Pentingnya Visualisasi Agar Sejarah Menarik

foto
Visualisasi sejarah di Museum Tugu Pahlawan. Foto: Ulinulin.com.

Timur Lawu adalah komunitas Nirlaba yang bergerak dalam bidang penyadaran serta penguatan identitas kebudayaan, sejarah, lingkungan, dan sosial.

Tujuannya adalah menjaga kelestarian alam dan budaya yang ada di dalamnya untuk masa depan yang lebih baik. Komunitas itu didirikan alumni Ilmu Sejarah Universitas Airlangga (Unair) Surabaya.

Bertempat di Auditorium Museum 10 November di Jalan Pahlawan Kota Surabaya, komunitas tersebut mengadakan kegiatan bertema ‘Lokakarya Visualisasi Sejarah’.

Sejumlah pakar sejarah dihadirkan. Misalnya, Ikhsan Rosyid, sejarawan Unair; Rojil Nugroho Bayu Aji, sejarawan Unesa; Ayos Purwoaji, penulis dan kurator; serta Yogi Ishabib videografer dan filmaker.

Kegiatan itu dihadiri 39 peserta dari berbagai macam latar belakang. Di antaranya, pelajar, mahasiswa, karyawan, peneliti, dan pegiat kebudayaan.

Sebelum memulai kegiatan, Ardi selaku anggota komunitas mengajak seluruh peserta mengelilingi Museum Tugu Pahlawan. Hal itu bertujuan peserta memndapatkan gambaran maket, patung, dan infografis tentang sejarah di Surabaya.

”(Sambil menunjuk gambar) Ini Oude Centrale Burgerlijke Ziekeninrichting (Rumah Sakit Simpang, Red) sebuah rumah sakit yang paling tua di Surabaya. Pada tahun 1945, pernah menjadi saksi bisu pertempuran 10 November,” katanya, melalui PIH Unair.

Berikutnya, dalam sambutannya, Rian salah seorang founder (pendiri) komunitas tersebut mengatakan banyak yang menganggap sejarah saat ini sangat membosankan. Dengan mengikuti kegiatan ini, pandangan tersebut diharapkan bisa sedikit berubah.

”Sekaligus membantu ilmu kita untuk bisa menyesuaikannya dengan zaman. Agar sejarah tidak lagi membosankan dan menarik untuk semua khalayak,” tuturnya.

Acara dilanjutkan dengan materi yang disampaikan Ikhsan Rosyid. Dosen mata kuliah pengantar teknologi infomasi itu memberikan paparan berjudul ‘Pentingnya Visualisasi Sejarah’.

Bagi dia, sejarah tidak hanya mengenai sebuah peristiwa yang direkonstruksi menjadi sebuah tulisan. Namun, sejarah juga ditujukan untuk bisa digambarkan melalui media visual.

”Hari ini kita akan belajar bagaimana output (luaran, Red) sejarah bukan lagi tulisan. Akan tetapi visual. Dengan syarat, tetap menggunakan metode sejarah seperti heuristik (pengumpulan sumber), verifikasi (kritik sumber), interpretasi (penulisan), dan historiografi (penulisan sejarah),” ungkapnya.

Di sisi lain, memberikan materi berjudul ‘Memasyarakatkan Sejarah Melalui Visualisasi Sejarah’, Rojil menjelaskan tantangan sejarah pada masa depan.

Meliputi minat dan ketertarikan terhadap sejarah; perkembangan serta kemajuan teknologi, informasi, dan komunikasi; serta menjadikan sejarah menjadi sebuah kajian akademis dan media edukasi yang menyenangkan bagi siapa saja.

Menurut Rojil, bentuk visualisasi sejarah terbagi menjadi tiga hal. Yakni, film (movie) yang merupakan serangkaian gambar diam, yang ketika ditampilkan pada layar akan menciptakan ilusi gambar bergerak.

Soal itu, Rojil membaginya lagi menjadi dua macam. Yaitu, film dokumenter yang mengisahkan kehidupan seseorang dan kejadian nyata serta film sejarah yang merekonstruksi peristiwa sejarah yang syarat akan perdebatan objektif dan subjektif.

Kemudian, fotografi, yakni suatu proses atau metode menghasilkan gambar atau foto dari objek dengan merekam pantulan cahaya yang mengenai objek tersebut di media yang peka cahaya. Dan, terakhir adalah infografik. Yakni, representasi visual informasi atau data atau ilmu pengetahuan secara grafis dengan keterangan gambar yang singkat dan jelas.

Sementara itu, di temui pada sela-sela acara, Yehuda Abiel mengungkapkan sangat senang dan turut mendukung kegiatan tersebut. Bagi dia, mengemas sejarah Indonesia agar bisa dikonsumsi Kids Jaman Now (pemuda sekarang) perlu didorong. Sebab, sejarah sangat penting.

”Contohnya kalau bilang NKRI harga mati, kita tidak harus ikut berperang, tapi mengikuti kegiatan seperti ini. Hal itu merupakan salah satu wujud nyata kita dalam merealisasikan anggapan tersebut,” ujar staf perpustakaan di salah satu kampus swasta di Surabaya itu.

Perlu diketahui, acara De Grote Postweg tersebut adalah serangkaian kegiatan Komunitas Timur Lawu kepada masyarakat untuk mengenalkan warisan budaya dan sejarah di sepanjang Jalan Pos Daendels Jawa Timur.

Kegiatannya, antara lain, Lokakarya Visualisasi Sejarah pada Minggu (29/7); Jelajah Sejarah Jalan Pos Pantai Utara Jawa Timur Sabtu–Minggu (11–12/8); Lomba Fotografi dan Video Rabu–Jum’at (1–3/8); Pameran Foto dan Video Sabtu–Sabtu (6–13/10); dan Seminar Sejarah Kamis (15/11). Acara itu didanai Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. (sak)

Add Comment