Ruwatan ‘Alas Kandung’ untuk Menjaga Hutan

foto
Warga melakukan kenduri masal ritual ruwatan Alas Kandung di Rejotangan, Tulungagung. Foto: Antara Jatim/Destyan Sujarwoko.

Ratusan warga tampak bersuka cita saat mengikuti kenduri masal dan purak (rebutan) tumpeng besar berisi aneka hasil bumi dalam acara ruwatan bumi di tengah hutan lindung (alas) Kandung, Desa Tanen, Kabupaten Tulungagung.

Warga yang sudah lama mengantre langsung bersimpuh saling berhadapan dengan puluhan ambengan makanan (takir) berjajar siap hidang.

Di penghujung lokasi kenduri, sebuah tumpeng berukuran sangat besar (jumbo) berisi aneka makanan dan hasil bumi diletakkan menunggu dipurak atau diperebutkan warga.

“Tradisi ruwatan ini memang masih baru empat tahunan ini jalan. Selain menyambung tradisi yang sudah lama tenggelam, kami ingin membangun kesadaran bersama warga dan pengunjung untuk mencintai dan melestarikan alam Kandung agar tetap rimbun dan memberi sumber (air) kehidupan sepanjang masa,” kata tokoh warga Desa Tanen, Suhasto dikonfirmasi Antara Jatim usai acara.

Nyadran atau ritual sedekah itu diharap warga mampu menjauhkan segala bencana ke Desa Tanen, pemukiman yang terletak persis di bawah hutan lindung perbatasan Tulungagung bagian timur-selatan dengan wilayah Kabupaten Blitar itu.

Kegiatan sengaja digelar di dekat telaga dan sumber air Kandung yang jernih, karena dianggap menjadi cikal bakal kelestarian dan kemakmuran penduduk desa setempat.

“Sungguh tidak terbayang andai hutan rusak dan sumber air mati. Warga Tanen akan sangat kesulitan,” ujarnya.

Selain menghidupkan lagi tradisi sedekah bumi yang sempat tenggelam karena pertentangan/gesekan budaya, ritual tahunan dengan kemasan purak tumpeng dan kenduri masal tersebut diharapkan juga bisa menarik wisatawan.

Menurut Suhasto maupun sejumlah pemuda desa Tanen, selama ini objek wisata Alas Kandung yang memiliki air terjun indah kurang mendapat perhatian daerah maupun perhutani selaku pemangku wilayah.

“Pelan-pelan nilai-nilai luhur budaya khas daerah kami lestarikan lagi. Selain menjaga kearifan lokal dan menjaga kelestarian alam, ritual budaya ini tentu menarik dari sisi pariwisata,” kata Dedi, pemuda Desa Tanen menimpali.

Menariknya, tekad warga Tanen menghidupkan kembali budaya ruwatan Alas Kandung yang sudah ada sejak beratus tahun itu diinisiasi para pemuda Desa Tanen dengan cara patungan atau swadaya. Tidak ada bantuan uang sepeserpun dari desa, perhutani apalagi pemerintah daerah. (ant)

Add Comment