober 2011, seorang dalang Wayang Timplong bernama Ki Gondo Maelan mengatakan, “Sekarang ini di Nganjuk, bahkan mungkin di seluruh dunia, hanya terdapat tidak kurang lima dalang Wayang Timplong, dan yang tertua adalah saya.”

Pernyataan Ki Gondo Maelan menjadi semacam peringatan bahwa Wayang Timplong mengalami ancaman kepunahan. Sementara itu, seorang dalang lainnya yang bernama Ki Talam mengatakan, “Ojo sampek ilang (jangan sampai hilang), Wayang Timplong itu wujudnya seperti itu.”

Pada tahun ini, harapan kedua dalang tersebut sepertinya mulai menampakan hasilnya. Direktorat Jenderal Kebudayaan menggalakkan setiap pemerintah daerah untuk menghidupkan dan menggiatkan seni daerah.

Menanggapi hal itu, Pemkab Nganjuk telah mengadakan sejumlah diskusi menggali permasalahan seputar Wayang Timplong serta menyusun program khusus yang kemudian dinamakan Pokok Pikiran Kebudayaan Daerah (PPKD) Kabupaten Nganjuk Tahun 2018.

Dari hasil diskusi pleno tim penyusun PPKD, 3 Juli 2018, yang dihadiri pula oleh Solekan, seorang dalang Wayang Timplong, serta sejumlah anggota Persatuan Perdalangan Indonesia (Pepadi), dihasilkan sejumlah kesimpulan penting.

Kesimpulan itu memuat sejumlah pokok persoalan yang dihadapi Wayang Timplong, yaitu tidak adanya regenerasi pegiat Wayang Timplong, pertunjukannya kurang menarik, musiknya sangat sederhana, dan perlu adanya manajemen pemasaran.

Sementara beberapa program yang akan dijalankan Pemkab Nganjuk antara lain membuat narasi yang menarik, pertunjukan Wayang Timplong secara periodik, perlunya program wayang masuk sekolah, serta penguatan organisasi Pepadi, terutama dalam menjalankan manajemen pemasaran. (ist/Netralnews.com)

Add Comment