Gerakan Seniman Masuk Sekolah 2018 Dimulai

foto
Dirjen Kebudayaan Hilmar Farid membuka ‘Gerakan Seniman Masuk Sekolah. Foto: Kemendikbud.

Gerakan Seniman Masuk Sekolah (GSMS) Tahun 2018 resmi dimulai. Ditandai dengan pelaksanaan Lokakarya Gerakan Seniman Masuk Sekolah, yang dibuka secara resmi Dirjen Kebudayaan Kemendikbud Hilmar Farid, di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Pada tahun ke-2 pelaksanaan GSMS, sebanyak 1.320 seniman dari bidang seni tari, musik, teater, seni sastra, seni rupa, dan seni media ikut serta terlibat dalam gerakan ini.

Para seniman akan terjun langsung ke sekolah-sekolah di 28 provinsi, untuk mengenalkan dan mengajarkan kesenian kepada peserta didik sesuai dengan bidangnya.

Dihadapan para perwakilan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan dari 28 provinsi serta para seniman, Hilmar Farid menegaskan kembali tujuan utama dari Gerakan Seniman Masuk Sekolah, yaitu memperluas akses peserta didik terhadap kegiatan berkesenian.

“Pendidikan seni di Indonesia tidak merata, ada sekolah-sekolah yang sangat maju, punya guru kesenian, ekskul, dan seterusnya. Tapi ada sekolah-sekolah yang tidak punya akses. Tujuan utama adalah memperluas akses pelajar dalam kegiatan-kegiatan artistik melalui gerakan ini,” tegas Hilmar Farid.

Gerakan Seniman Masuk Sekolah berfokus pada pembelajaran kesenian oleh seniman di luar jam pelajaran atau kegiatan ekstrakurikuler di satuan pendidikan SD, SMP, SMA dan SMK. Pembelajaran berlangsung selama 30 hari, dengan waktu belajar tiap pertemuan 2 jam.

Hilmar Farid juga mengingatkan bahwa gerakan ini bukan bermaksud menjadikan anak-anak menjadi seniman, namun lebih dari itu, agar anak-anak dapat mengekspresikan diri dengan bahasa artistik.

“Bapak Ibu juga punya tugas memperkenalkan kehidupan seni itu sebenarnya seperti apa, sehingga ketika anak-anak mempunyai pilihan sudah dengan pengetahuan cukup,” ujarnya.

Melalui program GSMS seniman juga memiliki ruang untuk berperan serta dalam dunia pendidikan. Pengajaran kesenian bukan sekadar untuk mengenali proses kreatif dalam seni, lebih dari itu.

Menjadikan kesenian sebagai wahana penguatan karakter melalui pemahaman dan penyerapan nilai-nilai positif selama program pembelajaran.

Semakin banyaknya seniman yang ingin terlibat dalam gerakan ini menjadi tantangan tersendiri bagi tim perumus GSMS.

Deni Hadiansah, seorang sastrawan dari Jawa Barat, yang juga anggota tim perumus menyampaikan, tim harus menyeleksi lebih dari 1.800 seniman yang mendaftarkan dirinya lewat daring (online).

Selain itu, penempatan seniman pun harus di lokasi yang tepat, sesuai petunjuk teknis program GSMS. “Tahun ini seniman didampingi asisten (seniman) di masing-masing sekolah, jadi menjembatani antara pihak seniman dan sekolah,” ujar Deni.

Pada akhir program, para peserta didik akan mementaskan pertunjukan atau pameran hasil belajar untuk memberikan ruang dan kesempatan agar hasil pembelajaran mereka dapat diapresiasi oleh masyarakat. (sak)

Add Comment